Oleh: Junaidi Jamsari | Pegiat Literasi
SEBANYAK 56 orang tercatat pada pekan kelima berjalannya Lapak Baca Lampung Barat, Minggu, 18 Oktober 2026.
Bagi sebuah kota seperti Liwa, angka itu mungkin terlihat kecil. Namun, angka itu menjadi begitu besar dan berharga jika kita tahu perjuangan di baliknya.
Bayangkan, puluhan buku itu harus diangkut bolak-balik menggunakan sepeda motor menuju Kompleks Pemda. Setelah matahari meninggi dan lapak usai, buku-buku itu dikemas lagi, lalu dibawa pulang ke sebuah rumah di Sebarus yang kini menjadi sekretariat sementara.
Di sini tidak ada gedung perpustakaan megah yang sejuk ber-AC. Yang ada hanyalah motor tua, beberapa lembar karpet, serta ketulusan niat dari seorang Bagus Gunawan dan kawan-kawan.
Namun, dari segala keterbatasan itulah sesuatu yang indah mulai tumbuh. Pengunjung tidak lagi sekadar datang, membalik halaman buku, lalu pulang.
Mereka mulai duduk bersama, saling melempar senyum, dan berdiskusi. Beberapa anak muda tampak asyik menyalin kutipan menarik, bahkan mulai berani menulis resensi kecil. Di sinilah letak keistimewaan pekan kelima ini. Lapak Baca sedang naik kelas. Bergerak perlahan dari sekadar aktivitas membaca, menjadi ruang untuk mengasah nalar dan berpikir.
Bersuara Lewat Ulasan Buku
Satu hal yang paling menarik adalah program sederhana bernama Review Book. Pengunjung diajak menuliskan kutipan favorit mereka, lalu mengulasnya dengan bahasa sendiri. Kelihatannya sederhana, namun dampaknya luar biasa.
Di Lampung Barat, kita tidak lagi kekurangan orang yang bisa membaca teks. Yang kita butuhkan saat ini adalah generasi yang berani menyuarakan pendapat, berani menghargai perbedaan pandangan, dan mampu berdiskusi dengan kepala dingin tanpa mudah tersinggung.
Lapak Baca tidak ingin terjebak menjadi sekadar kegiatan seremonial yang sepi esensi. Seperti yang kerap ditegaskan Bagus, jangan sampai gerakan ini hanya jadi pajangan. Harus ada proses, interaksi hangat, dan manfaat nyata yang dibawa pulang oleh warga.
Inilah wajah literasi yang sesungguhnya. Bukan sekadar hitung-hitungan angka berapa banyak buku yang keluar—meski pekan ini ada 11 buku yang dipinjam untuk dibawa pulang—melainkan sejauh mana buku-buku itu mampu mengubah cara kita memandang dunia dan menceritakan kehidupan.
Promosi Digital, Operasional Otot
Ada kontras yang menyentuh hati di gerakan ini. Di satu sisi, mereka sangat kekinian dengan memanfaatkan Instagram dan WhatsApp untuk woro-woro. Namun di sisi lain, urusan operasionalnya masih sangat manual dan mengandalkan keringat: buku-buku berat itu harus ditumpuk di atas jok motor.
Kontras ini justru menjadi bukti kejujuran sebuah gerakan akar rumput. Mereka tidak memilih untuk duduk diam meratapi fasilitas yang belum ada. Mereka memilih bergerak, menjemput bola dengan apa yang tersisa di tangan.
Keterbatasan yang mereka pikul sendiri ini seharusnya memanggil nurani kita semua. Lapak Baca ini sedang mengetuk pintu hati kita untuk memberikan dukungan nyata. Mereka butuh rak buku yang layak, tenda pelindung dari hujan dan panas, koleksi buku baru, atau barangkali sebuah ruang tetap agar buku-buku itu tidak lagi harus berdesakan di rumah pengurus.
Jika dengan fasilitas seadanya saja 56 orang bersedia datang dan belajar, bayangkan betapa luasnya manfaat yang tercipta jika gerakan ini kita dukung bersama.
“Ruang Ketiga” yang Dirindukan
Permintaan pengunjung agar kegiatan ini digelar dua kali sepekan menjadi sebuah sinyal kuat: masyarakat Lampung Barat sedang haus akan ruang ketiga. Setelah penat dengan urusan rumah dan rutinitas sekolah atau kerja, mereka butuh ruang publik untuk sekadar bertemu, bercerita, dan belajar bersama tanpa sekat birokrasi yang kaku. Lapak Baca hadir mengisi kekosongan itu.
Langkah Bagus Gunawan dan kawan-kawan tidak berhenti di sini. Mereka sudah menyusun mimpi yang lebih besar: menggelar diskusi buku, bedah karya, latihan berbicara di depan publik, hingga melatih berpikir kritis. Ini bukan lagi sekadar lapak gelar tikar. Ini telah menjelma menjadi sekolah alternatif—sebuah sekolah nalar kehidupan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi tentang apakah Lapak Baca ini perlu didukung. Melainkan, seberapa peduli kita untuk ikut merawat tunas literasi yang tumbuh dari ruang-ruang sederhana ini?
Dari sini kita belajar bahwa budaya membaca tidak butuh kemewahan. Ia hanya butuh dua hal: keberanian untuk memulai, dan konsistensi untuk terus menggelar lapak, pekan demi pekan.
Lapak Baca pekan kelima memang telah melipat tikarnya hari ini. Namun, dialog dan harapan yang lahir dari 56 pengunjung itu baru saja dimulai. Mari kita jaga agar apinya tidak padam.
#hatipena

