Bismillah alhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah, ‘amma ba’du

Pembaca yang dirahmati oleh Allah, pernahkan hati Anda merasa sempit? Pernahkah merasa bahwa hidup Anda penuh dengan derita dan nestapa?, sehingga membuat hati merasakan sesak karena masalah-masalah yang mendera? Jangan dulu beranjak, sempatkan waktu beberapa saat untuk membaca beberapa paragraf tulisan ini, semoga Allah ta’ala memberikan kepada kita semua taufik sehingga hati kita menjadi lebih lapang dalam menghadapi pelbagai masalah dunia.

Sempitnya Hati Adalah Penyakit

Pembaca yang budiman, sebelum menginjak ke inti pembahasan, kita harus mengetahui terlebih dahulu penyebab kenapa hati sempit. Sehingga kita dapat menentukan penyembuh yang tepat untuk mengobati sempitnya hati. Para ulama telah meringkas penyebab-penyebab pokok yang membuat hati menjadi berpenyakit. Penyebab itu ada dua hal, yakni penyakit syahwat dan penyakit syubhat.

Di antara contoh-contoh dari penyakit syahwat ini ialah: melakukan tindakan di luar batasan syariat seperti berzina, atau sekelompok ibu rumah tangga yang hobi merumpi dan menggosip (ghibah), atau seorang pejabat yang melakukan korupsi, dan hal-hal sejenis yang pada intinya adalah melakukan suatu hal yang menerjang batasan syariat untuk menuruti hawa nafsu dan kesenangannya. 

Penyakit syahwat itu adalah penyakit yang menyerang hati seseorang, yang berakibat rusaknya niat, kehendak dan perbuatan seseorang karena mengikuti hawa nafsunya.

Kemudian di antara hal lain yang menyebabkan hati berpenyakit ialah syubhat, seperti: berbuat syirik kepada Allah ta’ala, bergantung kepada selain Allah, ragu dalam beragama, berbuat hal baru dalam ibadah tanpa ada tuntunan, liberalisme, terorisme dan hal-hal lain yang menyebabkan rusaknya ilmu dan keyakinan seseorang.

Ketauhilah bahwa dua penyakit itu ialah sebab pokok hati seseorang menjadi sempit. Semoga Allah ta’ala menjauhkan diri kita dari segala keburukan penyakit syahwat dan syubhat.

Bagaimana Caranya Agar Hati Menjadi Lapang?

Ajaran Islam adalah satu-satunya ajaran agama yang sesuai dengan fitrah (tabiat) manusia. Di dalamnya terdapat cara dan petunjuk agar seorang hamba bisa mendapatkan kebahagiaan, baik itu kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat. Allah ta’ala telah berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa yang Allah berkehendak memberinya petunjuk, niscaya Allah akan melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki dirinya sesat, niscaya Allah akan membuat dadanya sesak dan sempit seolah-olah ia sedang mendaki ke langit”. (QS. Al An’am : 125)

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah saat ditanya bagaimana melapangkan dada, beliau menjelaskan makna ayat tersebut, “lapang dada terhadap Islam yaitu merasakan kelezatan dalam ibadah, kelezatan dalam taat, dan merasakan kelezatan saat beramal shalih. Dan jika dada seseorang itu sempit terhadap Islam –wal ‘iyadzu billah-  maka ia akan lari dari ketaatan dan dadanya pun akan sempit serta sesak” (Kaifa Yansyarihu Shadraka menit ke 1:30)  

Di antara sebab-sebab yang membuat hati menjadi lapang dan bahagia adalah sebagai berikut:

Mengesakan Allah (bertauhid)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa hal terbesar yang menyebabkan hati menjadi lapang adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Beliau berkata, “Hidayah (petunjuk) dan tauhid merupakan sebab terbesar lapangnya hati, sedangkan kesyirikan dan kesesatan merupakan penyebab terbesar sempitnya dada dan menyimpangnya hati. Diantara hal-hal yang membuat hati menjadi lapang adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati seorang hamba, yaitu cahaya iman, yang mana cahaya tersebut dapat melapangkan dan meluaskan hati seseorang, serta membuat hatinya menjadi bahagia. Namun apabila Allah hilangkan cahaya tersebut dari hati seorang hamba, maka hatinya akan merasa sempit, sesempit penjara yang paling sumpek” (Al Asbabu Syarhis Shadri hal. 31).

