DALAM peta politik Provinsi Lampung dan nasional, nama Chusnunia Chalim, S.H., M.Si., M.Kn., Ph.D.—atau yang akrab disapa Nunik—merupakan salah satu ikon politisi perempuan paling berprestasi. Putri pertama dari pasangan ulama KH Abdul Halim dan Kholisoh ini memiliki rekam jejak kepemimpinan yang sangat lengkap, mulai dari parlemen pusat, kepala daerah, hingga menduduki kursi Wakil Gubernur Lampung periode 2019–2023.
Lahir di Desa Karang Anom, Waway Karya, Lampung Timur pada 12 Juli 1982, Nunik tumbuh menjadi politisi handal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia dikenal luas berkat kombinasi antara latar belakang santri yang kuat, kapasitas akademis kelas dunia, dan gaya kepemimpinan yang merakyat serta inovatif.
Berkelana Menuntut Ilmu: Dari Pesantren hingga Gelar Doktor di Malaysia
Nunik adalah cerminan tokoh muda yang sangat haus akan ilmu. Masa remajanya dihabiskan dengan menimba ilmu agama di Pesantren Al Hidayat (Lasem, Rembang) dan Pesantren Al Ishom (Mayong, Jepara).
Selepas meraih gelar S1 Hukum Ekonomi Syariah dari IAIN Walisongo Semarang pada 2005, ia hijrah ke ibu kota dan sukses mengantongi dua gelar master sekaligus: Magister Ilmu Politik dari Universitas Nasional (2011) dan Magister Kenotariatan dari Universitas Indonesia (2014).
Tak berhenti di situ, ia juga meraih gelar Sarjana Hukum (S1) dari Universitas Sang Bumi Rawa Jurai pada 2020 serta menuntaskan pendidikan tertinggi Strata-3 (S3) hingga merengkuh gelar Doktor (Ph.D.) dari universitas top di Asia Tenggara, Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Karier Politik Melesat dari Parlemen ke Eksekutif
Kiprah Nunik di PKB dimulai dari bawah sejak tahun 2004 di Jawa Tengah. Bakat kepemimpinannya yang menonjol membuatnya ditarik ke pusat untuk menjadi Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Koordinator Zona di Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal pada tahun 2007.
Karier politiknya kian mengilap di tingkat nasional ketika ia sukses terpilih sebagai Anggota DPR RI selama dua periode berturut-turut (2009–2014 dan 2014–2019). Di Senayan, ia bahkan dipercaya menjadi bagian dari delegasi parlemen Indonesia untuk ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) pada tahun 2012.
Terobosan Manis di Lampung Timur dan Kursi Wakil Gubernur
Pada tahun 2016, Nunik mencetak sejarah dengan pulang kampung untuk memimpin sebagai Bupati Lampung Timur. Di sinilah sentuhan inovatifnya terlihat nyata. Sebagai bupati, ia sukses mempromosikan Lampung Timur ke kancah internasional melalui sektor pariwisata.
Ia sangat menaruh perhatian pada kelestarian alam, terbukti dengan lahirnya enam anak gajah di Taman Nasional Way Kambas selama dua tahun pertama masa jabatannya. Gaya kepemimpinannya yang cair dan dekat dengan rakyat juga tercermin saat ia tak segan memimpin langsung berbagai festival budaya lokal, termasuk ikut serta dalam perlombaan rakyat yang ikonik.
Keberhasilan di Lampung Timur membawanya melangkah lebih jauh. Pada Pilgub Lampung 2018, ia dipinang oleh Arinal Djunaidi untuk maju sebagai Wakil Gubernur Lampung. Menolak berbagai pinangan lain, Nunik mantap berpasangan dengan Arinal karena kesamaan visi: sesama anak petani yang berkomitmen penuh memajukan sektor pertanian dan menyejahterakan para petani di Bumi Ruwa Jurai. Pasangan ini kemudian resmi memimpin Lampung sejak 12 Juni 2019 hingga Oktober 2023.
Transparansi Kinerja dan Finansial
Sebagai pejabat publik, Nunik juga dikenal patuh dalam pelaporan instrumen transparansi negara. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), total kekayaannya tercatat berada di angka Rp 10,1 miliar pada tahun 2020, dan mengalami pertumbuhan yang sehat sebesar 20% pada tahun berikutnya menjadi Rp 12,2 miliar, dengan dominasi penempatan aset pada kas dan setara kas yang likuid.
Dengan kematangan usia, rekam jejak birokrasi yang bersih, serta modal akademis yang luar biasa, Chusnunia Chalim tetap menjadi salah satu aset pemimpin perempuan terbaik yang dimiliki Lampung dan Indonesia dalam menyongsong masa depan politik yang lebih inklusif.
#wkp/ede

