DI RANAH Minangkabau, nama Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib, atau yang lebih dikenal luas sebagai Profesor Raudha Thaib, adalah representasi hidup dari keagungan budaya, sastra, dan intelektualitas. Lahir di Pagaruyung, Tanah Datar pada 31 Agustus 1947, perempuan karismatik ini memegang identitas multidimensi yang luar biasa: ia adalah seorang akademisi murni, sastrawati terkemuka, sekaligus ahli waris sah dari garis keturunan Kerajaan Pagaruyung.

Sebagai figur sentral perempuan adat, saat ini Profesor Raudha Thaib mengemban amanah sebagai Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat. Posisi tertinggi kepemimpinan perempuan adat Minangkabau ini diamanahkan kepadanya sejak dikukuhkan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) pada Juni 2010 lalu.

Tumbuh di Lingkungan Istana dan Jejak Akademik Cemerlang

Raudha Thaib lahir dari pasangan Muhammad Thaib Datuak Panghulu Basa, seorang pendidik, dan Puti Reno Disma Yang Dipertuan Gadih Gadang. Menjadi kakak dari mendiang Raja Pagaruyung Sultan Muhammad Taufiq Thaib, masa kecil dan remajanya dihabiskan untuk menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Batusangkar, sebelum akhirnya merantau ke Padang untuk mendalami ilmu sains.

Minatnya pada dunia pertanian mengantarkannya meraih gelar Sarjana Pertanian (Insinyur) dari Universitas Andalas (Unand) pada tahun 1971. Dedikasinya pada ilmu pengetahuan membuat almamaternya langsung meminang Raudha untuk mengabdi sebagai dosen. Sembari mengajar, ia terus memperdalam keilmuannya hingga meraih gelar Magister Pertanian pada 1997 dan gelar Doktor pada 2007.

Puncak karier akademiknya tercapai pada tahun 2010 ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam Ilmu Teknologi Benih di Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Pada masa itu, ia menjadi satu-satunya profesor di bidang keahlian tersebut di fakultasnya. Sepanjang masa baktinya, ia tercatat pernah menduduki posisi strategis seperti Ketua Laboratorium Teknologi Benih, Ketua Program Studi Teknologi Benih, hingga menjadi anggota Senat Akademik Fakultas Pertanian Unand, sebelum akhirnya resmi memasuki masa purnabakti (pensiun) pada tahun 2017 di usia 70 tahun.

Upita Agustine: Sisi Romantis Sang Sastrawati

Di luar kesibukannya meneliti benih di laboratorium dan mengajar mahasiswa, Raudha memiliki jiwa seni yang peka dan tajam. Ketertarikannya pada dunia literasi tumbuh subur sejak ia masih berstatus mahasiswa. Untuk memisahkan dunia akademik dan karya sastra klasiknya, ia memilih menggunakan nama pena yang sangat melegenda di dunia sastra Indonesia: Upita Agustine. Nama indah ini merupakan akronim dari nama kecilnya, Upik Tando, dipadukan dengan Agustus yang merupakan bulan kelahirannya.


Sebagai penyair, Upita Agustine dikenal sebagai salah satu wanita penulis yang sangat produktif dan memiliki warna puitis yang khas. Puisi-puisinya menghiasi berbagai antologi sastra nasional terkemuka. Beberapa karya tunggal dan kolaborasinya yang monumental antara lain:

Bianglala (1973)

Dua Warna (1975; bersama sastrawan Hamid Jabbar)

Laut Biru Langit Biru (Antologi, 1977)

Terlupa dari Mimpi (1980)

Tonggak 3 (1987)

Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (1990)

Sunting (1995; bersama Yvonne de Fretes)

Kehidupan Pribadi dan Cinta Bersama Sang Maestro Sastra

Dunia sastra pula yang mempertemukan Raudha Thaib dengan belahan jiwanya. Pada tahun 1978, ia menikah dengan salah satu maestro teater dan sastrawan terbesar Sumatra Barat, Wisran Hadi. Pernikahan dua tokoh besar kebudayaan ini dikaruniai tiga orang putra, yaitu Sutan Ahmad Riyadh, Sutan Muhammad Ridha (yang telah berpulang terlebih dahulu) dan Sutan Muhammad Thoriq.

Kombinasi antara darah bangsawan Pagaruyung, ketajaman intelektual sebagai profesor, serta kelembutan rasa sebagai penyair Upita Agustine menjadikan Profesor Raudha Thaib sebagai sosok Bundo Kanduang sejati—tiang tengah rumah gadang yang tidak hanya menjaga warisan tradisi pusaka lama, tetapi juga menuntunnya tetap relevan dan dihormati di era modern.

#wkp/ede





 
Top