Rosadi Jamani


SAYA suka channel Progretto Happiness. Host-nya, Giuseppe Bertuccio D’Angelo, seorang jurnalis dan traveler asal Messina, Italia. Ia keliling dunia hanya ingin mencari jawaban atas pertanyaan, “Apa arti kebahagiaan bagi Anda?” Kali ini ia pergi ke sebuah daerah sangat unik, di mana setiap perempuan dilarang masuk. Bahkan, hewan betina juga.

“Wah, batangan semuanya dong, Bang.” Hus, ente ini. Ya, semua dihuni oleh laki-laki. Jangan berharap melihat kaum hawa. Sambil menikmati malam minggu, simak narasinya dan seruput Koptagul, wak!

Gunung Athos bukan gunung biasa. Ia seperti republik kecil di Yunani Utara, punya pemerintahan sendiri, birokrasi sendiri, 20 biara, sekitar 1.600 biksu Kristen Ortodoks, paspor khusus bernama Diamonitirion.

Aturan paling terkenal sekaligus paling bikin dahi berkerut, perempuan tidak boleh masuk. Alasannya? Godaan.

Menurut pandangan para biksu di sana, perempuan dianggap dapat mengalihkan perhatian mereka dari kehidupan yang disucikan kepada Tuhan. Waduh. Kita di luar gunung sibuk mencari pasangan. Mereka justru sibuk mencari cara supaya tidak bertemu pasangan.

Kita kalau melihat perempuan cantik bilang, “Masyaallah.” Mereka mungkin bilang, “Ya Tuhan, jauhkan saya dari ujian.”

Gunung Athos memang dirancang sebagai ruang kehidupan spiritual. Para biksu memilih kemiskinan, kesucian dan ketaatan. Mereka ingin mengurangi kesenangan duniawi agar perhatian sepenuhnya tertuju kepada Tuhan.

Karena itu perempuan dianggap salah satu bentuk gangguan yang harus dijauhkan. Tetapi lucunya, menurut sang biksu, masalah sebenarnya bukan perempuan. Masalahnya adalah diri sendiri.

Nah, ini baru kelas filsafat. Sebab kalau perempuan diusir dari gunung, tetapi isi kepala masih penuh perempuan, masalah belum selesai.

Pintu bisa ditutup. Gerbang bisa dijaga. Paspor bisa diperiksa. Tetapi otak tidak punya petugas imigrasi.

Seorang biksu mengaku sudah 11 tahun tinggal di Gunung Athos dan baru pertama kali melihat perempuan setelah enam tahun. Enam tahun, wak! Kita enam jam tidak mendapat balasan WA saja sudah mulai membuat teori konspirasi.

“Kenapa dia online?”

“Kenapa centang dua?”

“Siapa yang dia chat?”

Sementara di Athos, enam tahun tidak melihat perempuan dianggap bagian dari perjuangan spiritual. Tuhan menciptakan manusia untuk berpasangan, kata sang biksu. Pria menyukai perempuan, perempuan menyukai pria. Namun para biksu memohon rahmat agar mampu menjalani kehidupan tanpa perempuan.

Ironinya, mereka justru berdoa kepada Bunda Maria, sosok perempuan, agar diberi kekuatan menghadapi godaan. Ini kalau dibawa ke warung kopi, pembahasannya bisa sampai subuh.

“Wak, perempuan dilarang masuk.”

“Kenapa?”

“Karena godaan.”

“Terus berdoa kepada siapa?”

“Bunda Maria.”

“Perempuan juga?”

“Ya.”

“Lah…”

Kopi langsung dingin.


Namun Gunung Athos sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu lebih dalam. Menurut sang biksu, menghilangkan perempuan dari lingkungan bukan berarti memenangkan perang. Perang sesungguhnya terjadi di dalam diri.

Di kota, gangguan datang dari mana-mana. Di gunung, ketika gangguan luar dikurangi, manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Masalahnya, teknologi ikut masuk. HP tidak kenal batas wilayah. Mau tinggal di gunung, gua, biara atau ujung dunia, foto dan video dari dunia luar tetap bisa muncul di layar.

Perempuan mungkin tidak boleh masuk Gunung Athos. Tetapi internet bisa membawa bayangannya masuk lewat Wi-Fi. Nah, ini baru musuh yang tidak punya paspor.

Yang lebih absurd, bukan cuma perempuan yang dilarang. Kucing betina juga. Artinya, kalau kucing jantan santai nongkrong di biara, aman. Kucing betina? “Maaf, Bu Kucing. Wilayah ini khusus pejantan.”

Pada akhirnya, Gunung Athos bukan sedang mengajari dunia, perempuan adalah musuh. Justru pelajarannya, godaan terbesar manusia sering kali bukan sesuatu berada di luar dirinya. Perempuan bisa dijauhkan. Dunia bisa ditutup. Pintu bisa dikunci. Tetapi kalau hati dan pikiran belum bisa dikendalikan, godaan tetap menemukan jalan.

“Bang, jadi ingat biksu di Thailand yang ditangkap itu, salah satunya karena perempuan.”

“Itu dasar otak mesum, wak. Intinya, jago mengendalikan diri. Bila tak kuat nahan si otong, puasa, wak!” Ups (*)

#camanewak





Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top