Oleh Slamet Samsoerizal
| Penulis


DI TENGAH hiruk-pikuk industri film tahun 2026, sebuah karya biografis atau biopik yang tidak biasa mencoba menerobos kebisingan tersebut. Di bawah judul Franz, garapan sutradara veteran Polandia Agnieszka Holland.

Ini film bukan sekadar mengangkat kehidupan Franz Kafka. Ia adalah penulis Ceko-Jerman yang namanya telah menjadi adjektiva global: Kafkaesque. Film ini adalah sebuah eksperimen sinematik yang berani, sekaligus menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana seni tinggi bernegosiasi dengan pasar komersial di era modern.

Dengan pendapatan box office internasional yang tercatat sebesar $776.261 hingga Agustus 2026, Franz mungkin tidak memecahkan rekor seperti biopik musik Michael yang mendekati angka miliaran dolar. Namun, ia meninggalkan jejak diskusi kritis yang jauh lebih dalam dan kompleks.

Agnieszka Holland, seorang sineas yang dikenal dengan ketajaman politiknya dalam film-film seperti Green Border dan In Darkness, mendekati subjeknya dengan cara yang radikal. Ia tidak tertarik untuk membuat dokumenter kering atau drama periode yang kaku.

Holland merajut narasi yang sadar diri (self-aware), mengakui sejak awal bahwa sebuah film tidak akan pernah cukup untuk menampung kedalaman jiwa Kafka. Pendekatan ini termanifestasi melalui teknik meta-fiksi. Karakter-karakter berbicara langsung ke kamera seolah-olah dalam wawancara berita, waktu melompat-lompat tanpa peringatan, dan batas antara masa lalu serta masa kini sering kali kabur.

Ada momen ketika Kafka menyadari dirinya sedang diintai melalui lubang kunci, hanya untuk potongan adegan berikutnya mengungkapkan bahwa pengintainya adalah wisatawan masa kini di Museum Kafka di Praha. Ini adalah permainan formal yang cerdas, mengingatkan penonton pada gaya Bob Fosse dalam Cabaret atau All That Jazz. Realisme dramatis bercampur dengan elemen pertunjukan yang ekspresionis.

Keberanian artistik ini ternyata pisau bermata dua. Di satu sisi, kritikus Roger Ebert memuji film ini sebagai upaya modernis yang menarik dan penuh dengan sentuhan meta-fiksional yang jenaka. Bagi mereka yang sudah akrab dengan karya-karya Kafka, lapisan-lapisan referensi dan parodi terhadap klise biopik konvensional terasa seperti surat cinta yang intim.

Adegan manakala Kafka dan temannya Max Brod berdebat tentang keberadaan Tuhan sambil berteriak menembus dinding rumah bordil, atau momen simbolis ketika ayah Kafka menghancurkan kecoa di meja makan. Sebuah presage halus bagi The Metamorphosis dianggap sebagai bukti kecintaan Holland pada detail absurditas hidup Kafka.

Di sisi lain, kritik pedas datang dari IndieWire yang memberikan nilai D+, menyebut film ini sebagai kegagalan total dan dangkal. Kritikus Sam Bodrojan berpendapat bahwa meskipun tekniknya canggih, esensi Kafka justru hilang.

Film ini dituduh hanya mengulang fakta-fakta biografi yang bisa ditemukan di Wikipedia, tanpa menawarkan wawasan psikologis baru. Gaya visual yang dianggap garish dan pilihan musik anachronistic dinilai sebagai gangguan yang mengalihkan perhatian dari kedalaman emosional yang seharusnya dibangun.

Kritik ini menyoroti dilema abadi dalam adaptasi sastra. Apakah kita harus setia pada fakta sejarah, atau bebas bereksperimen dengan bentuk untuk menangkap roh sang penulis?

Data performa film memperkuat narasi polarisasi ini. Dengan pendapatan terbesar berasal dari Republik Ceko ($597.067) dan Slovakia ($54.524), jelas bahwa Franz menemukan resonansi terkuat di tanah air Kafka, tempat warisan sastra tersebut masih hidup dan bernapas.


Di pasar internasional lainnya seperti Australia dan Eropa Barat, film ini tetap menjadi tontonan niche. Angka-angka ini mencerminkan realitas genre biopik sastra. Mereka jarang menjadi blockbuster massal, karena menuntut keterlibatan intelektual yang lebih tinggi dari penonton rata-rata.

Namun, bagi Holland, angka box office bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Baginya, film ini adalah proyek pribadi yang lahir dari pengalaman tumbuh di bawah rezim komunis,tempat karya Kafka dilarang namun secara diam-diam menjadi simbol perlawanan terhadap pengawasan negara.

Konsep Kafkaesque sendiri telah berevolusi dari istilah sastra menjadi fenomena budaya global. Ia kini digunakan untuk menggambarkan birokrasi yang absurd, algoritma digital yang tidak transparan, dan sistem sosial yang menjebak individu tanpa alasan jelas.

Dalam konteks ini, Franz bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga cermin bagi kecemasan masa kini. Holland memahami bahwa Kafka relevan bukan karena dia menulis tentang monster atau transformasi fisik, tetapi karena dia menulis tentang ketakutan universal terhadap kekuasaan yang tak terlihat dan tak terpahami.

Meskipun mendapat skor 69% di Rotten Tomatoes, angka yang lebih rendah dibandingkan karya-karya Holland sebelumnya seperti Green Border (94%), film ini tetap penting dalam diskursus sinema kontemporer.

Ia menantang konvensi biopik yang biasanya linier dan heroik. Film Franz menolak untuk menjadikan Kafka sebagai pahlawan tragis yang sederhana. Ssebaliknya, ia menyajikannya sebagai manusia yang rapuh, canggung, dan penuh kontradiksi.

Franz dengan segala kekurangan dan kelebihannya, berhasil menangkap nuansa kesepian eksistensial itu. Ia mungkin tidak sempurna. Barangkali tidak kaya secara finansial, tetapi ia kaya akan ambisi.

Dalam dunia sinema yang sering kali takut mengambil risiko, Franz berdiri sebagai bukti bahwa ada ruang untuk ketidaknyamanan, untuk pertanyaan tanpa jawaban, dan untuk keindahan dalam kekacauan. Sesuatu yang sangat Kafkaesque, dan sangat manusiawi. (*)





Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top