Oleh:
Rizal Pandiya


ADA satu atraksi yang membuat suasana resepsi pernikahan itu seketika berubah. Para tamu yang semula sibuk berbincang, menikmati hidangan, atau sekadar duduk santai, mendadak mengarahkan pandangan ke satu titik. Bukan karena pengantin tiba. Bukan pula karena penyanyi naik ke panggung. Melainkan karena sejumlah penari muda mulai menari di atas pecahan kaca.

Dari Lampung, saya hadir di acara tersebut atas undangan saudara sepupu saya, Syuhairi Syukur, bersama istrinya, Susy Ramadhani. Mereka sedang berbahagia menikahkan putri tercinta, Shinta Mutia Sandri, dengan Ferdian Harya Muhammad, di Hotel Mercure, Padang, Sabtu (5/9/2026).

Resepsi berlangsung meriah. Bagi para undangan, salah satu pertunjukan yang paling mencuri perhatian adalah Tari Piring yang dibawakan putra-putri muda dari salah satu sanggar tari kenamaan di Kota Padang, Rentak Serunai, pimpinan Rangga Agusta dan Ikbal Alijus Halim.

Semula kami menikmati gerakan mereka seperti biasa. Piring berputar di tangan. Tubuh bergerak mengikuti irama. Kaki melangkah dengan lincah.

Denting piring dan musik tradisional mengiringi gerakan para penari. Tetapi suasana berubah ketika pecahan kaca ditaburkan. Para penari kemudian menginjak-injak pecahan kaca itu.

Yang membuat mata sulit berkedip, mereka tidak menunjukkan wajah kesakitan. Tidak ada jeritan. Tidak ada darah. Mereka justru terus menari dengan wajah ceria, seolah-olah yang diinjak bukan pecahan kaca, melainkan lantai biasa. Para undangan pun berdecak kagum.

Mengapa kaki mereka tidak terluka?

Apakah ini sekadar keterampilan menari?

Ataukah benar ada unsur magis di dalamnya?

Bukan sekadar tari untuk menghibur

Tari Piring atau Tari Piriang merupakan salah satu seni pertunjukan penting dalam kebudayaan Minangkabau.

Pemerintah melalui Warisan Budaya Takbenda mencatat Tari Piriang sebagai karya budaya Sumatra Barat. Dalam sejarahnya, tarian ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris dan rasa syukur atas hasil panen. Karena itu, gerakan Tari Piring sesungguhnya tidak lahir dari ruang kosong.

Gerakannya banyak mengambil inspirasi dari kehidupan masyarakat di sawah: mengolah tanah, menanam, merawat tanaman hingga memanen padi.

Pada perkembangan tertentu, lahirlah bentuk Tari Piriang di Ateh Kaco atau Tari Piring di Atas Kaca yang menambahkan atraksi menginjak pecahan kaca.

Penelitian Universitas Negeri Padang mencatat bahwa gerakan menginjak kaca dalam salah satu garapan Tari Piriang di Ateh Kaco terinspirasi dari tradisi pesta panen di Agam.

Dalam penelitian tentang Tari Piriang Pijak di Ateh Galeh, kemampuan menari di atas gelas juga dimaknai sebagai ketahanan, ketekunan dan kehati-hatian. Nilai kerja sama pun tercermin karena aktivitas bertani dalam masyarakat Minangkabau dilakukan secara bergotong royong.

Penelitian mengenai Tari Piring di Atas Kaca di Desa Andaleh, Tanah Datar, misalnya, mencatat adanya keterkaitan pertunjukan dengan kehidupan mistis masyarakat setempat. Penelitian tersebut menyebut praktik tarekat dan ilmu kebatinan dalam konteks pertunjukan tersebut.

Penelitian yang lebih baru terhadap Tari Piriang di Ateh Kaco kelompok seni Pusako Minang di Kota Padang juga secara khusus mengkaji unsur magis dalam pertunjukan. Hasil penelitian itu menyebut dua unsur utama yang ditemukan, yakni peran pawang dan penggunaan mantra.

Maka, jika kita hanya melihat penari menginjak kaca lalu berkata, “Hebat, kakinya kebal!”, kita mungkin baru melihat kulit luarnya. Di balik atraksi itu terdapat perjalanan panjang sebuah kebudayaan.

