Oleh:
Toto Izul Fatah | Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA


DALAM cerita rakyat, kancil dikenal sebagai hewan kecil yang mengandalkan kecerdikan untuk menghadapi keadaan sulit. Ia membaca situasi, memahami siapa yang dihadapinya, lalu menemukan jalan ketika keadaan tampak buntu.

Gambaran tentang kecerdikan itulah yang menarik digunakan untuk membaca kiprah Prof. Dr. Sufmi Dasco Ahmad di kancah politik. Dasco tahu kapan mendekat, kapan mendengar, kapan menyampaikan pesan dan kapan membuka percakapan yang dapat mempertemukan pihak-pihak berbeda.

Sebutan “Si Kancil” dalam tulisan ini merupakan apresiasi terhadap kecakapan membaca keadaan dan menemukan jalan keluar. Politik membutuhkan kemampuan semacam itu. Terlebih di sekitar seorang presiden yang harus mengelola begitu banyak kepentingan, tuntutan masyarakat, serta hubungan antarkekuatan politik.

Dalam pembacaan saya, Dasco memiliki kecakapan tersebut. Sebagai Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, ia mempunyai posisi strategis.

Tetapi, arti pentingnya juga terletak pada kemampuan menjangkau berbagai lingkungan dan kalangan. Mulai dari elite partai, tokoh senior, aktivis, buruh, mahasiswa, hingga kepala daerah.

Hubungan yang luas itu menjadi modal untuk membantu Presiden Prabowo membangun pengertian dan memperluas dukungan terhadap agenda pemerintahannya.

Kecerdikan politik sering kali terlihat dari kemampuan memahami bahwa setiap kelompok membutuhkan pendekatan berbeda. 

Berbicara dengan pemimpin partai memerlukan kepekaan terhadap kehormatan dan posisi politik.

Berdialog dengan buruh membutuhkan kesediaan memahami persoalan penghidupan. Menghadapi mahasiswa memerlukan keterbukaan terhadap pertanyaan dan kritik.

Sementara berkomunikasi dengan kepala daerah membutuhkan pemahaman atas kesulitan pelaksanaan kebijakan.

Dasco memperlihatkan kemampuannya bergerak di antara lingkungan tersebut. Ia berada pada posisi yang memungkinkan pesan dari lingkaran Presiden disampaikan kepada berbagai kelompok, sekaligus membawa aspirasi mereka ke ruang pengambilan keputusan.

Salah satu contoh paling jelas adalah komunikasinya dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Pada Juni 2025, Dasco menjelaskan bahwa kedatangannya ke kediaman Megawati merupakan penugasan Prabowo untuk menyampaikan pesan.

Ia kemudian membawa pesan balik dari Megawati kepada Presiden. Kepercayaan untuk menjalankan komunikasi dua arah ini menunjukkan bobot perannya sebagai penghubung politik.

Di sinilah kecerdikan itu memperoleh bentuk yang konkret. Hubungan antartokoh besar memiliki sejarah, kepekaan, dan pertimbangannya sendiri. Diperlukan seseorang yang dapat diterima, mampu menjaga pesan, serta memahami batas antara hal yang perlu disampaikan kepada publik dan hal yang tak perlu.

Seorang penghubung juga harus membuat kedua pihak merasa dihormati. Ia perlu membawa pesan dengan tepat, tanpa menambahkan kegaduhan.

Dalam konteks ini, kesediaan Dasco mendengar wejangan Megawati dan menyampaikan penghormatan atas masukannya memperlihatkan pentingnya etika personal dalam pekerjaan politik.

Menghormati senior, menyapa kawan dan mengingat kontribusi orang lain merupakan kebiasaan yang dapat memperpanjang umur kepercayaan. Jabatan bisa membuka pintu pertemuan. Sikap seseorang menentukan apakah pintu itu akan tetap terbuka pada pertemuan berikutnya.

