DUNIA korporasi tingkat tinggi identik dengan persaingan yang ketat dan standar profesionalisme yang amat tinggi. Di tengah panggung bisnis nasional maupun global tersebut, nama Budi Satria Isman mencuat sebagai salah satu figur eksekutif papan atas Indonesia. 

Putra cendekiawan Minangkabau ini telah membuktikan kapasitasnya dengan menduduki berbagai posisi puncak di sejumlah korporasi raksasa lintas industri—mulai dari minyak dan gas, barang konsumsi (FMCG), hingga asuransi.

Tumbuh dalam Lingkungan Akademis yang Kuat

Lahir pada 23 Maret 1962, Budi Satria Isman merupakan putra dari pasangan akademisi terkemuka asal Sumatera Barat, (Alm.) Prof. Dr. Jakub Isman dan Sarmeini Isman. Sang ayah merupakan tokoh pendidikan yang pernah mengemban amanah sebagai Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang—sekarang Universitas Negeri Padang (UNP)—periode 1973–1982.

Pendidikan yang disiplin dan nilai-nilai integritas yang ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan keluarga akademis menjadi fondasi kokoh bagi kepemimpinan Budi dalam mengarungi dunia profesional.

Menaklukkan Raksasa Migas dan Industri 'FMCG' Dunia

Karier profesional Budi diwarnai rekam jejak yang sangat impresif di berbagai perusahaan multinasional. Ia mengawali karier kepemimpinannya di sektor minyak dan gas (migas) dengan memperkuat perusahaan-perusahaan energi asing papan atas seperti Mobil Oil dan Shell Indonesia.

Keahliannya yang mumpuni di bidang manajemen organisasi serta strategi pengembangan sumber daya manusia membuatnya dilirik oleh industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). Budi pernah dipercaya memegang posisi kunci sebagai Direktur Human Resources di Coca-Cola Amatil Indonesia, salah satu produsen dan distributor minuman terbesar di dunia.

Karier korporasinya mencapai puncak ketika ia didapuk menjadi Presiden Direktur PT Sari Husada—produsen susu legendaris merek SGM—yang merupakan bagian dari raksasa multinasional asal Prancis, Danone Group. Di bawah kepemimpinannya, Sari Husada semakin mengokohkan posisinya sebagai pemimpin pasar industri nutrisi anak di Indonesia. Tak berhenti di situ, pada tahun 2011 ia juga dipercaya menjabat sebagai Direktur Penjualan & Distribusi PT Avrist Assurance.

Banting Setir: Berkontribusi Membina UMKM Indonesia

Setelah sukses mencapai puncak karier di korporasi kelas dunia, Budi Satria Isman tidak memilih untuk berdiam diri. Pengalaman ekstensifnya selama puluhan tahun di dunia bisnis multinasional ia dedikasikan kembali untuk membangun fondasi ekonomi kerakyatan melalui pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Saat ini, ia aktif memimpin sebagai CEO Mikro Investindo Utama, sebuah lembaga yang berfokus pada investasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas UMKM agar mampu naik kelas serta bersaing secara profesional.

Bagi Budi, keberhasilan sejati seorang pemimpin bukan sekadar menduduki kursi tertinggi di korporasi raksasa, melainkan bagaimana pengetahuan, pengalaman dan jaringannya dapat memberikan dampak nyata bagi kemandirian ekonomi masyarakat luas.

Jadi Pengusaha Sukses? Mulailah Bermimpi Besar!

Pernyataan itu pernah dilontarkan Budi Satria Isman 13 tahun yang lalu, di hadapan 100 lebih mahasiswa Universitas Bung Hatta (UBH) Padang. 

Kala itu, persisnya pada Jumat (29/11/2013), ia menjadi salah seorang pemateri dalam Seminar Wirausaha Nasional bertajuk "Dream Big Start Small" yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Hatta (BEM UBH) di Aula Balairung Caraka Kampus Proklamator I UBH Ulak Karang Utara (UKU).

Pernyataan di atas menurut Budi adalah cara cerdas membangun bisnis. Kenapa harus bermimpi besar? Karena, ada kecenderungan, kita kerap bermimpi, namun memulai dengan hal-hal kecil.

"Sayangnya untuk memulai usaha itu banyak orang yang takut," ungkapnya. 


Ia mengatakan resiko tinggi, gagal, tidak punya modal, tidak tahu caranya, tidak punya bakat, tidak punya produk dan apakah ketika melakukan usaha itu harus jualan. Itu semua bisa menjadi hambatan ketika ingin memulai usaha. 

"Padahal dari setiap masalah yang dihadapi manusia adalah peluang sebuah usaha karena setiap manusia ingin solusi dari permasalahannya. Misalnya ketika haus kita akan membeli air minum merek tertentu," ujarnya.

Kata Budi lagi, ada beberapa jawaban atas pertanyaan sederhana: mengapa kita tertarik menjadi entrepreneur? Jawabannya mudah saja: ingin memiliki uang banyak, kebebasan, menjadi bos sendiri, passion, menciptakan lapangan kerja, karena hobi hingga ingin membantu orang tua

Smatrpreneur Bussines, lanjut Budi, telah melakukan pemetaan dalam berbisnis dengan membuat konsep playing field, market landscape dan operational profitability. 

"Jadi jangan hanya berbisnis di sektor mikro saja tapi kita harus bisa lebih tinggi minimal jadi usaha kecil atau menengah. Belajar bersama dan cari pelatih bisnis untuk mengembangkan dan bila ingin berwirausaha yang jelas lakukan dan latih keterampilan kita. Sekitar 85 persen kegagalan usaha itu di tahun pertama kemudian 50 persen pada tahun kelima dan 35 persen pada tahun kesepuluh," urainya.

Ia berpesan kesabaran dan pantang menyerah merupakan kuncinya, tentunya kita harus konsisten dan disiplin walaupun lambat asal terus bergerak usahanya tapi bila kita berhenti pastiakan gagal. 

"Bangun jaringan usaha dan pertemanan kita dengan siapapun. Orang sukses percaya walaupun belum ada bukti, selalu positif dan percaya diri. Learn success share, yes we can," tambahnya.

#wkp/ede




 
Top