BULAN purnama menggantung utuh di atas Pecinan Semarang, Sabtu (26/9/2026) malam. Cahayanya menimpa fasad Klenteng Tay Kak Sie, menyusuri atap dan tiang-tiang tua, lalu jatuh ke halaman tempat orang-orang berkumpul.

Di tengah riuh festival, empat tubuh tiba-tiba bergerak.

Pelan.

Tangan terulur seperti hendak meraih sesuatu yang jauh. Langkah bergeser. Tubuh saling mendekat, kemudian mengambil jarak. Sesekali mereka berhenti dalam diam.

Seolah ada sesuatu yang hendak dipanggil kembali.

Tetapi tak kunjung tiba.

Malam itu, rindu tidak diucapkan. Rindu ditarikan.

Klub Merby mempersembahkan tari kontemporer “Sinar Rindu” dalam rangkaian Mooncake Festival Kota Semarang 2026. Koreografi digarap Paminto Krisna, yang tampil bersama Fifi, Dewi, dan Lies Sukardi. Musik pengiring dimainkan Lam Kwan dari Boen Hian Tong.

Panggung mereka bukan gedung pertunjukan.

Panggungnya adalah halaman Tay Kak Sie.

Langit menjadi atapnya.

Dan bulan menjadi lampunya.

Rindu Mempunyai Tubuh


Pada awal pertunjukan, gerakan para penari nyaris seperti bisikan. Tidak ada ledakan tenaga. Tidak ada gerak yang tergesa.

Satu tangan terangkat.

Berhenti.

Kembali.

Satu langkah maju.

Lalu mundur.


Dari gerak sederhana itu, perlahan terbentuk sebuah hubungan: mendekat dan menjauh, menemukan dan kehilangan, ingin menggenggam tetapi harus melepaskan.

Empat penari bergerak dalam formasi yang berubah-ubah. Mereka berpapasan, berdekatan, kemudian kembali mengambil jarak.

Tubuh-tubuh itu seperti manusia yang sedang berhadapan dengan masa lalu.


Ada sesuatu yang ingin didekati.

Tetapi semakin didekati, semakin terasa bahwa ia sudah jauh.

Di situlah Paminto menerjemahkan rindu.

Bukan sebagai tangisan.

Bukan sebagai ratapan.

Melainkan sebagai pengalaman tubuh.


Rindu ternyata bisa memiliki langkah, arah, jarak, bahkan jeda.

Seseorang dapat merindukan manusia lain. Tetapi seseorang juga dapat merindukan rumah, kampung halaman, masa kanak-kanak, sebuah percakapan, atau dirinya sendiri pada masa lalu.

Sebab rindu hanya mungkin tumbuh dari sesuatu yang pernah hadir.


Bulan yang Membuka Ingatan

Di balik pertunjukan itu ada simbol yang sederhana: bulan.


Dalam Festival Kue Bulan, purnama menjadi bagian penting dari tradisi berkumpul dan mengingat keluarga. Bulan yang sama dilihat oleh mereka yang berada di tempat berbeda.

Karena itu, bulan seolah menjadi jembatan.

Yang jauh terasa dekat.

Yang telah lama pergi terasa kembali.

Namun “Sinar Rindu” membawa simbol tersebut lebih jauh.


Bulan tidak pernah benar-benar mengembalikan masa lalu.

Ia hanya menerangi ingatan tentangnya.


Cahaya jatuh di bangunan tua. Seketika sebuah tempat dapat terasa akrab. Sebuah wajah bisa muncul dari ingatan. Sebuah rumah yang telah lama ditinggalkan dapat terasa dekat kembali.


Begitulah kenangan bekerja.

Ia tidak selalu datang ketika dicari.

Kadang ia muncul hanya karena cahaya.

Atau suara.

Atau aroma.

Atau sebuah malam ketika bulan berada pada bentuk penuhnya.


Ketika Diam Menjadi Bahasa

Musik Lam Kwan tidak sekadar menjadi pengiring. Ia bergerak bersama tubuh para penari, membangun suasana tanpa memaksa penonton memasuki satu tafsir.


