SIAPA sangka, perjalanan intelektual salah satu pemikir Islam terbesar yang dimiliki Indonesia berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Prof. H. Azyumardi Azra, M.A., CBE., cendekiawan asal Ranah Minang yang namanya mendunia, mulanya tidak pernah bercita-cita menempuh pendidikan di perguruan tinggi keagamaan. Namun, dorongan kuat dari sang ayah sanggup mengubah takdir hidupnya hingga tumbuh menjadi tokoh pembaharu pendidikan Islam di Tanah Air.

Lahir di Lubuk Alung, Padang Pariaman pada 4 Maret 1955, Azyumardi muda sebenarnya berniat menempuh pendidikan umum di IKIP. Namun, atas desakan dan arahan sang ayah, ia akhirnya mendaftar ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keputusan yang sempat diambil setengah hati tersebut justru menjadi pintu pembuka bagi lahirnya seorang intelektual ulung.

Selama masa perkuliahan, bakat kepemimpinan dan ketajaman berpikirnya kian terasah tajam. Azyumardi dipercaya memimpin HMI Cabang Ciputat dan aktif mengasah keahlian jurnalistiknya sebagai wartawan majalah Panji Masyarakat. Semangat belajarnya yang luar biasa mengantarkannya meraih beasiswa prestisius Fulbright hingga berhasil merengkuh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari Columbia University, Amerika Serikat.

Sepulangnya ke Tanah Air, Azyumardi mengukir sejarah besar dalam dunia pendidikan Islam. Saat dipercaya menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1998, ia memimpin transformasi bersejarah yang mengubah status institusi tersebut menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) pertama di Indonesia. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum secara harmonis.

Reputasi akademisnya diakui luas oleh kancah internasional. Selain aktif menulis puluhan buku bernilai tinggi dan mengajar sebagai Professorial Fellow di Universitas Melbourne, pengakuan dunia kembali hadir pada tahun 2010. Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris menganugerahkan gelar kehormatan Commander of the Order of the British Empire (CBE) kepadanya, membuat Azyumardi berhak menyandang gelar "Sir" dari Kerajaan Inggris.

Pengabdiannya pada kebebasan berpendapat dan integritas media membawanya didapuk menjadi Ketua Dewan Pers pada tahun 2022. Namun, perjalanan panjang sang guru bangsa ini resmi berakhir ketika beliau berpulang ke rahmatullah saat menjalankan tugas akademis di Malaysia pada 18 September 2022. Warisan pemikiran Azyumardi Azra berupa gagasan moderasi Islam (wasathiyah), pembaruan pendidikan, serta puluhan karya tulisnya akan terus menjadi obor penerang bagi peradaban bangsa Indonesia dan dunia Islam.

#wkp/ede




 
Top