KITA lanjutkan cerita biksu senior di Thailand. Soalnya banyak request. 

Kalau cerita wik-wik, paling gercep. Parah…! 

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau di negeri MBG, punya sofa mendadak terkenal gara-gara adegan mesum kepsek dan guru. Thailand punya senjata lebih bulat, meja oranye! Sofa vs Meja Oranye.

Jangan remehkan meja. Furniture satu ini ternyata bisa membawa nama sebuah kuil sampai ke telinga dunia. Bukan karena dipakai makan, bukan karena dijadikan tempat sembahyang, tetapi karena seorang biksu senior berusia 66 tahun ketahuan melakukan hubungan intim bersama simpanannya di atas meja tersebut.

Lokasinya bukan hotel. Bukan vila. Bukan apartemen. Kamar biara!

Yang paling bikin dahi berkerut adalah CCTV. Kamera keamanan mestinya menjaga ketenangan biara justru merekam pertunjukan begituan. Mungkin operatornya spontan mencari tombol “hapus riwayat kehidupan”. Atau, ngeces lihat adegan tak biasa.

Tokohnya Phra Wachirayan Wi alias Luang Pho Choti. Alamak, belibet ngejanya. Biasa juga dipanggil Atichot Dhammawaro, alias Sami Choti. Ia merupakan abbot Wat Phutthaisawan, kuil kerajaan di Ayutthaya. Biksu senior ini dikenal membuat jimat “Nuea Duang”. Jimat karyanya itu pernah dikalungkan kepada Perdana Menteri Anutin.

Namun jimat ternyata bukan satu-satunya benda yang bikin namanya sakti. Ada pula duit. Sekitar 92 sampai 100 juta baht semestinya masuk kas kuil, malah mengalir ke rekening pribadi sang biksu. Tak ketinggalan bidadarinya, Punyavee alias Sika Ae, 47 tahun. Polisi kemudian menyita aset sekitar 215 juta baht berupa emas batangan, perhiasan, tanah, dan berbagai barang lainnya.

So, kalau kas kuil terasa sepi, mungkin uangnya sedang melakukan perjalanan spiritual ke rekening pribadi. Tetapi uang masih kalah heboh dibanding “Meja Bulat Oranye”.

Saat polisi menggeledah kamar, CCTV memperlihatkan sang biksu bersama Sika Ae sedang “bermeditasi” dengan metode tampaknya tidak tercantum dalam kitab mana pun. Meja makan bulat itu menjadi saksi utama.

Nuan bayangkan nasib meja tersebut. Pagi tempat menaruh makanan. Siang tempat menaruh gelas. Malam mendadak masuk sejarah nasional.


Meja itu mungkin tidak pernah bercita-cita menjadi terkenal. Ia hanya bulat. Warnanya oranye. Diam. Setia. Tidak pernah wawancara. Tidak pernah bikin konten. Tapi manusia datang. Lalu reputasinya tamat.

Komite kuil dan Kantor Buddhisme Nasional Thailand sampai menganggap meja tersebut membawa kesialan dan harus disingkirkan. Takutnya wisatawan datang bukan untuk berdoa, tetapi bertanya, “Mana meja legendarisnya?”

Netizen pun menggila. Ada bertanya soal kekuatan meja tersebut. Ada yang mengedit foto duduk di atasnya. Ada yang menyebutnya “Kesatria Meja Bundar”.

Meja itu akhirnya diangkut polisi. Nasibnya kini lebih misterius dari hubungan asmara pemiliknya. Mau dihancurkan? Dibakar? Disimpan sebagai barang bukti? Atau jangan-jangan suatu hari masuk museum dengan papan bertuliskan, “Dilarang Duduk. Pernah Terjadi Sejarah.”

Sang biksu akhirnya dilucuti jubahnya. Dari tokoh agama menjadi orang biasa dalam waktu singkat. Ia mengaku khawatir terhadap agama Buddha. Lah, justru agama Buddha mungkin sedang mencari kipas angin.

Sika Ae ikut ditangkap. Duit diperiksa. Aset disita. Jubah dicopot. Lalu, meja? Tetap diam. Itulah hebatnya meja bulat oranye. Tidak bicara, tetapi membuat Thailand mendunia.

Indonesia punya sofa. Thailand punya meja. 

Kalau tren ini berlanjut, jangan-jangan besok lemari ikut terseret. Lusa kasur. Minggu depan kursi. Akhirnya kita sadar, yang berbahaya bukan furniturnya. Yang berbahaya adalah manusia ketika bertemu furniture, CCTV, dan ide datang tanpa mengetuk pintu.

“Bang, si biksu belajar gituan dari mana sih?”

“Mungkin belajar ke Kakek Sugiono, kali.” Ups! (*)

#camanewak





 
Top