Rosadi Jamanis
YANG merasa ASN, ngumpul di sini sekejab. Ini soal gaji ente. Banyak Kopdes Merah Putih belum beroperasi. Ada ribuan manajer memilih mundur. Jurus yang ada membuat nama Kopdes semakin anjlok. Ternyata, ada jurus terbaru, gaji PNS akan disalurkan lewat program kesayangan Prabowo itu. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Nuan bayangkan, di tengah ribuan gerai masih lebih mirip gudang kosong dari pusat ekonomi desa, pemerintah tiba-tiba menemukan formula ajaib. Gaji ASN akan disalurkan lewat Kopdes Merah Putih.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono dengan yakin mengumumkan, rencana ini akan direalisasikan tahun 2026 ini juga. Sudah diajukan ke Kementerian Keuangan, sudah disetujui. Anggarannya sudah disiapkan. “Sekarang,” katanya, seolah-olah tinggal tekan tombol dan uang gaji langsung mengalir deras ke kas Kopdes seperti air hujan di musim kemarau.
Tujuannya mulia sekali. Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi menjelaskan, ini bagian dari upaya memperkuat koperasi sekaligus memperluas layanan keuangan bagi masyarakat. Bukan untuk menggantikan bank, katanya. Hanya alternatif. Seperti menawarkan jalan setapak di samping tol sudah mulus, lalu berharap semua orang antusias berbelok.
Setiap Kopdes nantinya akan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia, BRIlink, dan siapa saja mau ikut bermain. Lalu, secara ajaib, koperasi yang baru saja mendapat manajer dengan gaji Rp6,3 juta sampai Rp8,3 juta per bulan itu akan berubah menjadi mesin pencetak likuiditas.
Sayangnya, tidak semua orang terpesona. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya segera meluruskan, ini baru salah satu kemungkinan saja. Bukan keputusan final. Tidak diwajibkan. Tidak untuk semua ASN. Masih butuh kajian matang antarlembaga. Seolah-olah sedang mengingatkan, dapur ASN adalah urusan serius, bukan tempat eksperimen “ayo kita coba dulu, nanti dilihat hasilnya.”
KemenPAN-RB lewat Bob Arfan lebih hati-hati. Mereka perlu cek dulu. Mekanisme penyaluran gaji ASN adalah kewenangan Kementerian Keuangan. Prinsipnya jelas. Apa pun mekanismenya, pengambilan gaji harus mudah, aman, tepat waktu, dan bisa diakses di mana pun ASN bertugas. Jangan sampai ASN di pelosok harus antre di gerai yang masih bau cat baru hanya karena ingin menerima haknya.
Ekonom pun ikut bersorak dengan nada berbeda. Mereka mengingatkan risiko dana gaji selama ini mengendap di Bank Pembangunan Daerah akan tersebar ke ribuan koperasi kecil. Likuiditas BPD bisa goyah. Sistem koperasi belum teruji bisa membuat gaji terlambat. Fleksibilitas ASN berkurang karena jaringan Kopdes belum sehebat minimarket atau ATM. Ada yang bilang jasa penyaluran gaji saja tidak akan cukup membuat Kopdes hidup. Terlalu kecil. Seperti memberi sepiring nasi kepada orang lapar dengan harapan ia langsung jadi pengusaha sukses.
Organisasi pegawai negeri seperti KORPRI belum sempat membuka mulut secara resmi. Isu ini terlalu segar. Mungkin mereka masih sibuk menghitung berapa jauh jarak dari rumah ke gerai Kopdes terdekat, atau membayangkan skenario di mana gaji tanggal 1 berubah menjadi tanggal “insyaallah.”
Di sinilah kejeniusan itu bersinar. Ketika program besar mulai terlihat lesu, ketika manajer ada mundur, ketika operasional masih tertatih, solusinya sederhana, masukkan gaji ASN. Biar koperasi langsung hidup. Biar arus kas langsung deras. Biar nama program kembali harum. Siapa bilang menghidupkan koperasi harus lewat usaha produktif yang rumit? Cukup alihkan “dapur” jutaan orang ke sana, maka semuanya akan beres. Setidaknya di atas kertas. Di atas kertas, segalanya selalu terlihat indah. (*)
#camanewak

