Rosadi Jamani

SERIAL ketiga “Gua Segel Loe!” makin seru dan mendebarkan. Semua sepakat penebang 10 pohon mahoni itu harus dipenjara. Farhan sudah mengeluarkan ancaman dan marah-marah sampai se-Nusantara tahu. Ternyata, orang di belakang pohon itu, orang kuat. Sekarang, beranikah Farhan? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Pagi tadi, begitu tulisan kedua meluncur, sebuah DM masuk. Pengirimnya mengaku anggota Partai Koptagul. Isinya membuat alis saya langsung naik ke plafon. Katanya, di belakang kafe itu ada orang-orang sangat berpengaruh. Saya membaca sambil menyeruput kopi. Lalu ponsel saya tutup pelan-pelan. Wow, pengusaha tambang raksasa di Kalimantan. Presiden pun mikir dua kali untuk mempidanakannya. Jangankan saya, media nasional pun tak berani menyebut nama itu.

Sepuluh pohon mahoni benar-benar sudah rebah. Mereka tidak mengundurkan diri sebagai pohon. Mereka juga tidak pindah kerja ke Kebun Raya. Ada menebang. Ada mengangkut. Ada yang mengetahui. Titik.

Kalau rumor itu benar, biarlah penyidik yang membuktikan. Kalau salah, buang ke tong sampah bersama kabar-kabar liar lainnya. Tetapi jangan sampai karena sibuk memperdebatkan rumor, kita lupa pada korban utama. Korbannya bukan kafe. Bukan pejabat. Korbannya adalah 10 mahoni yang sudah puluhan tahun berdiri memberi teduh warga Bandung.

Logikanya sederhana. Menumbangkan 10 mahoni bukan pekerjaan anak Pramuka sedang mencari kayu bakar. Itu perlu gergaji mesin, pekerja, kendaraan besar, dan waktu. Mustahil operasi sebesar itu terjadi tanpa jejak. Kalau sampai benar tidak ada yang tahu, berarti pelakunya memiliki ilmu menghilang tingkat dewa, atau pengawasan kita sedang cuti massal.

Kini semua mata mengarah kepada Farhan. Kemarin suaranya menggelegar. Kalimat “Gua segel loe!” sudah menjadi trailer yang viral. Sekarang publik tidak lagi menunggu kemarahan. Publik menunggu keberanian.

Beranikah kasus ini dibawa sampai tuntas bila nantinya ditemukan pihak yang bertanggung jawab?


Sebab hukum tidak boleh berubah menjadi payung hanya terbuka saat hujan menimpa rakyat kecil. Publik masih mengingat berbagai kasus yang memicu perdebatan, seperti Paidi di Blora diproses karena mengambil kayu jati untuk kebutuhan rumah tangga. Samirin di Serdang Bedagai tersandung perkara terkait ranting sawit. Terlepas dari detail hukum masing-masing perkara, kasus-kasus itu lama menjadi simbol dalam perdebatan tentang rasa keadilan.

Kalau rakyat kecil bisa berhadapan dengan hukum karena kayu, masa 10 mahoni yang ditebang di tengah kota malah kehilangan pelakunya?

Jangan sampai kasus ini berubah menjadi dongeng baru Bandung. Anak cucu nanti bertanya, “Di sini dulu ada apa?” Lalu dijawab, “Dulu ada 10 mahoni. Mereka hilang, tetapi pelakunya ikut menghilang bersama berkas perkara.”

Bandung terkenal dengan Braga, Gedung Sate, angklung, batagor, dan kreativitasnya. Jangan tambahkan ikon baru yang memalukan, kota tempat 10 pohon raksasa bisa tumbang, semua marah, semua berjanji, tetapi akhirnya tidak ada satu pun yang dimintai pertanggungjawaban.

Sekarang panggung sudah siap. Lampu sorot menyala. Rakyat memenuhi tribun. Tinggal menunggu satu adegan terakhir. Apakah serial ini berakhir dengan penegakan hukum yang tegas berdasarkan bukti, atau kembali ditutup dengan dialog paling terkenal dalam birokrasi, “Damai itu indah.”

Kalau benar ada pihak yang bertanggung jawab, siapa pun dia, hukum harus bekerja. Kalau tidak, 10 mahoni itu akan mati dua kali. Pertama ditebang, kedua ketika keadilan ikut dikubur bersama tunggul-tunggulnya. (*)

#camanewak






 
Top