Elfindri, Unand
TANTANGAN terberat sekarang adalah memenuhi asupan gizi seimbang, proses learning yang benar dan menyiapkan generasi muda yang benar-benar siap masuk ke pasar kerja.
Sebuah laporan Bank Dunia baru saja menemukan bahwa 51 persen masalah investasi manusia, berkaitan dengan 3 aspek itu.
Investasi gizi akan membuat calon tenaga kerja memiliki "endurance" ketahanan dan produktivitas kerja yang tinggi, dengan jumlah absen akibat dari sakit yang minimum.
Urusan investasi gizi, terkait dengan alokasi yang benar sumber daya di tingkat rumah tangga, sehingga mampu memenuhi keperluan nutrient untuk tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai masuk ke pasar kerja.
Sedangkan proses learning, merupakan akumulasi pemahaman, dan kecepatan dalam mengambil tindakan dalam serangkaian alternatif yang ada. Urusan dengan pendidikan rumah, lingkungan dan sekolah. Juga ketika sudah kerja, belajar di tempat kerja.
Bukan dipandang ketercapaian lama dan jenjang pendidikan saja yang diperlukan sekarang, namun selain lama pendidikan yang diperoleh yang bermutu, individual terasah dalam proses kematangan berpikir, pengalaman dan karakter.
Jangan terjadi seperti saat sekarang, semakin lama masa (tahun) pendidikan, katakan capaian rata-rata pendidikan penduduk dewasa dari 7.5 tahun 15 tahun lalu, sekarang bisa dicapai pada angka mendekati 9 tahun. Namun semakin turun capaian PISA (Matematika, Sain, dan Bahasa) anak-anak Indonesia.
Cukup banyak pertanyaan akhir-akhir ini apakah gelar menentukan pekerjaan? Jawabannya tetap pendidikan yang mampu memenuhi segala bakat dan perkembangan individual, namun mesti juga serba bisa. Lu perlu gua sediakan!
Job-Ready Skills
Kita sangat risau dengan kondisi anak muda Indonesia saat ini. Dimana angka pengangguran terbuka anak muda (15-24 tahun) jika digabung dengan angka "Idleness", mereka yang tidak bekerja, tidak sekolah dan tidak training, yang kondisinya mencapai 35 persen. Dalam arti dari 100 anak muda, maka 35 orang mencari pekerjaan, tidak sedang sekolah dan tidak ikut training, yang merefleksikan kondisi aktual mutu penawaran anak muda Indonesia.
Ketika lapangan kerja upahan sangat sulit tersedia, masih ada harapan berani inovasi membuka lapangan kerja. Membuka lapangan kerja juga tidak segampang yang dibayangkan, ketika bayang-bayang program yang dirancang oleh negara, tidak mudah bagi "first job seekers", gara-gara banyak kendala yang mereka hadapi, nepotisme, dan rigiditas pasar kerja.
Tentu masalah ada di pundak dunia pendidikan Indonesia, tatkala tamatan jenjang pendidikan menengah dan tinggi, tidak siap untuk memasuki dunia kerja.
Dunia kerja selalu saja membuka diri, namun tidak mudah untuk menemukan mereka yang memenuhi keperluan pengguna.
Bisa akibat dari proses learning yang tertinggal, mutu kognitif yang rendah, motivasi yang rendah, keterampilan yang tidak ada, atau ada tetapi tidak pas dengan keperluan pasar kerja saat dimana pasar kerja kaku.
Apakah orang tua menyadari ini?
Apakah anak muda menyadari ini?
Apakah guru dan dosen menyadari ini?
Apakah paman, mamak dan kerabat menyadari ini?
Jelas apapun alasan yang kita berikan, bahwa problem utama kita adalah menyediakan bentuk pendidikan atau training dimana pesertanya benar-benar siap untuk menunjukkan keterampilannya.
Dimana kita peroleh semua itu sekarang?
Sulit kita mempercayai pendidikan menengah dan atau pendidikan tinggi sadar dan benar benar "pas" berupaya untuk menyediakan tempat bagi anak muda, mengasah keterampilan, bakat dan semangat untuk menunjukkan kebolehan untuk menjamin masa depan mereka.
Tanggungjawab ini ada pada dunia pendidikan kita.
Instruktur dan labor yang maju semakin diperlukan, karena keterampilan siap pakai itu dilakukan dengan kombinasi kecerdasan, dengan inovasi inovasi yang baru. Dia diajarkan, diinternalisasikan, dicoba sampai mahir.
Dimanakah ini ditemukan?
Pilotinglah
Kita perlu merintis banyak tempat sebagai ruang bagi anak-anak untuk bisa terlatih. Laboratorium hidup semakin banyak kita rintis.
Kita perlu ambil langkah aktif untuk lahirkan tempat tempat dimana anak-anak bisa memperoleh keterampilan.
Di kota Konya, Turki, ada tempat pelatihan pemerintah per kecamatan, namanya Komek. Semua masyarakat dewasa yang ingin belajar dan mengasah keterampilan dibebaskan dari biaya bilamana ingin memperoleh keterampilan, karena negara membuat paket program. Mulai menganyam, memasak, bertukang, seni, bahasa dan banyak list ketersediaan keterampilan.
Peserta datang dengan biaya gratis ditanggung pemerintah, kemudian memperoleh sertifikat sesuai dengan level yang dilalui.
Di sekolah-sekolah kejuruan dan umum, sangat diperlukan tersedianya instruktur-instruktur wirausaha. Karena mereka tidak bisa cepat dalam membentuknya, namun memerlukan waktu dan kedalaman dalam mengenali bakat dan potensi diri.
Risaulah!

