Cerpen Heri Isnaini
SUDAH begitu lama hutan menyebutnya raja sehingga Singa sendiri lupa kapan pertama kali gelar itu disematkan kepadanya. Ia tidak pernah mengenakan mahkota, tidak pernah duduk di atas singgasana, bahkan tidak pernah memiliki tempat yang secara khusus disebut istana. Ia hanya tinggal di sebuah gua di balik bukit batu, sebagaimana singa-singa lain tinggal di tempat yang mereka anggap aman, tetapi entah bagaimana seluruh penghuni hutan telah sepakat bahwa gua itu adalah pusat dari segala sesuatu. Setiap kali Singa mengaum, burung-burung terbang meninggalkan dahan, kawanan rusa mengubah arah perjalanan, monyet-monyet menghentikan pertengkaran, dan binatang-binatang kecil memilih bersembunyi di balik semak sampai suara itu benar-benar lenyap.
Pada tahun-tahun pertama, Singa menikmati keadaan tersebut. Ia menyukai bagaimana hutan mendadak menjadi sunyi ketika ia berjalan, bagaimana para penghuni hutan memberikan jalan, dan bagaimana tidak ada seekor pun binatang yang berani mempertanyakan keputusannya. Ia merasa besar bukan hanya sebab tubuhnya, tetapi sebab ketakutan yang tumbuh di sekeliling tubuh itu. Namun, sebagaimana segala sesuatu yang pada mulanya terasa seperti kehormatan, menjadi raja lama-lama berubah menjadi pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.
Ketika serigala memasuki wilayahnya, ia harus mengusirnya. Ketika kawanan hyena merebut makanan dari binatang yang lebih lemah, ia harus turun tangan. Ketika dua kelompok monyet bertengkar memperebutkan pohon buah, mereka datang kepadanya untuk meminta keputusan. Bahkan ketika tidak terjadi apa-apa, ia tetap harus tampak seperti Singa yang selama ini mereka kenal: kuat, berani, tidak mengenal takut, dan selalu siap mengaum jika diperlukan. Yang tidak pernah dipahami binatang-binatang itu adalah bahwa menjadi kuat terus-menerus membuat seseorang kehabisan tenaga.
Ada pagi-pagi ketika Singa hanya ingin berjalan tanpa seorang pun menoleh kepadanya. Ada sore ketika ia ingin duduk di bawah pohon dan mendengarkan suara air tanpa harus mengetahui siapa yang sedang bertengkar di hulu sungai. Bahkan pada malam hari, ketika seluruh hutan telah tidur, ia sering terbangun hanya sebab mendengar suara langkah di luar guanya dan bertanya-tanya apakah ada lagi persoalan yang harus diselesaikannya sebelum matahari terbit.
Ia mulai merasa bahwa seluruh hutan membutuhkan seekor Singa, tetapi tidak seorang pun membutuhkan dirinya. Suatu pagi, ketika kabut masih menggantung rendah di antara pepohonan, ia berjalan lebih jauh dari biasanya. Jalan yang ditempuhnya menuju bagian hutan yang jarang dilewati binatang besar sebab di sana banyak jejak manusia dan bau besi yang samar-samar tertinggal di tanah. Ia mengetahui bahwa pemburu sering datang ke tempat itu. Ia juga tahu bahwa perangkap mereka tidak pernah benar-benar hilang, bahkan setelah manusia pergi.
Di antara semak belukar, ia melihat seutas tali yang hampir tertutup daun kering. Singa berhenti. Ia tahu apa yang berada di hadapannya. Naluri yang telah menyelamatkan hidupnya berkali-kali menyuruhnya berbalik. Namun, pagi itu sesuatu di dalam dirinya terasa lebih kuat daripada naluri untuk bertahan. Ia membayangkan guanya, hutan yang selalu memanggilnya raja, binatang-binatang yang selalu mengharapkan kekuatan darinya, dan kehidupan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk mengatakan bahwa ia sudah lelah.