Pecahan kaca bukan semata-mata benda untuk membuat penonton tegang. Ia menjadi bagian dari bahasa simbolik pertunjukan. Kaca yang tajam dapat dibaca sebagai gambaran rintangan dan kerasnya kehidupan. Sementara kemampuan penari melewatinya menggambarkan ketangguhan, kehati-hatian, keseimbangan dan ketekunan manusia dalam menghadapi berbagai cobaan.

Unsur Magis

Lalu, apakah benar ada unsur magis?

Pertanyaan ini justru menarik. Jawabannya: dalam sebagian tradisi Tari Piring di atas kaca, memang terdapat unsur yang oleh pelaku dan masyarakat setempat dipercaya sebagai kekuatan magis. Tetapi tidak berarti setiap pertunjukan Tari Piring di seluruh Minangkabau menggunakan unsur magis.

Ini penting dibedakan.

Dalam tradisi tertentu, sebelum pertunjukan dilakukan ritual atau pembacaan doa dan mantra terhadap pecahan kaca. Pecahan kaca dipercaya telah diberi perlindungan tertentu sehingga tidak melukai penari.

Jadi, kepercayaan terhadap unsur magis memang ada dalam sebagian tradisi tersebut dan merupakan bagian dari konteks budaya yang diwariskan.

Namun, apakah secara ilmiah kaki penari benar-benar menjadi kebal terhadap kaca karena kekuatan gaib?

Itu pertanyaan yang berbeda. Mengapa kaki mereka tidak berdarah? Ada penjelasan yang lebih bersifat fisik. Pecahan kaca memang berbahaya, tetapi tingkat bahayanya sangat bergantung pada bentuk pecahan, posisi pecahan, tekanan, sudut pijakan, cara melangkah, serta keterampilan orang yang menginjaknya.


Penari yang sudah terlatih tentu tidak bergerak sembarangan. Mereka mengetahui bagaimana mengatur langkah, keseimbangan dan distribusi berat badan. Pecahan kaca yang digunakan dalam pertunjukan juga tidak selalu memiliki karakter yang sama dengan satu keping kaca tajam yang secara tidak sengaja kita injak di rumah.

Artinya, tidak terluka bukan otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memiliki kekebalan gaib.

Sebaliknya, menjelaskan semuanya sebagai trik semata juga tidak cukup untuk memahami tradisinya.

Sebab bagi masyarakat pendukungnya, ritual, doa, keyakinan dan nilai spiritual merupakan bagian dari keseluruhan pertunjukan.

Di sinilah seni tradisi menjadi menarik.

Ia berada di antara keterampilan tubuh, estetika, simbol budaya dan keyakinan masyarakat.

Dari baralek, kita belajar tentang kehidupan

Kembali ke resepsi pernikahan Shinta dan Ferdian.

Saya melihat para penari muda itu bukan sekadar sedang menghibur para tamu. Mereka sedang membawa sebuah warisan. Warisan yang dahulu tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris Minangkabau, kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan terus mengalami perkembangan. Yang menarik, para pembawanya kini adalah anak-anak muda.

Mereka mungkin tidak lagi hidup dengan ritme sawah seperti generasi terdahulu. Tetapi melalui gerakan tangan, dentingan piring dan langkah kaki di atas pecahan kaca, mereka ikut menjaga agar ingatan budaya itu tidak hilang.

Pernikahan sendiri adalah sebuah perjalanan.

Dua manusia memulai kehidupan baru bersama.

Dan tiba-tiba Tari Piring hadir di tengah perayaan itu dengan sebuah simbol yang terasa begitu relevan.

Mungkin itulah sebabnya para penonton malam itu terpukau. Kami tidak hanya melihat kaki-kaki muda menginjak pecahan kaca. Kami sedang melihat sebuah filosofi kehidupan yang dipertontonkan di depan mata.

Dan ketika musik berhenti, para penari memberi hormat, lalu tepuk tangan dari para undangan, saya tiba-tiba berpikir: Barangkali inilah salah satu cara kebudayaan mengajarkan manusia tentang kehidupan—tidak melalui ceramah panjang, tetapi melalui langkah kaki yang berani menapaki pecahan kaca. (*)




 
Top