PROF. Dr. (H.C.) dr. Bahder Djohan (1902–1981) mengukir rekam jejak yang amat monumental dalam sejarah pergerakan pemuda, dunia kedokteran, hingga pilar pendidikan di Indonesia. 

Lahir dari keluarga intelektual Minangkabau pasangan Mohamad Rapal gelar Sutan Boerhanoedin (asal Koto Gadang, Agam) dan Lisah (asal Alang Laweh, Padang), putra terbaik daerah ini tumbuh menjadi salah satu cendekiawan utama bangsa yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kemanusiaan dan kemajuan pendidikan nasional.

Menjalani masa kecil di Bukittinggi dan Padang, Bahder Djohan menjalin persahabatan erat sejak bangku sekolah dasar dengan Mohammad Hatta. Setelah menamatkan pendidikan di HIS dan MULO Padang, ia melangkah ke Jawa untuk menempuh studi kedokteran di STOVIA Batavia pada 1919 hingga berhasil meraih gelar Indisch Arts pada 1927. 

Sejak masa mudanya, ia aktif memimpin organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond dan menjadi tokoh kunci dalam Kongres Pemuda. Pemikirannya yang progresif terlihat saat Kongres Pemuda I melalui pidatonya yang fenomenal berjudul "Di Tangan Wanita"—sebuah orasi tentang kesetaraan dan peran penting perempuan yang sempat dilarang beredar oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Kiprah Bahder Djohan bagi negara semakin menguat di seputar masa kemerdekaan. Ia menjadi salah satu dari lima anggota panitia perintis yang merumuskan lahirnya Palang Merah Indonesia (PMI) pada 17 September 1945, di mana ia bertindak sebagai penulis panitia. 


Integritas dan kepakarannya mengantarkan ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam dua periode pemerintahan, yakni Kabinet Natsir (1950–1951) dan Kabinet Wilopo (1952–1953). Di luar pemerintahan, ia memimpin RSUP Jakarta (kini RSCM), menjabat Presiden Kehormatan Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo), serta terpilih sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI). 

Prinsip moral dan nuraninya yang teguh dibuktikannya saat mengundurkan diri dari jabatan Rektor UI pada 1958 sebagai bentuk protes atas langkah pemerintah yang menyelesaikan konflik PRRI melalui jalur militer.

Sepanjang hayatnya hingga wafat pada 8 Maret 1981 di Jakarta, sosok yang dianugerahi gelar Marah Besar ini dikenang sebagai pejuang kemanusiaan yang konsisten membela prinsip perdamaian, pendidikan dan keadilan. Perjalanan hidup Prof. dr. Bahder Djohan menjadi "jejak emas" keteladanan nyata bagaimana seorang dokter dan cendekiawan asal Minangkabau mampu memberikan warisan nilai yang abadi bagi pondasi Republik Indonesia.

#wkp/ede






Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top