Kemudian ia melangkahkan kaki ke depan. Jaring itu terangkat dengan cepat. Tubuhnya terjerat. Ia sempat menggeram ketika tali mengikat bagian kaki dan tubuhnya, tetapi setelah beberapa saat ia berhenti meronta. Jaring itu bergoyang di antara pepohonan, sementara cahaya matahari jatuh melalui sela-sela daun dan membentuk bayangan bergerak di atas tubuhnya.
Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada suara binatang yang meminta pertolongan. Tidak ada mata yang menunggu keberaniannya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Singa tidak harus menjadi siapa-siapa. Ia hanya tergantung di dalam jaring. Anehnya, keadaan itu terasa seperti kebebasan.
Seekor tikus menemukan Singa menjelang siang. Ia sedang mencari sisa makanan di sekitar akar pohon ketika mencium bau manusia. Tubuh kecilnya segera berhenti bergerak. Ia terbiasa menghindari tempat-tempat seperti itu, sebab manusia tidak pernah membawa sesuatu yang baik bagi makhluk seukurannya. Namun, rasa ingin tahu membuatnya mengikuti jejak tersebut hingga menemukan jaring yang menggantung di antara pepohonan yang di dalamnya terdapat Singa.
Tikus bersembunyi di balik akar dan mengamati cukup lama. Ia mengenal Singa sebagaimana seluruh penghuni hutan mengenalnya. Singa adalah makhluk yang tidak boleh didekati, apalagi ketika sedang lapar. Ia masih mengingat suatu sore ketika dirinya hampir menjadi santapan setelah tanpa sengaja memasuki wilayah gua. Ia selamat bukan sebab keberanian, melainkan sebab Singa saat itu sedang kenyang.
Tikus tidak pernah melupakan pengalaman tersebut. Sebab itu, ia tidak segera mendekat. Akan tetapi, setelah mengamati beberapa saat, ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Singa tidak berusaha melepaskan diri. Tidak ada gerakan liar, tidak ada auman panjang yang biasanya membuat seluruh hutan bergetar. Ia hanya diam, seolah-olah jaring tersebut bukan sesuatu yang perlu dilawannya.
Tikus keluar perlahan dari balik akar. Ia mendekati perangkap. Di sepanjang hidupnya, ia telah belajar bahwa benda-benda besar tidak selalu sulit dihancurkan. Sebuah tali yang kuat bagi tubuhnya hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk digigit. Ia melihat simpul yang mengikat jaring, kemudian memandang Singa yang masih diam. Dalam kepalanya muncul sebuah kemungkinan yang mula-mula terasa kecil.
Jika ia membebaskan Singa, seluruh hutan akan tahu bahwa seekor Tikus telah menyelamatkan raja. Ia membayangkan bagaimana rusa akan memandangnya, bagaimana kelinci tidak lagi mengusirnya dari tempat makanan, bagaimana monyet mungkin berhenti menertawakan tubuh kecilnya. Selama ini ia hidup dengan perasaan bahwa ukuran tubuhnya adalah alasan mengapa tidak seorang pun menganggapnya penting. Barangkali kesempatan itu telah datang dalam bentuk jaring.
Ia mulai menggigit tali. Tidak ada niat mulia yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Yang ada hanyalah keinginan yang selama ini terlalu kecil untuk diakui: keinginan untuk diperhitungkan. Tali pertama putus. Singa tetap diam. Tali berikutnya mulai terurai. Tikus terus menggigit sampai akhirnya jaring itu kehilangan kekuatannya dan tubuh Singa jatuh ke tanah. Debu beterbangan. Daun-daun kering bergerak di bawah tubuhnya.
Singa berdiri perlahan. Ia memandang Tikus, tetapi tidak menunjukkan rasa terkejut ataupun rasa berutang budi. Tikus menunggu ucapan terima kasih yang tidak pernah datang. Yang datang justru tatapan panjang, seolah-olah Singa sedang berusaha memahami mengapa seekor makhluk sekecil itu bersedia mendekatinya.
