Oleh: Taufiq F Pasiak
SAYA membaca tulisan Denny JA (“mengapa banyak civil society merasa dikhianati oleh rocky gerung?”) tentang Rocky Gerung dengan satu pertanyaan yang sejak awal terus mengganggu pikiran saya: mengapa kita begitu mudah menghubungkan konsistensi seseorang dengan tempat ia berdiri?
Seolah-olah berada di luar kekuasaan selalu berarti independen, sementara masuk ke dalam kekuasaan dengan sendirinya membuat seseorang kehilangan kemerdekaannya.
Padahal hampir seluruh kehidupan manusia adalah soal pilihan. Kita memilih pekerjaan, teman, organisasi, cara berbicara, bahkan memilih kapan harus diam. Kita juga memilih kanal melalui mana gagasan diperjuangkan. Pilihan tentu mempunyai konsekuensi, tetapi sebuah pilihan tidak dapat dinilai hanya dari tempat seseorang berada setelah memilihnya. Ia harus dinilai dari apa yang tetap ia pertahankan setelah pilihan itu dibuat.
RG memilih masuk ke Dewan Pertimbangan Presiden. Orang lain mungkin memilih tetap berada di kampus. Ada yang memilih jalanan, lembaga swadaya masyarakat, media, parlemen, partai politik, atau bahkan percakapan kecil di ruang-ruang yang tidak pernah terlihat kamera. Saya kira tidak ada satu kanal yang secara moral lebih suci daripada kanal lainnya. Yang membuatnya bernilai adalah untuk apa kanal itu digunakan.
Karena itu saya agak berbeda ketika perpindahan RG dari luar ke dalam kekuasaan dibaca sebagai kemungkinan retaknya sebuah “kontrak moral”. Ini soal kontrak moral dengan siapa? Seorang intelektual publik tentu mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat. Namun, ia tidak pernah menyerahkan kemerdekaan dirinya kepada pengikutnya.
Kita boleh mempercayai seseorang, tetapi kepercayaan itu tidak memberi kita hak untuk menentukan bahwa ia harus selamanya berdiri di tempat yang kita sukai.
Hemat saya, kita perlu membedakan antara konsistensi dalam posisi dan konsistensi dalam prinsip. Keduanya bukan hal yang sama. Penting dicatat, orang yang tidak pernah berpindah tempat belum tentu konsisten terhadap nilai dan prinsipnya. Sebaliknya, seseorang dapat berpindah tempat berkali-kali tetapi tetap membawa kompas moral yang sama. Sungai dapat berganti jalur, tetapi airnya tetap bergerak menuju laut.
Maka bagi saya pertanyaan kepada RG bukanlah, “Mengapa Anda masuk Istana?” Pertanyaannya mungkin lebih sederhana sekaligus lebih berat: “Apakah setelah berada di Istana Anda masih mengatakan hal yang sama terhadap kekuasaan ketika kekuasaan melakukan sesuatu yang menurut Anda salah?” Saya mau lihat konsistensi RG diuji dalam soal ini.
Kita kerap terjebak pada romantisme bahwa suara kritis harus selalu berasal dari luar pagar. Jika kita bersuara kritis dari luar sebuah kekuasaan seakan kitalah kritikus yang sejati.
Sependek hidup saya sebagai aktivis hingga menjadi ‘sedikit’ seseorang yang memegang jabatan; saya tidak sepenuhnya percaya pendapat itu. Kritik dari luar mempunyai kekuatan karena bebas dan terbuka. Tetapi kritik dari dalam mempunyai kemungkinan lain. Kritik dari dalam, atau dalam istilah saya di ‘titik api’, dapat tiba lebih cepat dibandingkan dari jauh ‘titik api’. Tentu, Keduanya diperlukan.
Demokrasi membutuhkan orang yang berteriak dari luar pagar, tetapi mungkin juga membutuhkan seseorang yang dapat mengetuk meja rapat dari dalam ruangan.
Tentu risikonya berbeda. Orang di luar berisiko tidak didengar. Orang di dalam berisiko kehilangan keberanian untuk berbicara. Yang pertama berhadapan dengan jarak dari kekuasaan, sementara yang kedua berhadapan dengan gravitasi kekuasaan.
Dan saya setuju dengan Denny JA pada bagian ini’ “kekuasaan memang mempunyai gravitasi. Semakin dekat seseorang dengannya, semakin besar kemungkinan cara pandangnya ikut berubah.” Saya mau lihat bagaimana pengaruh gravitasi ini terhadap RG.
Namun, tentu perubahan itu tidak selalu berarti pengkhianatan. Terlalu naif dan kekanak-kanakan jika kesimpulan melompat seperti ini. Manusia belajar, memperoleh informasi baru, berjumpa dengan realitas yang sebelumnya tidak ia ketahui, kemudian mengubah pendapatnya.
Bukankah justru aneh apabila seorang intelektual tidak pernah berubah pikiran sepanjang hidupnya? Konsistensi yang sehat bukanlah mengulang kalimat yang sama selamanya. Konsistensi adalah kesetiaan kepada cara berpikir, nilai, dan ukuran moral, sekalipun kesimpulannya dapat berubah karena fakta berubah.
