Karya: Sastri Bakry *

Laut menguning dan berkilauan
Bak cermin luas bergerak
Memancarkan gelombang matahari
Membentang di samudera pasifik
Diterpa sinar  sore menyentuh kulitku
Yang sedang memandang laut terbentang
Antara laut dan rumahku
Ada bibir pantai yang selalu tersenyum

Kau datang corona 1
Memasuki pekarangan luas kami
Warnamu yang kusuka
Wujudmu tampak
Merah hati ayam
Aku girang sekali
Berlari, menari, menyanyi , meloncat sambil berputar-putar
Hingga berhenti untuk memagut  ayahku
“ Terimakasih Ayah, terimakasih telah menghadiahkan corona untukku”

Jika aku bersamamu keberanianku mendadak muncul
Semua orang terkagum padaku
Kita berkeliling  di Padang Kota Tercinta 2
Menyusuri sepanjang pantai
Menembus pasar raya
Pantai Air Manis, Bungus, hingga Teluk Bayur
Bersama kekasih hati

Hari ini aku mengingatmu
Saat-saat kebahagiaan menyelimuti hati dan pikiranku
Memori yang terekam erat di benakku
Tapi dalam hari-hari berikutnya
Wajahku mengeras kaku
Kau datang lagi corona 3
Namamu demikian lekat di pikiranku
Kenapa kali ini kau tak muncul
Seperti puluhan tahun yang lalu
Hanya nama yang mewabahi bibir setiap orang

Aku tak memahamimu seperti dulu
Seolah keberadaanmu di luar alam material
Yang tak terindera dan tak terukur
Antara perwujudan yang  tampak dan yang tak tampak
Kehadiranmu dirasakan semua orang
Dalam duka
Dalam ketakutan
Dalam keprihatinan
Dalam kecemasan
Hari ini makan apa
Hari ini makanan di mana
Obat-obatan dimana
Vitamin dimana
Tinggal dimana
Alat pelindung diri dimana?

Para tim medis merintih menunggu alat pelindung diri 4
Untuk melindungi kita semua
Mereka  menghimbau untuk berhenti bergerak
Tetaplah di situ
Uhhh….
Mudah sekali kita bicara tinggal di rumah
Kerja di rumah

Mereka tak keluar rumah tak mendapatkan makan 5
Penjual roti, penjual bakso,
Penjual ikan jalanan
Penjual sayur,
Penjual buah
Tukang parkir,
Tukang bersih-bersih,
Tukang tambal ban, tukang cuci, tukang obeng
Tukang ojek, tukang dari semua tukang

Mereka menangis ketika anak-anak menangis karena lapar
Mereka tetap kerja dalam ketakutan
Jika mati tak ada yang…, tak ada yang…. , aah..
tak ada yang menyemayamkan,
Memandikan,
Mengafani,
Jika mati (terisak sendu) 6
tak ada yang mengantar
tak ada yang ikut mengubur,
hanya petugas yang berselimut alat pelindung diri
hanya tayamum untuk menyucikan diri
hanya plastik yang membungkus tubuh
keluarga hanya bisa shalat gaib

Kabar pertakut itu tiap hari kita suarakan tersebab kau corona
Kenapa tak lagi kebahagiaan yang kau berikan padaku, pada kami?
Betapa mudahnya kau bergerak dari satu tubuh ke tubuh yang lain
Dari satu tempat ke tempat yang lain
Lewat mata, lewat hidung, lewat mulut
Tanpa rasa , tanpa kabar

Kini, mereka semakin letih
semakin lemah
semakin berkurang imunitas
karena kebahagiaan yang terampas
terisolasi
terpisah dari anak cucu suami dan saudara
hanya bisa melihat perawat yang sibuk bolak balik dalam kecemasan
yang tak kuat semakin menurun daya tahan tubuhnya
dan akhirnya satu persatu pergi
nenek kakek kita, adik kakak kita, suami istri kita,
tetangga kita, sahabat kita, pemimpin kita.
Persis seperti dalam kabar pertakut itu
Sugesti ini demikian dalam
Menyenak ke pikiran dan dada kita

Kau adalah medan yang tak terlihat 7
Tak terjelma, tak terdengar, tak terasa, dan tak tercium
Tapi kami semua merasakan akibatnya

Eiits…Kau jangan bangga dulu
Seorang pasien corona berusia 63 tahun di Riau
dikabarkan membaik
Ia dikurung dalam ruang isolasi karena pulang dari Malaysia
Dan dipastikan kau menyelinap di saluran pernafasannya
Kau pikir dia takut?
Hm.. wajahnya ceria, biasa saja
Tanpa beban,  kekuatan spiritual yang dikembangkannya
Kau  sebiji virus
Ia patuh pada dokter dan pasrah menyerahkan diri pada Illahi Rabbi
Ia tetap melaksanakan amalan kebaikan dari ruang isolasinya
Ke atas, ke bawah maupun sesama
Ia bahkan menceramahi perawat
“ Jangan takut nak, insya Allah disembuhkan Allah”
Bisiknya pada perawat.
Perawat tercengang
Dalam kecemasan hati
Dalam kecemasan pikiran anak-anak di rumah yang tak boleh jumpa
Tentang tetangga yang menolaknya untuk pulang
Demikian cepat virus ini masuk ke relung relung hati manusia
Tak ada lagi rasa kasihan, empati
Nasihat yang mestinya ia ucapkan justru ia terima dari pasiennya
Makmur Mors adalah pejuang jihad sesungguhnya 8
lelaki 63 tahun tahun berdiri gagah
keluar dari rumah sakit tanpa bantuan apa-apa
melangkah pasti menuju pulang
Ia terbebas corona
Senyumnya mengembang tak henti-henti
Hati riang adalah obat
dalam ketakwaan yang dalam pada Allah
Belajar dari alam, hakikat kehidupan
Adalah jiwa  yang mengalahkan jasmani
Dan kita bisa melawannya dengan senyum terindah