Kemudian Singa pergi. Tikus tetap berdiri di tempatnya. Pada saat itulah ia menyadari bahwa mungkin ia telah menyelamatkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin diselamatkan. Tetapi kesadaran itu tidak membuatnya mundur.
Kabar tentang kejadian tersebut menyebar lebih cepat daripada yang diperkirakan Tikus. Ia sendiri tidak perlu menceritakannya terlalu banyak. Seekor kelinci melihatnya meninggalkan tempat perangkap. Seekor burung mendengar percakapannya dengan beberapa tikus lain. Monyet-monyet kemudian menambahkan bagian yang tidak pernah terjadi, seperti mengatakan bahwa Tikus mempertaruhkan nyawanya di bawah cakar Singa, bahwa ia menggigit jaring ketika para pemburu masih berada di sekitar tempat itu, dan bahwa Singa hampir mati jika Tikus tidak datang.
Tidak ada yang memeriksa kebenarannya. Cerita yang baik memang tidak membutuhkan pemeriksaan dan tidak juga mengharuskan adanya validasi. Dalam waktu singkat, Tikus berubah dari makhluk kecil yang sering diusir dari tempat makanan menjadi binatang yang mulai disapa dengan penuh penghormatan. Bahkan ketika berjalan melewati kawanan rusa, ia tidak lagi harus menepi. Beberapa binatang mulai memintanya menceritakan kembali bagaimana ia menyelamatkan Singa, dan setiap kali kisah itu diceritakan ulang, keberanian Tikus menjadi semakin besar, sementara ukuran jaring dan bahaya yang dihadapinya semakin mengerikan.
Tikus tidak pernah meluruskan cerita tersebut. Ia menikmati setiap bagian yang membuat dirinya tampak penting. Lebih dari itu, ia mulai memahami sesuatu yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya: kekuasaan tidak selalu dimulai dari kekuatan. Kadang-kadang ia tumbuh dari cerita tentang siapa yang berjasa. Singa masih disebut raja, tetapi kini ada satu nama lain yang mulai disebut bersamanya. Tikus.
Sementara itu Singa kembali ke guanya. Ia tidak marah ketika mendengar bagaimana peristiwa tersebut diceritakan oleh seluruh hutan. Ia justru merasa sedikit geli ketika mendengar bahwa dirinya hampir mati dan hanya Tikus yang mampu menyelamatkannya. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tidak merasa perlu membantah.
Bukankah selama bertahun-tahun ia sendiri hidup dari cerita yang dibuat orang lain tentang dirinya? Mereka menyebutnya kuat ketika ia sedang lelah. Mereka menyebutnya berani ketika sebenarnya ia takut. Mereka menyebutnya raja ketika ia tidak pernah meminta menjadi raja. Kini Tikus melakukan hal yang sama. Ia menciptakan dirinya sendiri melalui cerita.
Beberapa hari kemudian Tikus datang ke gua. Tubuh kecilnya tampak lebih tegap daripada sebelumnya. Ia tidak lagi berhenti beberapa langkah dari pintu masuk sebagaimana yang biasa dilakukan binatang-binatang kecil. Ia berdiri di hadapan Singa dengan keyakinan seseorang yang mulai merasa memiliki tempat di dunia.
Ia berbicara panjang tentang keadaan hutan, tentang perlunya perubahan, tentang binatang-binatang kecil yang selama ini tidak pernah mendapatkan kesempatan, dan tentang bagaimana seekor pemimpin seharusnya mendengarkan mereka yang berada di bawahnya.
Singa mendengarkan sampai selesai. Ia tidak membantah satu pun. Kemudian ia memandang Tikus dengan tenang dan mengatakan bahwa mungkin sudah waktunya hutan memiliki pemimpin baru. Tikus terdiam. Ia datang dengan dugaan bahwa Singa akan mempertahankan kekuasaannya, tetapi yang ditemuinya justru seekor binatang yang tampaknya telah lama menunggu seseorang datang mengambil beban tersebut dari pundaknya.
