Elfindri
, FEB Unand


APAKAH semakin terdidik seseorang karakternya akan semakin baik? Seharusnya begitu.

Ini berlaku bilamana proses pendidikan memberikan ruang kepada individu, dimana dia memperoleh pendidikan, untuk mengenal, kemudian melihat dan merasakan contoh contoh nyata karakter baik, seperti kejujuran, baik budi, bertutur kata yang baik, berintegritas, dan sejenisnya.

Namun bisa jadi pendidikan khususnya di Indonesia, tidak bisa diharapkan akan membuat karakter baik. Mengingat karakter memang tidak dikenalkan, tidak dicontohkan, dan hampir tidak masuk dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Pandangan ini hanya umum bukan berarti tidak ada upaya yang dilakukan di sekolah untuk menanamkan karakter, namun usaha itu sering longgar karena komponen-komponen karakter itu begitu luas, dan sering justru lupa ketika ingin diperkenalkan, ditanamkan nilai nilainya baik di sekolah.

Atau ketika karakter itu sudah diperkenalkan, contohnya tidak cukup, sesampai di rumah anak anak kembali menghadapi kenyataan karakter "salah" yang bisa jadi justru berasal dari orang tua.

Syukur jika individual memperoleh orang tua yang telah memberikan banyak pengenalan, contoh-contoh, serta melatih anak di rumah. Tapi itupun tidak banyak kita temukan, ketika ibu dan bapak mulai sibuk untuk urusan pekerjaan, akhirnya anak akan memperoleh karakter dari para pembantu rumah yang boleh jadi baik, atau sebaliknya.

Karakter Jerman dan Jepang Persisi

Tahun 2013 saya mendapatkan kesempatan mendalami sejarah pendidikan sekolah dasar di Jerman. Salah satu jawaban kenapa Jerman menguasai teknologi otomotif mewah, seperti penghasil mobil VW, Audi, maupun Mercedes. Kita kenal kendaraan mewah yang menguasai banyak tempat di dunia. Jawabannya adalah disiplin dan persisi. 

Orang Jerman kerja detail dan karakter disiplin itu diperoleh turun temurun sejak sekolah dasar.

Pada miniatur sekolah SD sebuah objek wisata di kota Kommern, Jerman  sebelum abad ke 19, sekolah menuntun anak displin tinggi.

Hukuman ketidakdisiplinan adalah lutut anak yang melanggar disiplin akan dipaksa ditarok di atas permukaan batu yg runcing. Memang tidak manusiawi, namun begitulah di awal pembelajaran di sekolah dasar ditanamkan berbagai value karakter.


Di Jepang kita menyaksikan pembiasaan anak untuk hidup bersih, mulai toileting, sampai sampah. Bahkan pembiasaan terjadi habis belajar di sekolah, anak-anak terbiasa menyapu kelas, kemudian menyusun kembali posisi bangku ke tempat semula. 

Rasa tanggungjawab yang tinggi dimulai dengan memberikan tanggungjawab anak yang lebih senior mengawasi adiknya ketika pergi ke sekolah.

Di Australia anak dibiasakan memakai helm dan pengaman lutut jika naik sepeda, dimana orang tuanya lebih dahulu di depan ketika membawa sepeda. Anak-anak terbiasa antrian menjelang naik bus, ketika banyak penumpang yang sama sama mau naik Bus. Bus terbiasa tepat waktu, dan tidak akan menunggu mereka yang terlambat.

Anak kita tidak demikian, dibonceng sama ayahnya pakai sepeda motor sambil merokok, dan anak tidak pakai helm, lewat depan polisi dibiarkan, itu kita lihat keseharian. Atau polisi dan Gubernur dan Pejabat menerabas lampu merah, itu merupakan pemandangan keseharian.

Pembiasaan 

Karakter itu merupakan contoh dari orang dewasa, bisa ibu, bapak, atau orang dewasa, kepada anak anak. Di sekolah guru yang akan menjadi contoh teladan. Contoh Nabi kita dinarasikan dalam buku, dan orang kita tidak suka membaca buku.

Karakterpun terbentuk bilamana individu menyukai membaca, karena membaca meluruskan jalan pikiran.

Karakter berkata kotor dengan sendirinya lahir karena tidak ada yang menegur bilamana individual memiliki ucapan yang kotor dan bernada benci. Berpendidikanpun sering juga kita saksikan banyak mereka yang tidak pandai dalam berkomunikasi di media sosial.

Saya bertemu dengan ahli linguistik Universitas Andalas, dan sempat membahas polemik jalan Tol di Sumatra Barat, beliau berkesimpulan delapan dari 10 netizen yang tidak setuju jalan Tol justru berucap secara "Impolite" alias berkata kotor dan tidak pada tempatnya dalam merespon tulisan yang saya posting. Pendidikan kita diambang kepunahan, kepunahan dalam memperkenalkan karakter baik budi.

###




 
Top