Rosadi Jamani


NEGERI ini persoalannya cuma dua: kalau tidak MBG, ya Kopdes Merah Putih. Kalau MBG selalu berhiasa keracunan. Kopdes Merah Putih tak jauh cerita manajer. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Terbaru, para manajer Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih alias KDKMP yang sudah dilatih dengan dana triliunan justru memilih mundur. Sebanyak 1.051 manajer mundur dengan elegan. Dari jumlah itu, 969 orang menolak offering letter. Sementara 532 lainnya membiarkan surat penawaran tersebut kedaluwarsa. Padahal gaji mereka sudah ditetapkan antara Rp 6,8 juta hingga Rp 8,3 juta per bulan (all-in, sudah termasuk gaji pokok + tunjangan).

Ini bukan sekadar mundur. Ini seperti sudah ikut pendidikan calon pasukan khusus, kemudian ketika diberi tahu medan penugasannya, mereka melihat peta lalu berkata, “Mohon izin, saya pulang dulu.”

Sebab pelatihan para manajer ini memang bukan pelatihan manajer biasa. Mereka digembleng ala militer. Dibentuk mentalnya, digojlok, diplonco, seolah-olah negara sedang mempersiapkan komandan untuk menyerbu wilayah musuh. Padahal musuh yang akan dihadapi nanti adalah stok beras, pupuk subsidi, pembukuan, pelanggan, dan warga desa yang mungkin lebih suka belanja di warung sebelah.

Ini bukan sekadar latihan bikin pegal dan rambut berdiri. Lima orang meninggal dunia saat mengikuti pelatihan tersebut. Fakta ini membuat cerita penggemblengan manajer Kopdes Merah Putih menjadi jauh lebih serius. Calon pengelola koperasi ditempa dengan pola ala militer sampai ada peserta kehilangan nyawa. Nuan bayangkan, mau mengelola koperasi desa, tetapi pelatihannya seperti hendak dikirim ke medan perang.

Mungkin filosofinya begini. Kalau nanti ditempatkan di pelosok jauh dari peradaban, manajer harus sudah kebal terhadap penderitaan. Tidak ada sinyal? Tahan. Jauh dari permukiman? Tahan. Jalan berlumpur? Tahan. Gerai sepi? Tahan. Mungkin kalau pelanggan cuma datang membeli satu kilogram beras sehari, mental tetap harus baja.

Sebab beberapa gerai memang muncul di lokasi yang membuat Google Maps ikut berpikir keras. Ada tengah hutan, dekat kuburan, kaki gunung, bahkan tempat yang dari udara tampak seperti markas alien salah alamat. Tapi tenang, penjelasan lokal biasanya menyejukkan, “Cuma sebatang rokok dari permukiman.”


Masalahnya, 4 Oktober 2026 sudah tiba. Target “awal Oktober aktif” sudah lewat. Namun gelombang manajer datang membawa koper, laptop, dan semangat gotong royong belum juga terlihat memenuhi pelosok. Sebagian malah masih berada di kantor Agrinas meminta relokasi.

Wajar juga. Mereka harus menghidupi dua dapur dengan penghasilan sekitar Rp6,8 juta sampai Rp8,3 juta. Sementara tempat kerjanya bisa berada nun jauh di pelosok.

Di belakang semua itu ada angka lebih bikin kepala berdenyut. Potensi utang Rp240 triliun yang ditalangi Himbara. Cicilan pertama Rp37,7 triliun jatuh tempo 25 September dan masih menunggu verifikasi BPKP. Pemerintah pusat menanggung. Sementara porsi Dana Desa dipotong hingga lebih dari separuh.

Di Kalimantan Barat, satu unit Kopdes sempat terbengkalai karena kontraktor kabur, AC hilang, dan pekerja belum dibayar. Bangunannya sudah menyerah sebelum manajernya datang. Padahal ukuran sukses koperasi sederhana saja. Omzet, arus kas, dan apakah warga benar-benar belanja di sana.

Targetnya 80.000 unit. Puluhan ribu manajer dilatih. Triliunan rupiah digelontorkan. Bahkan mental manajer ditempa ala tentara. Tinggal satu pertanyaan, setelah semua ini, apakah rakyat akan datang belanja?

Sebab kalau gerainya sepi, jangan disebut gagal. Sebut saja monumen beton perjuangan ekonomi desa. Manajernya sudah ditempa. Uangnya sudah digelontorkan. Tinggal pembelinya yang belum tentu datang.

“Bang, padahal saya ingin ngopi di Kopdes tu, tapi tak pernah buka di dari awal berdiri.”

“Mungkin manajernya sudah mundur kali, wak.” Ups (*)

#camanewak






 
Top