SEJARAH perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia senantiasa dihiasi oleh keteguhan para ulama yang menolak tunduk pada penjajahan. Salah satu figur penting yang jejak perjuangannya begitu harum adalah KH. Abdul Gaffar Ismail (11 Agustus 1911 – 16 Agustus 1998).
Ulama, pendidik dan politisi asal Minangkabau, Sumatra Barat yang lahir di Jambu Air, Bukittinggi, 11 Agustus 1911 ini rela mengorbankan kebebasannya dan menerima hukuman pengasingan oleh kolonial Belanda demi mempertahankan prinsip kebangsaan dan syiar Islam.
Ulama Pergerakan dan Perlawanan di Minangkabau
Tumbuh dan besar di tengah dinamika intelektual Sumatra Barat, Abdul Gaffar Ismail muda dikenal sebagai sosok yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan kesadaran politik yang tajam. Melalui mimbar-mimbar dakwah dan gerakan pendidikan, beliau secara konsisten membakar semangat perlawanan rakyat Minangkabau terhadap ketidakadilan dan penindasan pemerintah kolonial Belanda.
Kelantangan dan pengaruhnya yang meluas di tengah masyarakat membuat pemerintah kolonial merasa terancam. Aktivitas politik serta gerak-gerik kejuangannya dinilai berpotensi memicu gelombang perlawanan yang lebih besar terhadap kekuasaan Batavia.
Dibuang ke Pekalongan Bersama Sang Istri
Melihat pengarusutamaan semangat perlawanan yang diusung sang ulama, pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengambil tindakan tegas. KH. Abdul Gaffar Ismail dijatuhi hukuman buang (pengasingan) dari tanah kelahirannya di Minangkabau. Bersama istri tercintanya, Sitti Nur Muhammad Nur, beliau diasingkan ke Pekalongan, Jawa Tengah.
Meski dipisahkan jauh dari kampung halaman dan berada dalam pengawasan ketat, semangat perjuangannya tidak runtuh. Di tanah pengasingan, KH.. Abdul Gaffar Ismail justru terus melanjutkan pengabdiannya sebagai pendidik, pembina umat, serta pemikir politik Islam yang gigih memperjuangkan kedaulatan bangsa.
Mendidik Generasi dan Warisan Sastrawan Taufiq Ismail
Keteguhan sikap, wawasan keilmuan dan jiwa seni KH. Abdul Gaffar Ismail mengalir kuat dalam kehidupan keluarganya. Salah satu putranya, Taufiq Ismail, kelak tumbuh menjadi sosok penyair, sastrawan, dan budayawan legendaris Indonesia. Bait-bait puisi kebangsaan dan religius yang ditulis oleh Taufiq Ismail tidak lepas dari tempaan nilai-nilai moral dan semangat kejuangan sang ayah.
Wafat Sehari Sebelum Peringatan Kemerdekaan
Setelah mendedikasikan seluruh perjalanan hidupnya untuk panggung dakwah, pendidikan, dan perjuangan bangsa, KH. Abdul Gaffar Ismail menghembuskan napas terakhirnya pada 16 Agustus 1998 di usia 87 tahun. Beliau berpulang ke Rahmatullah tepat sehari sebelum bangsa Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan—sebuah tonggak sejarah yang ia perjuangkan sepanjang hayatnya.
KH. Abdul Gaffar Ismail adalah teladan nyata dari integritas seorang ulama: sosok yang memilih diasingkan daripada harus bertekuk lutut di hadapan penjajah.
#wkp/ede