Karena itu rekaman ucapan RG pada masa lalu bahwa ia akan menolak jabatan memang layak dipertanyakan. Tetapi pertanyaan tersebut seharusnya tidak tuntas pada, “Dulu Anda mengatakan A, sekarang melakukan B.” Pertanyaan yang lebih intelektual adalah: apa yang berubah dalam premis, keadaan, atau pertimbangan Anda sehingga keputusan Anda berubah?
Jika ia mampu menjelaskannya secara rasional, perubahan pilihan tidak otomatis menjadi inkonsistensi. Jika tidak mampu, barulah publik mempunyai alasan lebih kuat untuk curiga.
Saya melihat persoalan lain yang lebih mendasar. Kita sering tanpa sadar ingin memiliki orang yang kita kagumi boleh jadi karena keberaniannya. Karena ia pernah menyuarakan kegelisahan kita, kita merasa ia harus terus berbicara dengan bahasa kita, melawan orang yang kita lawan, dan berdiri di tempat yang kita tentukan. Begitu ia memilih jalan lain, muncul kata “pengkhianatan”. Padahal mungkin yang berubah bukan nilai orang tersebut, melainkan harapan kita terhadap dirinya.
Civil society tentu berhak kecewa kepada RG. Nama-nama beken dalam tulisan Denny JA itu, ataupun siapa pun berhak menguji argumentasinya. Bahkan saya kira mereka harus melakukannya sendiri. Demokrasi menjadi sehat justru karena tidak seorang pun dibebaskan dari kritik. Tetapi hak mengkritik seseorang berbeda dengan hak menentukan kanal perjuangan yang boleh ia pilih.
Fenomena di atas sungguh lazim dalam kehidupan. Hidup sebenarnya merupakan rangkaian pilihan-pilihan. Bahkan tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan. Kita memilih jalan, kemudian jalan itu menghadirkan konsekuensinya sendiri. Kedewasaan bukan terletak pada kemampuan menghindari semua risiko, melainkan pada kesediaan mempertanggungjawabkan pilihan tersebut.
RG telah memilih. Maka biarkan pilihan itu diuji oleh waktu. Jangan terlalu cepat memberinya medali karena berani masuk ke dalam. Tetapi jangan pula terlalu cepat memberinya stempel pengkhianat karena meninggalkan tempat lamanya. Ukurannya seharusnya sama tentang gagasan apa yang ia pertahankan, kebijakan apa yang ia kritik, nilai apa yang ia bela, dan apa yang ia lakukan ketika kepentingan kekuasaan bertabrakan dengan prinsip yang selama ini ia ucapkan.
Sebab, jangan dikira seorang intelektual tidak menjadi merdeka hanya karena berdiri di dalam Istana. Banyak orang berada jauh dari kekuasaan, tetapi pikirannya telah diperbudak kebencian, kepentingan kelompok, atau fanatisme. Sebaliknya, seseorang yang bekerja beberapa meter dari Presiden masih berpeluang mempertahankan kemerdekaan pikirannya. Dan sejauh pengetahuan saya, lokasi tubuh tidak selalu menunjukkan lokasi pikiran.
Ujian RG sekarang menjadi jauh lebih menarik. Dahulu ia bebas mengkritik kekuasaan yang tidak memberinya apa-apa. Sekarang ia harus membuktikan apakah ia tetap mampu mengkritik kekuasaan yang memberinya tempat. Harga sebuah kritik tentu berbeda dalam dua keadaan itu.
Saya tidak tahu bagaimana sejarah kelak menilai pilihan RG. Mungkin ia berhasil membawa kegelisahan masyarakat masuk ke ruang tempat keputusan dibuat. Mungkin pula kekuasaan perlahan mengubahnya. Kita belum mempunyai cukup waktu untuk mengetahui jawabannya.
Karena itu saya memilih untuk ndak bertanya apakah RG masih berada di pihak civil society atau sudah berada di pihak kekuasaan. Pembelahan semacam itu terlalu sederhana untuk kehidupan manusia yang jauh lebih rumit.
Apa pun kanal yang Anda pilih—jalanan, kampus, media, parlemen, organisasi, atau Istana—apakah Anda masih mempunyai keberanian mengatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, termasuk ketika kebenaran itu merugikan posisi Anda sendiri?
Jika jawabannya ya, pindah tempat bukanlah pengkhianatan. Itu hanya soal pilihan jalan.
Karena pada ghalibnya, yang perlu kita jaga bukanlah agar seorang intelektual tidak pernah berpindah tempat, melainkan agar ketika ia berpindah tempat, kompasnya tidak ikut berpindah.
***
Maukah saya tunjukkan manusia paling berbahaya? mereka adalah para safety player. Siapa mereka? Mereka ini adalah orang atau pemain yang selalu cari aman, menghindari konflik, dan tidak mau mengambil risiko demi keuntungan atau kenyamanan pribadi. Mereka ini jangan pernah Anda ajak berjuang. Karena, mereka justru akan menjadi pembunuh terdekat Anda. Dan sialnya, mereka ada di sekeliling kita saat ini. Tidak pandang jabatannya apapun itu. Ciri mereka yang paling khas adalah lari atau menghindari konflik. (*)
Jakarta, 4 Oktober 2026