“Aku sudah terlalu lama disebut raja,” kata Singa. “Padahal aku tidak pernah memiliki mahkota.” katanya kemudian. Setelah itu, ia berjalan keluar dari guanya dan meninggalkan Tikus sendirian. Tidak ada pertarungan. Tidak ada perebutan kekuasaan. Tidak ada kemenangan yang patut dirayakan. Hanya perpindahan sebuah beban dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Dari tubuh kuat Singa ke tubuh kecil Tikus
Pada awalnya Tikus menikmati kehidupan barunya. Ia tidak lagi harus bersembunyi ketika berjalan melewati hutan. Binatang-binatang yang dahulu menganggapnya tidak penting kini menunggu pendapatnya. Ia duduk di atas batu yang dijadikan singgasana dan mulai membuat aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan penghuni hutan.
Namun, semakin lama ia duduk di sana, semakin banyak aturan yang dibuatnya. Ia mulai meminta burung-burung memberitahukan siapa saja yang membicarakannya. Ia melarang binatang besar berjalan terlalu dekat dengan wilayahnya. Ia meminta kelinci datang setiap pagi untuk menunjukkan bahwa mereka masih menghormatinya. Ia mulai menganggap ketidakhadiran sebagai penghinaan dan perbedaan pendapat sebagai ancaman.
Tanpa disadarinya, Tikus mulai menjadi seperti Singa yang dahulu ingin ia gantikan. Hanya saja, ia tidak mempunyai suara yang cukup keras untuk mengaum. Maka ia menggunakan rasa takut. Malam-malamnya menjadi semakin panjang. Ia tidak lagi tidur di lubang kecil yang hangat di bawah akar pohon, melainkan di tempat yang terbuka agar semua binatang tahu bahwa rajanya tidak bersembunyi. Ia mulai ditemani penjaga, tetapi semakin banyak penjaga yang berada di sekelilingnya, semakin ia merasa tidak aman.
Pada suatu malam, setelah seluruh hutan sunyi, Tikus turun dari singgasananya. Mahkota kecil yang terbuat dari ranting masih menempel di kepalanya. Ia memandang batu tempat ia duduk setiap hari dan tiba-tiba merasa bahwa benda itu tidak lebih dari sebuah tempat tinggi yang membuatnya semakin jauh dari semua orang. Ia teringat lubang kecil di bawah akar pohon, tempat ia dahulu tidur tanpa perlu mengetahui siapa yang sedang membicarakannya. Untuk pertama kalinya ia merindukan kehidupan yang dulu ingin ditinggalkannya.
Beberapa hari kemudian ia menemukan Singa di bawah pohon tua di bagian hutan yang jauh dari wilayah kekuasaan. Singa sedang tidur. Tubuhnya tampak lebih kurus, surainya tidak serapi dahulu, dan salah satu kakinya terlihat sedikit pincang. Tetapi wajahnya jauh lebih tenang. Tidak ada binatang yang datang mengadu, tidak ada kawanan yang menunggu perintah, dan tidak ada mata yang mengawasinya untuk memastikan bahwa ia masih pantas disebut raja. Tikus berdiri di dekat pohon cukup lama sebelum akhirnya bertanya mengapa Singa tidak kembali.
Singa membuka mata dan memandangnya tanpa terburu-buru. Pertanyaan itu membuatnya tersenyum. “Untuk apa?” katanya. Tikus tidak segera menjawab. Ia ingin mengatakan bahwa hutan membutuhkan Singa, tetapi kalimat itu terasa tidak masuk akal setelah semua yang terjadi. Singa kemudian melihat mahkota ranting di kepala Tikus. Ia tidak tertawa. Ia hanya berkata bahwa dulu ia lelah menjadi raja tanpa mahkota, sedangkan Tikus mungkin akan segera memahami bahwa memiliki mahkota tidak membuat seseorang menjadi lebih bebas.
