BAGI masyarakat Sumatera Barat, nama Mayor Jenderal TNI (Purn.) Ismed Yuzairi Chaniago dikenal sebagai salah satu putra terbaik berdarah Minangkabau yang sukses mengukir prestasi gemilang di jajaran elite komando taktis dan teritorial Angkatan Darat.
Lahir pada 1 Januari 1949 di Sawahlunto, Sumatra Tengah, ia tumbuh besar dalam pelukan ibunya, Yuniar, tanpa pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ayah.
Ayahnya, Mayor (Anumerta) Zainuddin atau yang dikenal sebagai Kapten Zainuddin Tembak, gugur sebagai kusuma bangsa dalam Peristiwa Situjuh saat mempertahankan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Kehilangan figur ayah sejak masih bayi menjadi titik awal perjuangan hidupnya yang penuh kemandirian, sebuah fase awal yang menempa mentalnya sekokoh baja sebelum ia memantapkan langkah memasuki dunia militer profesional.
Warisan darah juang sang ayah membawanya lulus dari Akademi Militer pada tahun 1971, di mana ia langsung memilih Korps Infanteri sebagai jalur pengabdian utamanya.
Langkah pertamanya sebagai Letnan Dua dimulai di pasukan elite sebagai Komandan Peleton-I/C Batalyon 530 Lintas Udara, yang kemudian membawanya terjun langsung ke medan laga Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1975.
Ketajaman taktis dan keberaniannya di lapangan membuat kariernya melesat cepat di lingkungan cadangan strategis, hingga dipercaya memegang tongkat komando sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak pada tahun 1986.
Reputasinya yang solid di jajaran baret hijau membawanya meraih pangkat Brigadir Jenderal saat ditunjuk memimpin Divisi Infanteri 1/Kostrad, disusul promosi pangkat Mayor Jenderal ketika diangkat menjadi Kepala Staf Kostrad pada tahun 1997.
Puncak kepemimpinan teritorialnya tercapai pada tahun 1998 ketika ia dipercaya menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan yang bermarkas di Medan.
Memimpin wilayah teritorial yang membawahi empat provinsi strategis di Sumatera menempatkan dirinya sebagai tokoh sentral dalam menjaga stabilitas keamanan dan merajut kemitraan bersama masyarakat.
Namun, setelah sukses memimpin ribuan pasukan operasional di lapangan, dinamika organisasi membawanya pada fase pergeseran tugas di meja birokrasi pembinaan doktrin markas besar.
Masa jabatannya sebagai Pangdam berakhir pada tahun 1999 untuk kemudian dimutasi berturut-turut menjadi Komandan Pusat Teritorial TNI AD serta Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri.
Pergeseran dari komando kewilayahan aktif menuju pusat pendidikan ini sempat menjadi fase transisi dengan ritme yang berbeda dari hiruk-pikuk penugasan lapangan sebelumnya.
Dedikasi yang tak pernah surut di meja pembinaan tersebut justru menjadi jembatan emas yang mengantarnya pada posisi pengawasan tertinggi di matra darat.
Pada tahun 2002, ia resmi diangkat menduduki posisi nomor satu di jajaran pengawasan internal militer sebagai Inspektur Jenderal TNI Angkatan Darat (Irjenad).
Di posisi pamungkasnya ini, menantu dari tokoh perjuangan Ahmad Husein tersebut mencurahkan seluruh sisa masa dinasnya bersama sang istri, Febrina, untuk menegakkan transparansi dan disiplin administrasi di seluruh satuan kerja.
Perjalanan panjang sang jenderal yang sarat dengan operasi militer, termasuk penugasan di Papua, berakhir paripurna saat memasuki masa purnatugas pada tahun 2004.
Sosok perwira tangguh ini mengembuskan napas terakhirnya pada 28 Agustus 2005 di Jakarta dan dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
#wkp/bin


