Perspektif Psikologi Terapan
Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag | Dosen UIN Jurai Siwo Mego
FENOMENA “war” bimbingan belajar (bimbel) menunjukkan bahwa pendidikan tambahan telah menjadi bagian dari pilihan banyak keluarga. Berbagai lembaga bimbel berlomba menawarkan program, tryout, potongan harga, jaminan keberhasilan, hingga narasi tentang sekolah dan perguruan tinggi impian.
Berdasarkan perspektif psikologi terapan, kondisi ini menarik karena keputusan orang tua tidak selalu didasarkan pada kebutuhan akademik anak semata. Promosi, citra lembaga, testimoni, reputasi, dan keberhasilan peserta didik lain dapat membentuk persepsi dan memengaruhi keputusan pembelian jasa pendidikan. Karena itu, fenomena bimbel perlu dilihat bukan hanya sebagai persoalan pendidikan, tetapi juga sebagai proses psikologis ketika orang tua memilih sebuah layanan yang dianggap dapat menjamin masa depan anak.
Promosi dan Pembentukan Persepsi Orang Tua
Dalam psikologi konsumen, keputusan seseorang dipengaruhi oleh bagaimana informasi diterima dan dipersepsikan. Kotler, Keller, dan Chernev (2022) menjelaskan bahwa keputusan konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, termasuk persepsi, motivasi, dan proses evaluasi terhadap pilihan yang tersedia. Dalam konteks bimbel, promosi tidak sekadar menyampaikan informasi mengenai program belajar. Promosi juga membangun persepsi tentang keberhasilan.
Ketika sebuah lembaga menampilkan banyak siswa berprestasi, testimoni orang tua, tingkat kelulusan, atau keberhasilan masuk sekolah favorit, konsumen dapat membentuk kesimpulan bahwa lembaga tersebut memiliki peluang lebih besar untuk membawa anak menuju keberhasilan. Di sinilah “social proof” bekerja.
Cialdini (2021) menjelaskan bahwa seseorang cenderung menggunakan perilaku orang lain sebagai petunjuk mengenai tindakan yang dianggap tepat, terutama ketika menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian. Bagi orang tua, pendidikan merupakan keputusan yang memiliki konsekuensi besar. Ketika melihat banyak keluarga memilih suatu bimbel, muncul persepsi bahwa pilihan tersebut aman dan layak diikuti.
Promosi dan Kecemasan Pendidikan
Promosi bimbel dapat menjadi semakin kuat ketika bertemu dengan kecemasan orang tua mengenai masa depan anak. Narasi seperti “jangan sampai tertinggal”, “persiapkan sejak dini”, atau “raih sekolah impian” dapat menyentuh kebutuhan psikologis orang tua untuk memastikan anak memperoleh kesempatan terbaik. Masalahnya, kecemasan dapat membuat keputusan menjadi kurang objektif. Orang tua dapat membeli layanan bukan karena anak benar-benar membutuhkannya, tetapi karena takut anak kalah dibandingkan teman sebaya.
Penelitian mengenai private tutoring menunjukkan bahwa tekanan kompetitif orang tua dapat mendorong peningkatan investasi keluarga pada pendidikan tambahan. Dalam kondisi demikian, bimbel dapat berkembang menjadi bagian dari budaya kompetisi pendidikan.
Islam mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan. Allah SWT berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” QS. Al-A’raf: 31. Meskipun ayat tersebut berbicara dalam konteks konsumsi secara umum, prinsipnya dapat menjadi pengingat bahwa keputusan konsumsi, termasuk jasa pendidikan, perlu dilakukan secara proporsional dan berdasarkan kebutuhan.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” HR. Bukhari dan Muslim. Dalam konteks pendidikan, pesan ini relevan untuk mengingatkan bahwa keputusan orang tua memilih bimbel sebaiknya berangkat dari niat dan kebutuhan pendidikan anak, bukan semata-mata gengsi atau tekanan lingkungan.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa promosi bimbel pada dasarnya merupakan bagian wajar dari mekanisme pasar. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya promosi, tetapi bagaimana promosi tersebut membentuk persepsi dan keputusan orang tua. Orang tua perlu menjadi konsumen pendidikan yang kritis. Sebelum membeli layanan bimbel, perlu dipertimbangkan kebutuhan akademik anak, kualitas pengajar, metode pembelajaran, beban belajar, biaya, serta manfaat nyata bagi perkembangan anak.
Di sisi lain, lembaga bimbel memiliki tanggung jawab etis untuk melakukan promosi secara jujur dan tidak mengeksploitasi kecemasan orang tua. Pendidikan bukan komoditas yang keberhasilannya dapat dijamin hanya melalui sebuah program atau lembaga. Bimbel dapat menjadi mitra pendidikan, tetapi bukan pengganti sekolah maupun keluarga.
Yang perlu dibangun bukan budaya “takut tertinggal”, melainkan budaya “memilih berdasarkan kebutuhan”. Dengan demikian, keputusan orang tua untuk menggunakan bimbel benar-benar menjadi investasi pendidikan bagi anak, bukan sekadar respons terhadap tekanan promosi dan kompetisi sosial. (*)