Orang yang tidak mengetahui sesuatu
Tak semestinya menafikan sesuatu
Karena Allah yang maha mengetahui segalanya.
Ya Allah ….jangan biarkan kami terbelenggu dengan tubuh ini
Sehingga kami lupa hakikat kehidupan
Lupa dengan roh yang kau tanam
Di bentang sajadah panjang
Di ruang-ruang doa
Kami lupa sehingga menjadi budak nafsu jasmani kami
Lupa masjid, lupa gereja, lupa vihara, lupa berdoa, lupa mengingatMu
Sekarang betapa kami merindukan shalat berjamaah di masjid
Kami merindukanMu ya Allah
Dalam hikmah yang dalam

Jakarta, 1 April 2020


Catatan: 

1 Toyota Corona  merupakan sebuah sedan yang pernah diproduksi oleh Toyota Motor Corporation (TMC) Jepang sejak tahun 1957 hingga 2003 
https://www.carmudi.co.id/journal/intip-10-generasi-toyota-corona-yang-pernah-ada/

2 Padang Kota Tercinta judul Puisi Leon Agusta, Penyair Indonesia yang berasal dari Sumatra Barat. 
https://en.wikipedia.org/wiki/Leon_Agusta

3 Virus corona paling terbaru yang ditemukan adalah virus corona COVID-19. Virus ini termasuk penyakit menular dan baru ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 yang kemudian menjadi wabah.
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200316135138-37-145175/apa-itu-virus-corona-dan-cirinya-menurut-situs-who

4 Tim medis yang bekerja di garda terdepan kekurangan ADP
Youtube chanel Sastri Bakry

5 “Kami tak perlu kata-kata bijak” Indonesia Lawyer Club tanggal 24 Maret 2020

6 Jumlah yang terjangkit dan meninggal hingga saat puisi ini ditulis,

Seluruh dunia

857,487
178,034
42,107

Indonesia
1,528
81
136

7 Pakar biologi Rupert Sheldrake menjelaskan tentang medan dalam buku “Kedatangan Imam Mahdi dan Konflik Timur Tengah” karya Prof. Ali Al Kurani, penerbit Zaytuna, 2012

8 https://pekanbaru.tribunnews.com/2020/03/31/perjuangan-makmur-mors-melawan-virus-corona-berzikir-baca-alquran-sholat-tahajud-dan-bersedekah?page=4


Penulis bernama lengkap Sastri Yunizarti Bakry, lahir di Pariaman, Sumatera Barat pada tanggal 20 Juni 1958. 


Dikenal dengan Sastri Bakry, selain banyak melahirkan karya-karya puisi berbentuk esai, ia juga seorang novelis, penyair, founder Sumbar Talenta, aktivis organisasi dan birokrat senior. Sejak juni 2018, Sastri diangkat dengan Keputusan Presiden sebagai Widyaiswara Ahli Utama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia/BPSDM, Kementrian Dalam Negeri). 

Novel Kekuatan Cinta adalah karya best seller-nya dengan Penerbit Zikrul Hakim. 

Puluhan buku sudah dihasilkan, sendiri maupun antologi. 

Novelnya Sedikit di Atas Cinta menjadi buku terpilih dan Inspiratif dalam acara Kick Andy, Metro TV tahun 2016. 

Sastri juga peraih Anugerah Srikandi Tun Fatimah 2008 (bidang Pembangunan Wanita) dan Srikandi Numera Malaysia 2016 (bidang sastra dan aktifis Seni) dan beberapa penghargaan lainnya dari Indonesia (Meneg UPW tahun 1998, SBY 2005 dan Jokowi 2015) dan beberapa negara di bidang seni budaya (Spanyol, Harare, Aljazair, Singapur , Croatia,  India, dll). 

Sastri juga sering diundang dalam iven sastra lokal, nasional maupun internasional baik sebagai pembicara, pembaca sajak, bedah buku maupun menyanyi. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Inggris, Rusia, Arab (belum terbit) dan Tamil.

Terakhir buku puisinya dengan dua bahasa terbit tahun 2018 berjudul Pemimpin Langit  (Sky Leader) didiskusikan di Deakin University, Melbourne dan Sydney University, Sydney, Austaralia, 2018. 

Tahun 2019 Sastri juga menyampaikan orasi ilmiah di Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan  menerbitkan buku karya ilmiah berjudul Pohon Integritas. Sila click Sastri Bakry
 
Top