Oleh: AR Rizal | Sastrawan, Pemerhati Sosial Media dan Jurnalisme Kekinian


SAYA mengetahui berita ini dari postingan seorang pengacara. Postingan itu menurut saya masih aman. Sebab, menyembunyikan identitas kampus dan oknum dosennya yang ditulis dengan inisial. Entah kenapa, berselang tak lama, beredar beritanya di media online. Sang pengacara dengan gamblang menyebut kampus hingga fakultas tempat dua oknum dosen itu bertugas. Alhasil, semuanya jadi terang-benderang sekarang.

Dengan database kampus yang bisa diakses publik, publik bisa melacak siapa dua oknum dosen itu. Istri yang melaporkan kasus ini bisa juga dilacak. Siapa anak-anaknya, dimana rumahnya, siapa sanak-keluarganya, dimana kampungnya, semuanya kini bisa dilacak.

Sang pengacara barangkali sudah mendapatkan keinginannya dengan mempublis kasus ini ke publik. Istri yang melaporkan barangkali sudah lepas pula sasak angoknyo. Hanya saja, apakah mereka tidak pernah memikirkan dampak dari sebuah berita? Berita itu pisau bermata dua!

Dampaknya bukan bagi mereka, bukan bagi pelapor, bukan bagi pengacara, bukan bagi terdakwa, bukan bagi kampus. Dampaknya itu kepada anak-anak.

Bayangkan, anak-anak yang tak tahu apa-apa dengan perbuatan orang tuanya, kemudian mendapat perundungan. Eh, ayah kamu berzina ya? Kamu ditelantarkan ayah kamu ya? Eh, ibu kamu pelakor ya? Ibu kamu berzina dengan kekasihnya ya? Eh, keluarga kamu broken home ya? Dan, bla bla bla! Bayangkan, suatu ketika anak-anak itu membaca sumpah-serapah netizen yang jejak digitalnya abadi di dunia maya?

Apa salah anak-anak itu sehingga harus menanggung aib orang tuanya?

Seharusnya, kasus ini tersimpan rapat di ruang sidang. Kalaupun sampai ke publik, ia harus muncul sebagai informasi yang tidak telanjang.

Untuk misi-misinya, untuk kepentingan viewer, orang rela melakukan apa saja tanpa menimbang baik dan buruk, tanpa mengukur dampak. 

Kalian jangan pula ikut-ikutan menghakimi, menghujat, apalagi membongkar identitas orang-orang yang ada dalam lingkaran informasi ini. Takutlah dosa! Bayangkan, hujatan yang kalian lontarkan hari ini di masa depan akan menghasilkan anak-anak yang menjadi dewasa dengan perundungan, anak-anak yang mungkin sakit mentalnya. Tahukah kalian, Tuhan saja menutup aib hamba-hamba-Nya yang pendosa sekalipun.

###




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top