Oleh:
Christian Heru Cahyo Saputro


MULA-mula yang terdengar adalah keheningan.


Bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang menunggu sesuatu lahir.


Malam itu, Kamis, 18 Juni 2026, di Maxi Brain Concert Hall, Semarang, penonton baru saja menempuh perjalanan musikal yang panjang. Mereka telah melewati kemegahan Barok Handel, melintasi lorong-lorong tango Astor Piazzolla, menyelami lirisisme Burgmüller, lalu dibuat takjub oleh kecemerlangan Paganini.


Namun rupanya, semua itu baru pembuka.


Kejutan sesungguhnya datang di penghujung konser Echoes of Life.


Judulnya sederhana: Anoman Obong.


Sebuah nama yang begitu akrab bagi telinga Jawa, namun terasa asing ketika ditempatkan dalam program musik kamar yang lazimnya dihuni nama-nama besar Eropa. Di atas panggung hanya ada tiga instrumen: biola, cello, dan gitar klasik.


Tidak ada gamelan.

Tidak ada sinden.

Tidak ada kelir wayang.


Tetapi justru dari keterbatasan itulah keajaiban lahir.


Komposisi karya Ranto Edy Gudel yang diaransemen Bakti Setiaji itu menemukan penampilan perdananya malam itu. Sebuah premiere yang tidak sekadar memperkenalkan karya baru, tetapi juga menawarkan kemungkinan baru: bagaimana kisah pewayangan Nusantara dapat berbicara melalui bahasa musik kamar dunia.


Ketika bow biola Riana Heath mulai bergerak, ruang konser seakan berubah menjadi panggung imajinasi. Cello Asep Hidayat Wirayudha menyambut dengan suara yang dalam dan bergelora. Gitar Bagus Mardian Prakosa menata fondasi harmonik yang kokoh sekaligus puitis.


Ketiganya tidak sedang memainkan notasi.


Mereka sedang menghidupkan tokoh.


Anoman hadir bukan sebagai patung kepahlawanan yang beku. Ia muncul sebagai makhluk yang hidup, bergerak, dan bernapas. Kadang liar, kadang lembut. Kadang meledak seperti api, kadang hening seperti doa.


Dalam tradisi wayang, Anoman adalah panglima kera putih yang membakar Alengka. Tetapi di tangan Ranto Edy Gudel dan Bakti Setiaji, tokoh itu memperoleh dimensi yang lebih luas. Ia bukan hanya simbol keberanian fisik, melainkan juga lambang kesetiaan, keteguhan, dan pengabdian kepada kebenaran.


Itulah yang terasa dalam komposisi ini.


Pada bagian tertentu, biola dan cello berlari cepat dalam frase-frase yang tajam dan agresif. Nada-nada itu seperti percikan api yang menjalar di istana Alengka. Energinya meledak-ledak, liar, hampir tak terkendali.


Di sinilah modernisasi musik Barat beradaptasi menjadi harmoni yang dahsyat: menggambarkan Anoman dengan ekor menyala, lari berkeliling membakar kota musuh dalam kemarahan suci.


Namun sesaat kemudian, musik berubah arah.


Gitar menghadirkan ruang yang tenang. Melodi menjadi lebih liris. Seolah Anoman yang sama kini sedang berdiri seorang diri, memandang jauh ke cakrawala, memikul tugas yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Api di ekornya padam, meninggalkan sisa asap kenangan.


Di titik inilah kekuatan karya tersebut terasa.


Anoman tidak diperlakukan sebagai tokoh hitam-putih. Ia hadir sebagai paradoks. Seorang pejuang yang keras sekaligus lembut. Sosok yang mampu bertarung dengan amarah, tetapi digerakkan oleh cinta dan kesetiaan.


Yang menarik, komposisi ini tidak pernah jatuh pada jebakan eksotisme.


Ia tidak berusaha menjadikan budaya Jawa sebagai ornamen tempelan agar terdengar unik di telinga Barat. Sebaliknya, musik klasik dan pewayangan dipertemukan dalam posisi yang setara.


Dawai-dawai Barat itu tiba-tiba berbicara dengan aksen Jawa.


Dan aksen itu terdengar alami.

Tidak dipaksakan.

Tidak dibuat-buat.


Seperti dua sahabat lama yang akhirnya menemukan bahasa yang sama setelah berabad-abad berpisah.


Di tangan Riana Heath, Asep Hidayat Wirayudha, dan Bagus Mardian Prakosa, komposisi ini menjelma menjadi jembatan antara dua dunia. Musik kamar yang lahir di ruang-ruang aristokrat Eropa mendadak terasa dekat dengan tanah, debu, dan mitologi Nusantara.


Magis. Namun tetap membumi.


Ketika komposisi mendekati akhir, ketiga instrumen seperti menyatu dalam satu napas panjang. Tidak ada lagi biola, cello, atau gitar. Yang tersisa hanyalah suara Anoman itu sendiri—berlari, melompat, bertarung, lalu perlahan menghilang ke balik sejarah.


Nada terakhir pun larut.


Dan sesuatu yang jarang terjadi muncul di ruang konser.


Hening.


Beberapa detik yang terasa panjang.


Tak seorang pun buru-buru bertepuk tangan. Penonton seolah masih tertahan di wilayah antara kenyataan dan imajinasi. Antara Semarang dan Alengka. Antara panggung konser dan dunia pewayangan.


Lalu tepuk tangan meledak.


Panjang.

Hangat.

Tulus.


Malam itu, Anoman Obong bukan sekadar dimainkan.


Ia dihidupkan kembali.


Melompat keluar dari lembar-lembar kisah Ramayana, menari di antara gesekan biola, denting gitar, dan getaran cello. Menyala sesaat di ruang konser, lalu menetap lebih lama dalam ingatan mereka yang hadir.


Barangkali itulah kemenangan terbesar sebuah karya seni.


Ketika pertunjukan telah usai, tetapi apinya tetap menyala. (*)




 
Top