Untuk Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, 1 Agustus 2026
Oleh: Toto Izul Fatah
KEGIATAN Zikir dan Doa Kebangsaan yang digelar pada 1 Agustus 2026 di Monas patut dihargai. Zikir dan doa adalah bagian penting dari ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Allah juga memerintahkan manusia untuk berdoa kepada-Nya.
Karena itu, tulisan ini bukan ajakan untuk menolak zikir atau doa. Namun, dalam situasi bangsa yang sedang menghadapi berbagai krisis—ekonomi, sosial, hukum, moral, dan lingkungan—barangkali yang paling mendesak saat ini, bukan sekadar memperbanyak doa, melainkan melakukan tobat nasional.
Silakan berzikir. Silakan berdoa. Tetapi jangan lupa bertobat bersama. Selama ini, kita terlalu sering meminta kepada Tuhan.
Kita meminta keselamatan, kesejahteraan, kedamaian, kesehatan, kemakmuran, dan perlindungan dari bencana. Seolah-olah Tuhan tidak mengetahui apa yang sedang dibutuhkan bangsa ini.
Padahal, Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan manusia. Yang mungkin sedang ditunggu Allah bukan daftar panjang permintaan kita, melainkan keberanian kita untuk berkata dengan jujur di hadapan Allah:
“Ya Allah, kami telah bersalah. Kami telah berdosa, baik kepada sesama manusia maupun kepada alam. Karena itu Ya Allah kami semua Memohon Ridho Mu dan AmpunanMu”
Kita perlu mengakui dosa terhadap sesama manusia, karena mungkin kita telah korupsi, berbuat tidak adil, menyalahgunaan kekuasaan, menegakan hukum yang tajam ke bawah, dan mungkin ada sikap kebencian, fitnah, dan kerakusan.
Kita juga perlu mengakui dosa terhadap alam. Hutan dirusak, gunung dikeruk, sungai dicemari, laut dieksploitasi, dan tanah kehilangan keseimbangannya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia. Artinya, berbagai bencana dan krisis ekologis tidak selalu cukup dijawab dengan doa meminta perlindungan.
Manusia juga harus menghentikan perbuatan yang memproduksi bencana. Jangan pada malam hari kita berdoa agar dijauhkan dari banjir, tetapi pada siang hari membiarkan hutan digunduli dan sungai dirusak. Itu bukan ketakwaan, melainkan kontradiksi.
Tobat nasional juga tidak boleh berhenti sebagai acara menangis dan membaca istigfar. Tobat harus dibuktikan dengan perubahan nyata.
Pejabat bertobat dengan menghentikan penyalahgunaan kekuasaan. Koruptor bertobat dengan mengembalikan uang rakyat sekaligus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Penegak hukum bertobat dengan berlaku adil.
Pengusaha bertobat dengan memulihkan alam yang dirusaknya.
Politisi bertobat dengan berhenti menjadikan rakyat sekadar alat meraih kekuasaan. Tokoh agama bertobat dengan menjaga agama agar tidak menjadi legitimasi kepentingan duniawi.
Rakyat pun harus bertobat dari kebiasaan menyuap, menipu, menyebarkan kebencian, merusak fasilitas umum, dan menjual suara politiknya.
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri. Karena itu, doa tanpa perubahan dapat berubah menjadi pelarian.
Zikir tanpa kesadaran moral bisa menjadi seremoni. Istigfar tanpa penghentian dosa hanya menjadi pengulangan kata-kata.
Kita perlu bertanya dengan jujur: mengapa bangsa yang rajin berdoa dan berzikir masih menghadapi begitu banyak korupsi, ketidakadilan, kemiskinan, konflik, dan kerusakan lingkungan?
Mungkin bukan karena doa kita kurang panjang. Mungkin karena tobat kita belum sungguh-sungguh. Allah menjanjikan keberkahan bagi penduduk negeri yang beriman dan bertakwa.
Nabi Nuh juga mengajak kaumnya memohon ampun kepada Allah agar dibukakan pintu-pintu rezeki dan kesejahteraan.
Pesannya jelas, sebelum meminta lebih banyak, kita harus membersihkan diri.
Sebelum meminta kedamaian, hentikan kezaliman.
Sebelum meminta kesejahteraan, hentikan keserakahan.
Sebelum meminta keselamatan dari bencana, hentikan perusakan alam.
Sebelum meminta hukum yang adil, hentikan praktik memperjualbelikan hukum.
Karena itu, Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas seharusnya menjadi momentum untuk menyerukan tobat nasional.
Dari Monas, pemerintah, politisi, pengusaha, penegak hukum, tokoh agama, media, dan seluruh rakyat perlu menundukkan kepala. Tidak ada yang merasa paling suci. Tidak ada yang hanya menunjuk dosa orang lain. Semua harus berani mengaku salah.
Zikir mengingatkan manusia kepada Allah. Doa menyampaikan harapan kepada Allah. Tobat membuktikan kesungguhan manusia untuk kembali kepada-Nya.
Ketiganya penting. Namun, ketika dosa dan kerusakan telah menumpuk, tobat harus menjadi pusatnya. Barangkali, Allah tidak sedang menunggu suara doa kita yang semakin keras. Tetapi, Allah sedang menunggu pengakuan kita yang semakin jujur.
Allah sedang menunggu kesombongan kita runtuh, kezaliman dihentikan, hak rakyat dikembalikan, hukum ditegakkan, dan alam dipulihkan.
Maka, silakan berzikir dan berdoa. Tetapi jangan lupa: mungkin saat ini Allah sedang menunggu tobat kita, bukan sekadar doa kita.
Tak perlu malu dan gengsi untuk mengakui salah dan dosa kita, karena yang sedang kita hadapi dan kita minta ampunanNya itu adalah dzat yang menciptakan kita, Allah SWT. (*)
Jakarta, 1 Agustus 2026
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

