Oleh
: Wahyu Iryana | Sejarawan yang pernah dikutuk menjadi penyair


Berangkat pagi membawa doa,

dari kampung menuju kota,

sarung terlipat, peci di kepala,

niat lillaah, bukan sekadar acara.


Di jalan panjang kami bertemu,

santri, kiai, jamaah, dan guru,

satu salam, satu rindu,

NU di dada, pesantren di kalbu.


Muktamar bukan hanya forum suara,

bukan sekadar memilih siapa,

ia tempat merawat khidmah,

menyambung sanad, menjaga umat.


Kitab kuning ikut dalam perjalanan,

dengan doa para masyayikh penuh keberkahan.

Istighotsah bergema di tengah keramaian,

shalawat mengalir menjadi ketenangan.


Hotel penuh, jalanan pun sesak,

rombongan datang dari pelosok negeri,

warung kopi menjadi ruang diskusi,

bazar ramai, silaturahmi tak berhenti.


Ada yang sibuk mencari penginapan,

ada yang sibuk mencari makan,

ada yang sibuk mencari rekomendasi,

ada pula yang sibuk mencari teman lama

yang puluhan tahun tak bersua.


Namun di balik riuh Muktamar,

ada hati yang ingin belajar:

bahwa berkhidmah bukan mencari panggung,

melainkan menjadi pelayan yang menjunjung.


Kami berangkat membawa harapan,

agar NU tetap menjadi rumah kebangsaan,

menjaga Islam yang ramah dan moderat,

merawat Indonesia dengan penuh maslahat.


Wahai para kiai, para santri,

doakan langkah kami tetap berarti.

Sebab perjalanan menuju Muktamar ini

bukan hanya perjalanan kaki,

tetapi perjalanan hati

menuju ridha Ilahi.


Berangkatlah dengan basmalah,

pulanglah membawa hikmah.

Jika jabatan hanya sementara,

maka khidmah semoga selamanya.



Muktamar NU:

tempat gagasan dipertemukan,

doa-doa dipanjatkan,

silaturahmi disambungkan,

dan cinta kepada ulama

kembali diteguhkan.


Kami datang bukan untuk menang sendiri,

kami datang untuk belajar mengabdi.

Sebab NU adalah jalan panjang,

di mana khidmah menjadi cahaya,

dan umat menjadi tujuan.


Berangkat ke Muktamar NU

dengan sarung, doa, dan cinta;

dengan kitab, sanad, dan cita;

semoga langkah kecil ini

menjadi bagian dari

khidmah besar untuk Indonesia. (*)




 
Top