Rosadi Jamani
KALIAN pasti tahu siapa Prof Jiang. Ini profesor bukan kaleng-kaleng. Analisisnya sangat tajam, penuh data, rasional, dan elegan. Wajar bila banyak mengutip dan me-reupload video-videonya. Saya mau menarasikan ulang analisis Prof Jiang tentang sisi gelap China, negaranya sendiri. China tidak sesempurna yang kita bayangkan selama ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
China itu bukan negara. China itu monster geopolitik bikin seluruh planet ini insomni. Barang-barang di rumah ente hampir pasti ada label “Made in China”. Teknologi mereka lari kencang kayak naga baru aja nenggak tiga galon koptagul. Amerika Serikat sampai harus pasang kuda-kuda, bikin tembok tarif, dan nangis di sudut sambil bilang, “Dulu kan lo cuma pabrik murah, sekarang lo mau jadi bos?!”
Tapi di balik gedung pencakar langit tumbuh lebih cepat dari jamur di musim hujan, ada pertanyaan bikin bulu kuduk berdiri, apakah China itu mesin kemajuan sempurna… atau raksasa yang kakinya sudah kesemutan parah karena terlalu lama dikontrol dari atas?
Nuan bayangkan, negara yang bisa bikin kota dalam semalam, tapi warganya hidup di bawah kamera lebih banyak dari jumlah bintang di langit. WeChat bukan cuma chat keluarga. WeChat itu kantor polisi digital yang tinggal di saku nuan. Kritik sedikit aja, siap-siap “hilang” dari internet. Kaya boleh. Terkenal boleh. Tapi jangan sekali-kali ngerasa ente lebih besar dari Partai. Karena di negeri ini, ada satu hukum tak tertulis lebih sakti dari Konstitusi, jangan pernah lebih tinggi dari kekuasaan.
Di sinilah kita masuk ke sisi gelap yang jarang dibahas di berita resmi. Kita mulai dari tragedi 50 juta anak perempuan yang “hilang.” Lima puluh juta anak perempuan, wak. Kok bisa?
Tahun 1970-an, pemerintah bilang, “Anak banyak = kekuatan!” Lalu tiba-tiba Deng Xiaoping datang, bilang, “Anak banyak = masalah.” Jadilah kebijakan satu anak. Bukan imbauan manis. Ini ancaman. Melanggar? Denda gila-gilaan. Anak tak tercatat? Hilang hak sekolah, kesehatan, bahkan identitas.
Di desa, anak laki-laki masih dianggap “asuransi hari tua”. Akibatnya? Preferensi laki-laki + batasan satu anak = aborsi selektif, penelantaran, bahkan pembunuhan bayi perempuan. Profesor Jiang bilang China kehilangan sekitar 50 juta anak perempuan. Angka bikin otak nge-blank. Bukan karena semuanya dibunuh di tempat, tapi karena kombinasi aborsi selektif, laporan palsu, dan diskriminasi yang sistematis.
Negara bilang “rahim lo milik kami”, masyarakat bilang “anak perempuan nggak untung”. Hasilnya? Tubuh perempuan jadi medan perang antara kebijakan dan tradisi. Ketika USG mulai umum, pemerintah langsung larang dokter ngasih tau jenis kelamin janin. Profesor Jiang dan istrinya baru tahu anak mereka laki atau perempuan… pas lagi ngejan. Drama level dewa.
Sekarang kebijakan itu sudah dicabut. Tapi ironinya? China lagi panik karena orang enggan punya anak. Dulu takut kebanyakan, sekarang takut kekurangan. Rahim ternyata bukan pabrik milik Kementerian Perencanaan. Bayi bukan barang bisa dipesan sesuai kuota.
Berikutnya, pendidikan di China, masa kecil yang dibunuh demi nilai. Anak China disiapkan masuk universitas elite sejak masih bisa ngompol. Les matematika, les bahasa, les “bagaimana supaya nggak kalah dari tetangga”. Kalau anak belum bisa berhitung di usia 4 tahun, orang tua sudah mikir masa depan bangkrut. Kalau belum juara kelas, seolah-olah hidup sudah gagal total.
Sistem ini berhasil bikin tenaga kerja super disiplin. Tapi harga yang dibayar? Kreativitas, kesehatan mental, dan kemampuan berpikir kritis yang sering kali dikorbankan di altar ujian. Sementara di Amerika, Profesor Jiang kritik sekolah terlalu cepat kasih label ADHD dan Adderall. Dua kutub ekstrem, satu menekan sampai jiwa remuk, satu lagi medikasi sampai anak jadi robot tenang.
Soal uang, kartel, dan bangsawan Merah. Orang kaya China ingin kabur ke luar negeri, tapi ada batasan $50.000 per tahun. Solusinya? Menurut Prof Jiang, kerja sama dengan kartel Meksiko. Uang narkoba dibersihkan lewat transaksi perdagangan palsu, aset di Amerika dibeli, semua terlihat “sah”. Kalau benar, ini kolaborasi paling busuk di planet. Kapitalis merah ketemu bandar sabu, saling bantu cuci duit. Mereka beda ideologi, beda negara, beda selera makan… tapi sama-sama nyembah dewa bernama uang.
Lalu ada “Red Nobility” bangsawan merah. Keluarga elite punya garis keturunan revolusi. Rakyat kerja keras, mereka nikmati hasil. Jack Ma pernah jadi simbol kebebasan pengusaha. Satu kritik ke regulasi keuangan, Ant Group langsung dibunuh di depan umum, Jack Ma “menghilang” dari sorotan. Pesannya jelas, daeng boleh kaya, tapi jangan sekali-kali ngerasa bisa bicara lebih keras dari Partai.
Kemudian, soal Buruh, Pabrik, dan Ponsel di Tangan Kita. Di balik iPhone yang sampeyan genggam dengan bangga, ada manusia yang kerja 12 jam sehari di Foxconn, tidur di asrama, dan dulu sempat ada lompat dari gedung sampai perusahaan pasang jaring pengaman. Kita marah kalau barang terlambat satu hari. Mereka mungkin sudah kehilangan nyawa demi target produksi. Kita mau harga murah, kualitas tinggi, pengiriman kilat, dan hati nurani bersih… semuanya sekaligus. Mustahil.
Raksasa ekonomi belum tentu raksasa kemanusiaan. Gedung boleh menjulang sampai mencium awan, teknologi boleh membuat Amerika berkeringat dingin, tetapi kemajuan kehilangan makna jika manusia cuma diperlakukan sebagai angka statistik, tenaga produksi, dan objek pengawasan.
Negara boleh mengendalikan banyak hal. Namun, ketika kekuasaan merasa berhak mengatur segalanya, pertanyaan paling penting justru terlupakan, untuk apa pembangunan jika manusia di dalamnya tidak sepenuhnya bisa hidup bermartabat? (*)
#camanewak

