NAMA Arif Rahman Hakim terpatri kuat dalam lembaran sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) asal Minangkabau tersebut gugur pada 24 Februari 1966—tepat di hari ulang tahunnya yang ke-23—saat memperjuangkan suara rakyat di tengah gelombang krisis politik dan ekonomi Orde Lama.
Darah yang membasahi jaket kuning almamaternya saat aksi demonstrasi di depan Istana Negara tak sekadar menjadi ceceran sejarah, melainkan pemicu lahirnya gelombang perlawanan publik yang mempercepat transisi kekuasaan nasional.
Latar Belakang Sang Martir
Arif Rahman Hakim lahir pada 24 Februari 1943 di Padang, pada masa Pendudukan Jepang di Hindia Belanda. Putra dari pasangan H. Syair dan Hakimah ini tumbuh menjadi sosok pemuda yang aktif, cerdas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah kebangsaan.
Kepedulian itulah yang membawanya menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, hingga berdiri di garis depan perjuangan mahasiswa saat Indonesia dilanda krisis hebat.
Menuntut Tritura di Tengah Krisis Nasional
Awal tahun 1966 menjadi puncak ketegangan politik pasca-peristiwa G30S. Kondisi ekonomi yang merosot tajam serta ketidakpastian politik memicu aksi massa yang dimotori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Sebagai mahasiswa yang peka terhadap penderitaan rakyat, pemuda asal Padang ini turut berdiri menyuarakan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura):
Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI)
Perombakan Kabinet Dwikora
Penurunan harga bahan pokok
Tragedi 24 Februari dan Jaket Berdarah
Pada 24 Februari 1966, ribuan mahasiswa mendatangi Istana Negara untuk mendesak pemenuhan Tritura. Bentrokan fisik tak terelakkan antara massa demonstran dan pasukan pengawal presiden, Resimen Tjakrabirawa.
Di tengah kekacauan tersebut, sebuah tembakan meletus dan mengenai Arif Rahman Hakim hingga ia gugur di tempat.
Foto dan kabar mengenai jaket almamater UI berlumuran darah yang dikenakan Arif seketika menyebar pesat dan menjadi simbol kemartiran gerakan mahasiswa. Tragedi ini menyulut kemarahan publik yang jauh lebih besar dan memperlemah posisi politik Orde Lama, yang pada akhirnya mempercepat lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).
Warisan Abadi Putra Minang
Pengorbanan Arif Rahman Hakim terus dikenang sebagai fondasi penting perjuangan demokrasi di Indonesia. Untuk menghormati jasanya, nama putra Padang ini diabadikan di berbagai fasilitas publik dan landmark nasional:
Akses Jalan Utama: Jalan Arif Rahman Hakim di sejumlah kota strategis, seperti Jakarta dan Depok.
Sarana Ibadah: Masjid Arif Rahman Hakim di kawasan kampus UI Salemba, Jakarta.
Gedung Pertemuan: Arif Rahman Hakim Convention Hall di Surabaya.
Gugurnya Arif Rahman Hakim hingga kini menjadi simbol abadi bahwasanya keberanian mahasiswa dan generasi muda akan selalu menjadi motor penggerak perubahan di Tanah Air.
#wkp/ede

