Karya: TEUKU HUSAINI


Di negeri yang katanya merdeka,

ada tangan-tangan yang bekerja,

bukan untuk mengangkat derita,

tetapi menghitung harta di balik meja.


Rakyat menunggu beras murah,

anak-anak menunggu biaya sekolah,

orang tua menahan sakit dan lelah,

sementara uang rakyat berpindah arah.


Koruptor hidup bermewah-mewah,

rumah menjulang, kendaraan berkilau,

pesta digelar penuh hidangan,

sementara rakyat menghitung recehan.


Di pasar, emak-emak menawar harga,

di dapur, beras tinggal setengah karung,

ayah pulang membawa wajah kecewa,

karena upah tak cukup menanggung hidup.


Wahai pemegang amanah negeri,

ingatlah kursi bukan milik pribadi,

jabatan bukan jalan mencari rezeki,

melainkan titipan yang nanti dimintai pertanggungjawaban.


Jangan kau curi keringat petani,

jangan kau rampas hak kaum kecil,

sebab setiap rupiah yang kau sembunyikan hari ini,

ada tangis rakyat yang membayarnya dengan getir.


Koruptor mungkin tertawa di dunia,

berjalan gagah dengan kuasa,

tetapi ingatlah satu perkara:

tak ada harta yang ikut ke liang lahat.


Kelak ketika jabatan telah berakhir,

ketika nama tak lagi dipuja,

ketika tubuh terbujur di dalam kubur,

hanya amal yang menjadi pembela.


Negeri ini tidak kekurangan kekayaan,

yang kurang adalah kejujuran dan keadilan.

Rakyat tidak meminta kemewahan,

mereka hanya ingin hidup dalam kepastian.


Cukup sudah rakyat menjadi korban,

cukup sudah air mata menjadi makanan,

bangunlah negeri dengan kejujuran,

agar kemakmuran tidak hanya milik para penguasa 

dan pejabat pilihan.


Sebab negeri yang besar bukan negeri

yang koruptornya semakin kaya,

melainkan negeri yang mampu membuat rakyatnya

tidur nyenyak tanpa takut hari esok tiba.


Koruptor boleh menguasai harta,

tetapi jangan biarkan mereka menguasai masa depan bangsa.

Karena ketika rakyat terus menderita,

sesungguhnya negeri sedang kehilangan cahaya.


#wag forumleadershipsumbar




 
Top