Bertauhid kepada Allah dapat membuahkan ketenangan, kelapangan, kebahagiaan, dan kegembiraan. Dengan bertauhid kepada Allah, seorang hamba dapat merasakan lezatnya ibadah kepada Allah ta’ala, karena ia hanya menghamba pada satu sesembahan yang memang berhak untuk disembah, yaitu Allah ta’ala. Ia tidak terkungkung oleh banyak sesembahan-sesembahan yang bathil dengan melakukan ritual-ritual yang berat seperti bertapa 40 hari 40 malam, larungan ke pantai untuk memohon keselamatan, takut akan hari sial, bergantung kepada jimat dan lain sebagainya. Ketakutan dan kekhawatiran mereka kepada sesembahan-sesembahan selain Allah akan membuat mereka semakin tersiksa dan terbebani. Lain dengan takut kepada Allah, ketakutan kepada Allah justru akan membuat hamba semakin tenang hatinya. 

Mengerti dan Memahami Nama dan Shifat Allah

Jika seseorang mengetahui dan memahami nama-nama dan shifat Allah, ia akan menggantungkan hatinya hanya kepada Allah ta’ala semata dan menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada-Nya, karena ia mengetahui bahwa hanya Allah saja yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga menjadi tenang-lah hatinya.

Misalkan, saat seorang hamba yang beriman ditimpa suatu musibah, maka pertama kali yang ia lakukan adalah mengembalikkan semua perkara kepada Allah, karena ia tahu bahwa segala sesuatunya telah Allah takdirkan, dan ia memahami bahwa musibah yang menimpanya adalah tanda cinta Allah kepadanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Besarnya pahala bergantung pada besarnya musibah, karena apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha maka Allah akan meridhainya, dan barang siapa yang marah dan protes (terhadap musibah tersebut) maka Allah juga akan murka padanya”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai Hasan oleh Al Albani)

Seorang hamba akan merasakan ketenangan yang luar biasa dalam hari-harinya, karena ia mengetahui segala apa yang ditakdirkan kepadanya adalah ketentuan dari Allah yang Maha Kuasa. Jika mendapat musibah bisa menjadi ladang pahala baginya, dan jika mendapat nikmat maka berlipat-lipatlah kebahagiaannya. Semua itu dapat dicapai apabila seorang hamba mau mempelajari (mengilmui) nama-nama dan shifat Allah ta’ala.

Membaca Al Qur’an dan Merenunginya
Pembaca yang semoga dirahmati Allah, sungguh membaca Al Qur’an itu dapat menyembuhkan segala penyakit hati (penyakit syahwat dan syubhat). Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Wahai sekalian manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian, penyembuh dari penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus : 57)

Dengan membaca Al Qur’an dan mentadabburinya, hati seorang hamba akan menjadi tenang. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar Ra’du : 28)

Orang yang tidak pernah membaca Al Qur’an, akan kering hatinya, orang yang tidak pernah mentadabburi Al Qur’an, akan hampa jiwanya. Dengan membaca Al Qur’an, hati kita menjadi hidup. Dengan membaca Al Qur’an kita dapat mengamalkan dzikir yang paling utama, karena sebaik-baik dzikir adalah membaca Al Qur’an. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir itu seperti orang hidup dan orang mati” (HR. Bukhari)

Ketenteraman hati seseorang berbanding lurus dengan kadar keimanannya. Jika seorang hamba bertambah imannya, maka akan semakin bertambah pula ketenangan dalam hatinya. Allah mengabarkan bahwasannya Al Qur’an adalah penambah iman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2)

Berdoa Memohon Lapangnya Dada

Berdoa merupakan ibadah yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang hamba. Apabila seorang itu tidak mau berdoa, justru mendatangkan murka Allah ta’ala. Allah berfirman:

“Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir : 60)

Agar dada menjadi lapang, hendaknya seorang muslim berdoa sebagaimana doa nabi Musa ‘alaihis salam:

“Wahai Rabbku lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku” (QS. Thaha : 25 – 26)

Penutup

Penyebab lapangnya hati yang telah disebutkan tersebut, tidak berarti hanya terbatas empat poin saja, penulis menukilkan poin-poin tersebut karena dirasa itu adalah sebab-sebab yang paling penting, ditambah lagi karena keterbatasan ilmu yang penulis miliki, sehingga hanya mampu menukilkan sedemikian saja. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk mengamalkannya. Wallahul muwaffiq

Penulis: Fazar Tri Danurwindo

Murajaah: Ustadz Afifi Abdul Wadud

Sumber:http://buletin.muslim.or.id

 
Top