Ada bagian ketika musik dan gerak mengalir.

Ada bagian ketika tempo melambat.

Lalu muncul jeda.

Jeda itu justru penting.


Dalam tari, diam bukan berarti kosong. Tubuh yang berhenti dapat menyimpan cerita yang sama kuatnya dengan tubuh yang bergerak.

Pada saat itulah penonton mendapatkan ruang untuk membawa pengalaman mereka sendiri.

Seseorang mungkin melihat seorang penari yang mengulurkan tangan dan teringat ibunya.

Yang lain mungkin melihat jarak antartubuh dan mengingat seseorang yang telah pergi.

Yang lain lagi mungkin hanya merasakan kesunyian.

Tidak ada tafsir yang harus dipaksakan.

“Sinar Rindu” membiarkan setiap penonton menemukan rindunya sendiri.


Sebuah Keheningan di Tengah Pesta

Di luar ruang pertunjukan, Pecinan Semarang tetap hidup.

Cahaya lampion. Percakapan. Kuliner. Musik. Orang-orang yang datang dan pergi. Tradisi yang bergerak bersama kehidupan kota.


Mooncake Festival adalah perayaan.

Tetapi di tengah pesta itu, “Sinar Rindu” justru memilih keheningan.

Ia meminta penonton berhenti sebentar.


Menatap.

Mendengar.

Merasakan.

Kemudian menengadah kepada bulan.


Barangkali pertanyaan yang muncul sederhana:

Siapa yang sedang kita rindukan?

Tidak ada jawaban yang diperlukan.

Sebab rindu bukan persoalan yang harus diselesaikan.


Ia cukup hadir.

Seperti cahaya bulan yang tidak pernah meminta izin ketika jatuh di atas sebuah rumah, jalan, klenteng, atau wajah seseorang.

Dalam ruang budaya Pecinan Semarang, tari kontemporer itu mempertemukan masa lalu dan masa kini. Simbol tradisional bertemu bahasa tubuh modern. Klenteng tua menjadi latar bagi koreografi baru.


Di sana, tradisi tidak berhenti sebagai benda masa lalu.

Ia bergerak.

Ia ditafsirkan kembali.

Ia menemukan tubuh baru.


Cahaya yang Tidak Selesai

Pertunjukan akhirnya mendekati penghujung.

Gerakan empat penari semakin lambat. Formasi yang sejak tadi berubah perlahan mengendur.

Satu per satu tubuh berhenti.

Musik mereda.


Hening.

Namun bulan tetap menyala.


Cahayanya masih jatuh di atas Tay Kak Sie dan bangunan-bangunan tua Pecinan Semarang.

Pertunjukan telah selesai, tetapi sesuatu seperti masih tertinggal di udara.



Mungkin itulah yang hendak disampaikan “Sinar Rindu”: bahwa kenangan tidak selalu membutuhkan kata-kata.

Ia bisa hidup dalam gerak.

Dalam musik.

Dalam cahaya.

Dalam sebuah tempat.

Atau dalam sebuah malam ketika seseorang tiba-tiba teringat kepada orang yang sudah lama tidak ditemuinya.


Klub Merby malam itu tidak hanya menghadirkan tari di Mooncake Festival.

Mereka menghadirkan pengalaman tentang manusia yang selalu berhadapan dengan waktu: mendekati sesuatu, kehilangan sesuatu, lalu menyimpannya dalam ingatan.

Rindu pun tidak selalu berarti kesedihan.

Ia bisa menjadi cahaya.

Tidak menyilaukan.

Tidak memaksa.

Hanya cukup terang untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang pernah kita cintai belum sepenuhnya hilang.


Malam itu, di bawah bulan purnama, rindu mendapatkan tubuhnya.

Ia bergerak.

Ia berhenti.

Ia menjauh.

Ia mendekat.

Lalu perlahan menjadi cahaya.


Cahaya yang mungkin tetap menyala, bahkan ketika para penari telah meninggalkan panggung dan bulan mulai bergeser dari langit Semarang. (Christian Saputro)





Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top