Rosadi Jamani
BASED on true story. Cinta memang buta. Tapi kalau sudah naik sampai ubun-ubun, yang dibutakan bukan cuma mata. Akal sehat pun bisa mendadak baralek tanpa undangan. Simak cerpennya sambil seruput Koptagul, uda-uni!
Begitulah drama panas mengguncang Pemprov Sumatra Barat. Negeri dikenal religius, tanah para ulama dan surau, tiba-tiba dibuat heboh oleh kisah asmara panasnya bisa bikin Jam Gadang ikut geleng-geleng kepala.
Senin, 24 Agustus 2026, sebuah rekaman CCTV viral di media sosial. Tampak seorang pria dan wanita diduga melakukan tindakan asusila di sebuah ruang kerja. Keduanya terlihat berciuman.
Bukan di tempat wisata. Bukan di taman tepi pantai. Bukan pula di bawah romantisme cahaya bulan di Pantai Padang. Di kantor pemerintahan. Astaga, indak habih pikir!
Di ruangan itu ada meja kerja, fasilitas kantor, dan yang lebih dramatis, tampak foto resmi Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy di salah satu bagian ruangan.
Foto pejabat tetap gagah. CCTV tetap menyala. Tetapi dua manusia sedang berada dalam episode ketika cinta mengambil alih kemudi.
Saat bibir bertemu, birahi naik seperti air Batang Arau ketika hujan turun deras. Jantung berdegup. Dunia terasa mengecil. Akal sehat perlahan menghilang entah ke mana.
“Sudahlah, jan pikirkan dulu,” mungkin begitulah bisikan hati.
Masalahnya, hati sedang memegang mikrofon, sementara logika sudah disuruh duduk di belakang.
Mereka seolah lupa ada orang di rumah. Ada keluarga. Ada pekerjaan. Ada jabatan. Ada seragam dinas. Ada aturan ASN. Semua itu seperti kabut tipis di Bukit Barisan: terlihat, tetapi tidak lagi dianggap penting.
Cinta memang punya kemampuan luar biasa. Ia bisa membuat orang merasa sedang berada di langit ketujuh. Padahal, CCTV sedang menyiapkan lift menuju lantai pemeriksaan.
Sejumlah cuplikan memperlihatkan pakaian dinas berbeda. Sehingga, muncul dugaan peristiwa tersebut terjadi lebih dari sekali. Namun identitas perempuan belum diumumkan resmi. Media juga tidak membeberkan kehidupan pribadi keduanya karena fokus perkara berada pada aspek disiplin ASN.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat (Sekdaprov Sumbar) Arry Yuswandi kemudian melakukan klarifikasi. Pria dalam video diketahui bernama Cerry M, ST, MM, Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Sumbar.
Dalam klarifikasi awal bersama Sekda dan Asisten II, Cerry mengakui dirinya sebagai salah satu orang dalam video. Ia kemudian mengundurkan diri dari jabatannya. Ironisnya, pejabat mengurusi pengadaan barang dan jasa kini justru tersandung urusan yang tidak ada dalam katalog pengadaan.
Arry sebelumnya menyatakan pihaknya belum bisa memastikan kapan dan di mana kejadian berlangsung serta siapa saja terlibat. Rekaman baru diterima pada hari sama sehingga bukti dan informasi pendukung masih dikumpulkan.
Pemprov Sumbar kemudian membentuk Tim Pemeriksa Ad Hoc berdasarkan PP Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS. Tim diketuai Sekda, dengan anggota Inspektur, Kepala BKD, dan Asisten II. Mereka akan memeriksa seluruh fakta secara objektif sebelum memberikan rekomendasi sesuai aturan.
Begitulah kalau api asmara sudah terlalu besar. Nan jauah jadi dakek, nan tabu jadi seolah halal, nan penting jadi ndak penting.
Sumbar punya Jam Gadang sebagai penanda waktu. Sayangnya, dalam drama ini waktu seakan berhenti. Sementara akal sehat ikut merantau.
Cinta boleh membakar kalbu. Tapi jangan sampai api asmara membakar karier. Sebab kekasih mungkin bisa melupakan. CCTV? Indak, uda. Bagi yang punya hubungan gelap satu kantor, berhentilah. Ingat anak bini di rumah. Kasihan kalau ketahuan, nanti di-Pansus-kan seperti Bupati Gowa. Ups! (*)
#camanewak