Karena itu, kecakapan Dasco layak dilihat bersama kemampuan merawat hubungan. Dalam politik, orang dapat berbeda sikap hari ini dan membutuhkan kerja sama esok hari.

Hal yang juga menarik adalah kemampuannya membangun komunikasi dengan kelompok kritis. Pada April 2025, Dasco bertemu Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Ferry Juliantono.

Menurut keterangan Syahganda, percakapan mereka mencakup ekonomi internasional, lapangan kerja, dan demokrasi. Ini menunjukkan bahwa pertemuan tersebut menyediakan ruang bagi pembahasan persoalan substantif.

Bagi saya, ada kecerdikan dalam kesediaan mengajak pengkritik duduk bersama. Kritik membawa informasi mengenai persoalan yang mungkin belum sepenuhnya terbaca dari dalam kekuasaan.

Dengan membuka percakapan, pemerintah memperoleh kesempatan memahami keresahan, menguji gagasan, dan mencari kemungkinan penyelesaian.

Jejak keterbukaan itu terlihat pula dalam hubungan dengan buruh dan mahasiswa. Laporan resmi DPR pada Mei 2026 mencatat Dasco memimpin pertemuan dengan aliansi buruh yang turut melibatkan elemen mahasiswa, petani, dan organisasi masyarakat sipil.

Dalam konteks hubungan dengan para aktivis itu, masuknya Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dan Rocky Gerung ke pemerintahan Prabowo menarik diperhatikan. Jumhur menjabat Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup sejak April 2026.


Pada Oktober 2026, Syahganda dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, sedangkan Rocky menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Konon, bergabungnya para aktivis kritis itu tak lepas dari peran Dasco.

Buat saya, kehadiran figur-figur tersebut harus dibaca sebagai peluang memperkuat orientasi keadilan sosial pemerintahan Prabowo. Pengalaman gerakan dapat membantu membawa persoalan pekerja, ketimpangan, lingkungan, dan kebebasan berpendapat lebih dekat ke meja kebijakan.

Peluang itu akan berarti apabila pengalaman mereka diterjemahkan menjadi keputusan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam pengertian inilah orientasi sosial Prabowo dapat dipertemukan dengan pengalaman sejumlah aktivis. Istilah “sosialis” di sini saya gunakan untuk menunjuk perhatian terhadap keadilan sosial, perlindungan rakyat kecil, dan tanggung jawab negara atas kesejahteraan bersama.

Masing-masing tokoh tetap memiliki pandangan dan perjalanan pemikiran sendiri, termasuk ketika mereka dihubungkan dengan tradisi gerakan kritis yang antara lain diwakili Hariman Siregar.

Kecerdikan Dasco, dalam pembacaan saya, terletak pada kemampuannya menemukan ruang pertemuan di antara perbedaan tersebut.

Ia dapat membantu menerjemahkan visi Presiden ke dalam bahasa yang dipahami kelompok gerakan, sekaligus membawa pertimbangan kelompok gerakan agar dapat dipahami dalam proses pemerintahan.

Jangkauan perannya juga terlihat dalam komunikasi dengan daerah. Pada 24 Juli 2026, Dasco bersama Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menerima jajaran APKASI yang dipimpin Bursah Zarnubi. Pertemuan itu membahas kebutuhan pembangunan daerah dan persoalan efisiensi anggaran.

Jika memakai perumpamaan sepak bola, Dasco lebih tepat disebut pemain serbabisa dengan kecakapan mengatur permainan. Ia membantu menjaga pertahanan ketika hubungan politik perlu dirawat, menghubungkan antarlini ketika komunikasi tersendat, dan bergerak ke depan ketika diperlukan inisiatif untuk membuka peluang kesepakatan.

Terakhir, saya berharap, kecerdikan Sufmi Dasco itu akan terus membuka jalan bagi percakapan yang sulit, mempertemukan kekuatan yang berbeda, dan membantu Presiden Prabowo mewujudkan keadilan sosial dalam tindakan nyata. (*)

Jakarta, Oktober 2026


#hatipena






 
Top