Perspektif Psikologi Terapan


Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA | Dosen UIN Jurai Siwo Mego


ERUPSI Gunung Anak Krakatau merupakan pengalaman yang berpotensi menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kehilangan rasa aman pada anak. Dalam kondisi bencana, kebutuhan anak bukan hanya keselamatan fisik, tetapi juga dukungan psikologis, sosial, dan spiritual. UNICEF (2021) menekankan bahwa kesehatan mental anak dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko sekaligus faktor protektif, termasuk kualitas pengasuhan, dukungan sosial, komunikasi, dan lingkungan yang aman. 

Dari perspektif psikologi terapan, pengalaman bencana dapat digunakan sebagai kesempatan untuk membangun resiliensi, yaitu kemampuan anak untuk beradaptasi secara positif terhadap situasi yang mengancam perkembangan dan kesejahteraannya. Masten (2021) menjelaskan bahwa resiliensi anak dalam bencana bukan semata-mata kemampuan individual, melainkan terbentuk melalui keterhubungan antara anak, keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial. 

Spiritualitas dan Resiliensi Anak

Spiritualitas pada anak dapat dikembangkan melalui rasa syukur, doa, harapan, kepedulian, kesabaran, dan keyakinan bahwa kehidupan memiliki makna. Penelitian tentang resiliensi anak setelah bencana menunjukkan bahwa faktor individual, hubungan interpersonal, kelompok sosial, dan lingkungan memiliki peranan penting dalam membantu anak bangkit dari pengalaman bencana (Cadamuro et al., 2021).

Khusus dalam konteks Indonesia, penelitian tahun 2023 tentang pengembangan Child and Youth Resilience Measure-Revised (CYRM-R) bahkan memasukkan dimensi spiritualitas dan religiusitas sebagai bagian penting dalam pengukuran resiliensi anak dan remaja Indonesia. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 5.500 anak dan remaja Indonesia. 

Dengan demikian, spiritualitas dapat diposisikan sebagai salah satu sumber daya psikologis yang membantu anak menghadapi ketidakpastian akibat bencana. Namun, spiritualitas tidak boleh digunakan untuk menakut-nakuti anak atau menyalahkan mereka atas terjadinya bencana.

Pelajaran Spiritual yang Dapat Diberikan

Di tengah situasi erupsi, anak dapat memperoleh beberapa pelajaran spiritual yang sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Pertama, belajar menerima keterbatasan manusia. Anak dapat diberikan pemahaman bahwa manusia tidak dapat mengendalikan seluruh kejadian alam, tetapi manusia dapat memilih bagaimana meresponsnya. Anak dapat belajar mengikuti arahan keselamatan, menjaga diri, berdoa, dan membantu orang lain.

Kedua, membangun kesabaran dan harapan. Al-Qur’an memberikan prinsip penting dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6). Ayat tersebut dapat diperkenalkan kepada anak sebagai sumber harapan, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan rasa takut. Pesan yang dapat diberikan adalah: “Kita sedang menghadapi keadaan sulit, tetapi kita tidak sendirian. Kita berusaha, berdoa, saling menjaga, dan berharap keadaan menjadi lebih baik.”

Ketiga, menumbuhkan rasa syukur. Anak dapat diajak menyadari hal-hal sederhana yang masih dimiliki, seperti keluarga, makanan, tempat berlindung, guru, teman, dan orang-orang yang membantu. Syukur dalam konteks ini bukan berarti menyangkal kesulitan, tetapi membantu anak melihat bahwa masih terdapat sumber-sumber kekuatan di tengah keadaan sulit.

Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad ï·º: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua perkaranya adalah kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999).  Hadis tersebut dapat diterjemahkan dalam pendidikan anak melalui dua karakter utama, yaitu syukur ketika mendapatkan kebaikan dan sabar ketika menghadapi kesulitan.

Keempat, mengembangkan empati dan perilaku menolong. Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan sederhana, seperti berbagi makanan, membantu teman, menjaga kebersihan tempat pengungsian, atau membuat kartu doa dan dukungan bagi korban bencana. Dengan demikian, spiritualitas tidak berhenti pada ritual, tetapi diwujudkan menjadi perilaku prososial.

Pendekatan Psikologi Terapan

Dalam situasi bencana, pendekatan yang tepat dapat menggunakan prinsip Psychological First Aid (PFA). Gilbert, Abel, Vernberg, dan Jacobs (2021) menjelaskan bahwa PFA ditujukan untuk membantu anak dan keluarga menghadapi distress awal setelah bencana, dengan menumbuhkan rasa aman, keterhubungan, kemampuan menghadapi situasi, dan dukungan sosial. 

Kajian terbaru Spencer dan Keilholtz (2026) juga menunjukkan bahwa PFA mencakup penilaian kebutuhan, pemberian informasi, penguatan kemampuan coping, dukungan sosial, serta penyesuaian intervensi dengan konteks budaya. Oleh karena itu, pendampingan anak dapat menggunakan prinsip sederhana yaitu aman, tenang dan bermakna. Anak terlebih dahulu dibuat merasa aman melalui perlindungan dan informasi yang sesuai usia.


Setelah itu anak dibantu menenangkan emosi melalui pelukan, bermain, menggambar, bercerita, bernapas secara perlahan, dan berdoa. Setelah kondisi emosional lebih stabil, pengalaman bencana dapat dimaknai melalui nilai syukur, sabar, empati, ikhtiar, dan tawakal.

Orang tua dan guru perlu menghindari kalimat seperti “Gunung meletus karena manusia banyak dosa” atau “Kalau tidak berdoa nanti akan terjadi bencana.” Kalimat semacam itu dapat membuat anak merasa bersalah, takut kepada Tuhan secara tidak sehat, atau menganggap bencana sebagai akibat langsung dari kesalahan dirinya.

Pendidikan spiritual yang sehat justru mengajarkan bahwa bencana adalah situasi yang harus dihadapi dengan ikhtiar, ilmu, kewaspadaan, doa, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama. Anak juga perlu diberi ruang untuk mengatakan, “Saya takut,” tanpa langsung dikoreksi dengan kalimat “Jangan takut.” Respons yang lebih sehat adalah, “Wajar kalau kamu takut. Ayah/Ibu ada bersama kamu. Kita akan mengikuti petunjuk keselamatan dan menghadapi ini bersama.”

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menjadi pengalaman yang berat bagi anak, tetapi dengan pendampingan yang tepat dapat menjadi ruang pembelajaran psikologis dan spiritual. Teori resiliensi Masten (2021) menegaskan bahwa ketahanan anak terbentuk melalui sistem yang saling mendukung, sementara penelitian Cadamuro et al. (2021) menunjukkan pentingnya faktor individual, interpersonal, dan sosial dalam proses resiliensi.

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan relevansi spiritualitas dan religiusitas dalam konstruksi resiliensi anak dan remaja (2023). Dalam perspektif Islam, nilai sabar, syukur, doa, ikhtiar, tawakal, empati, dan harapan dapat menjadi sumber kekuatan psikologis bagi anak. QS. Al-Insyirah 5–6 mengajarkan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan, sedangkan HR. Muslim 2999 mengajarkan sikap syukur dalam kesenangan dan sabar dalam kesulitan. 

Dengan demikian, tujuan pendidikan spiritual di tengah bencana bukan membuat anak tidak takut, melainkan membantu anak merasa aman, mampu mengelola ketakutan, menemukan harapan, dan belajar bahwa dalam menghadapi kesulitan manusia dapat berdoa sekaligus berikhtiar dan saling menolong. (*)




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top