SUDAH 18 tahun jargon Sumbar Madani digaungkan —sebuah cita-cita tentang Sumatera Barat yang beradab, berilmu, bermartabat dan berbudaya.
Namun hari ini, kita berhadapan dengan persoalan sosial yang semakin serius:
Narkoba — BNNP Sumbar menyebut peredaran narkoba di Sumbar berada di peringkat ke-6 tertinggi secara nasional, dengan estimasi sekitar 65 ribu orang atau 1,1% populasi.
Judi online/Judol — Kemendes PDTT mencatat 506 nagari/desa/kelurahan melaporkan kasus judi online, atau sekitar 39,92% dari 1.265 wilayah di Sumbar.
LGBT — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyatakan persoalan ini mendapat perhatian serius, tetapi kita belum menemukan data resmi yang valid mengenai jumlah nagari yang melaporkannya.
Seks Bebas — Perilaku seksn bebas remaja juga menjadi persoalan yang tidak boleh kita abaikan.
Pertanyaannya sederhana: Setelah 18 tahun Sumbar Madani, apakah jargon itu sudah benar-benar menjadi realitas?
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengulang slogan, sementara persoalan di tengah masyarakat terus berkembang.
Sumbar Madani bukan sekadar jargon. Ia harus terlihat dalam kualitas keluarga, pendidikan, karakter generasi muda, lingkungan sosial dan keberanian pemerintah bertindak.
Data bukan untuk saling menyalahkan. Data adalah cermin. Dan kalau cerminnya menunjukkan masalah, yang harus diperbaiki adalah realitasnya.
— ADLI
Catatan untuk Sumatera Barat
# wagvforumleadershipsumbar