Tikus menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya ia mengerti mengapa Singa begitu mudah menyerahkan kekuasaan. Singa tidak kalah. Ia hanya sudah selesai dengan sesuatu yang selama ini dianggap semua orang sebagai kemenangan.
Sejak hari itu, Tikus mulai jarang terlihat di singgasana. Namun, ia tidak pernah benar-benar melepaskan mahkota. Barangkali sebab setelah seseorang memperoleh kekuasaan, melepaskannya tidak sesederhana melepaskan benda dari kepala. Kekuasaan telah lebih dahulu tumbuh menjadi bagian dari cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Sementara itu, Singa semakin jauh meninggalkan pusat hutan. Ia tidak lagi menentukan siapa yang benar ketika dua kawanan bertengkar. Ia tidak lagi mengusir binatang yang memasuki wilayahnya. Ia tidak lagi merasa harus mengaum hanya sebab seluruh hutan terbiasa mendengar suaranya.
Kadang-kadang ia tidur di bawah pohon. Kadang-kadang ia berjalan mengikuti sungai. Kadang-kadang ia hanya duduk memandangi matahari terbenam tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang harus dilakukannya. Hutan tetap berjalan tanpa dirinya. Itulah hal pertama yang membuatnya benar-benar bahagia.
Bertahun-tahun kemudian, kisah tentang Tikus dan Singa diceritakan kepada anak-anak sebagai sebuah pelajaran tentang kebaikan. Mereka mengatakan bahwa Tikus yang kecil mampu menyelamatkan Singa yang besar sehingga tidak seorang pun boleh meremehkan makhluk yang lebih lemah. Mereka mengatakan bahwa kebaikan akan selalu mendapatkan balasan dan bahwa seseorang yang menolong pada akhirnya akan mendapatkan penghormatan.
Tidak ada yang tahu bahwa Singa sengaja masuk ke dalam perangkap. Tidak ada yang tahu bahwa Tikus menggigit tali bukan sebab belas kasihan, melainkan sebab ia melihat kesempatan untuk mengubah nasibnya. Tidak ada yang tahu bahwa pertolongan itu kemudian menjadi mata uang yang dipakai Tikus untuk membeli kekuasaan. Dan mungkin juga tidak ada yang perlu tahu.
Sebab cerita-cerita yang diwariskan manusia sering kali membutuhkan tokoh yang baik dan tokoh yang jahat agar dapat terus hidup dengan sederhana. Padahal, di balik cerita itu, Singa hanya seekor makhluk yang terlalu lama dipaksa menjadi raja, sementara Tikus hanyalah seekor makhluk kecil yang terlalu lama ingin dianggap besar. Yang satu menemukan kebebasan setelah kehilangan mahkota yang tidak pernah dimilikinya. Yang lain menemukan kesepian setelah mendapatkan mahkota yang sejak awal diinginkannya.
Pada suatu senja, Singa berhenti di atas bukit dan memandang hutan dari kejauhan. Ia tidak lagi melihat wilayah kekuasaan. Ia hanya melihat pepohonan, sungai, padang rumput, dan makhluk-makhluk kecil yang bergerak di antara bayangan. Dari pusat hutan terdengar suara Tikus sedang memberikan perintah kepada beberapa binatang. Singa tersenyum. Ia tahu, suatu hari nanti Tikus akan memahami sesuatu yang telah ia pahami terlalu lambat: bahwa menjadi raja bukanlah tentang seberapa banyak makhluk yang menundukkan kepala ketika kita lewat, melainkan tentang apakah kita masih dapat berjalan ke mana saja tanpa merasa harus membuktikan siapa diri kita.
Kemudian Singa melanjutkan langkahnya. Ia berjalan tanpa pengawal, tanpa upeti, tanpa mahkota, dan tanpa gelar. Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang menyebutnya raja. Dan untuk pertama kalinya pula, ia merasa tidak kehilangan apa-apa. (*)
Bandung, 5 September 2026
Bionarasi Penulis
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com.


