JAKARTA -- Beberapa saat lalu dalam keterangan persnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian membeberkan sejumlah nama pejabat yang jadi target pembunuhan, di antaranya adalah Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, Kepala BIN Budi Gunawan dan Staf Khusus Presiden Gories Mere. Selain itu, beber Tito, pengancam juga menargetkan pimpinan lembaga survei.

Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan bahwa ancaman tersebut hanya sebatas omongan saja.

“Saya rasa ndaklah. Masa sebagai bangsa, mungkin ngomong aja tuh. Ya biasa lah, “ntar gua gebukin lo”, kan belum tentu digebukin. Begitu kan?," ujar Ryamizard di Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019).

Tanggapan Ryamuzard yang terasa menyejukkan diapresiasi oleh Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies, Muhammad Tri Andika. Di tengah suhu politik yang kian memanas, sikap dan pandangan mantan Danjen Kopassus itu dianggap sebagai penyejuk.

“Langkah ini patut diapresiasi. Ini statement yang menyejukkan di tengah situasi politik yang tidak kunjung reda,” ujar pengamat politik ini 

Andika ketika diwawancarai di Jakarta, Jumat (31/5/2019), menyarankan agar semua pihak dapat menahan diri, khususnya para penyelenggara negara. Sebab pernyataan dan sikap para penyelenggara negara berkaitan langsung pada tingkat kepercayaan masyarakat.

Selain itu, ia juga menyinggung tentang besarnya jumlah tarikan tunai masyarakat yang telah mencapai Rp 185 triliun.

“Hingga hari ini tercatat masyarakat melakukan tarik tunai hingga Rp185 triliun. Hal ini bukan semata-mata hanya karena berdekatan dengan lebaran dan faktor libur panjang. Saya menilai adanya kekhawatiran masyarakat terkait kondisi perpolitikan yang tidak kunjung reda, Ditambah statement yang menakutkan dari beberapa penyelenggara negara. Maka saya katakan, pernyataan Pak Menhan yang menyejukkan patut diapresiasi,” jelasnya.

Kembali ke soal isu pembunuhan beberapa pejabat, ia mengatakan bahwa niat Kapolri dan jajarannya dalam mengungkap adanya dugaan rencana pembunuhan tersebut sebenarnya baik, agar masyarakat mendapat informasi seutuhnya. Namun waktu penyampaiannya dirasakan kurang tepat.

“Saya yakin niatnya baik, hanya timingnya kurang pas. Saya harap para penyelenggara negara bisa memilah apa yang harus disampaikan dan apa yang tidak. Saat ini sebagian besar masyarakat memfokuskan perhatiannya pada proses MK. Apakah gugatan Prabowo Sandi diterima atau tidak. Jika diterima bagaimana? Jika tidak bagaimana? Ini saja sudah membuat kekhawatiran di masyarakat. Penarikan uang tunai secara besar tadi saya kira jangan dianggap remeh” bebernya.

Ketika ditanya prediksinya tentang gugatan Prabowo Sandi ke MK, Andika mengatakan agar menyerahkan semua keputusan kepada Hakim MK. Namun dirinya berharap agar gugatan tersebut diterima.

“Mari kita serahkan kepada Hakim MK. Namun saya berharap gugatan tersebut dapat diterima, agar banyak hal yang menjadi misteri selama ini dapat terungkap. Seperti dugaan 17,5 juta (Daftar Pemilih Tetap/DPT) bermasalah, tidak sinkronnya situng KPU, keberpihakan banyak kepala daerah yang cukup massif, serta banyak hal lainnya. Masyarakat juga menunggu apa sebenarnya kebenaran tentang poin-poin tersebut. Ini bukan serta merta tentang 01 atau 02, namun ini tentang mengungkap banyaknya misteri yang menjadi perbincangan di ruang publik” tutup Andika. 

(mon/beb)
 
Top