NURSEHA merupakan salah satu penyanyi pop ikonik Indonesia sekaligus srikandi pelopor musik pop Minang modern yang lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1936.

Tokoh berdarah asli Minangkabau yang merupakan putri dari pasangan pengusaha M Noor dan Sabatiar—pemilik usaha Toko Java di Bukittinggi—ini mengawali langkah awal kehidupannya dengan menempuh pendidikan sekolah menengah pertama di Kota Kembang sebelum akhirnya memutuskan merantau ke Jakarta.

Perempuan muda yang cerdas dan serbabisa ini merintis jalan kariernya dari bawah di ibu kota dengan bekerja sebagai seorang wartawan media cetak, sebuah profesi yang mengasah ketajaman wawasannya sebelum ia memperluas bakat komunikasinya menjadi penyiar radio untuk program siaran bahasa Minang di Radio Draba dan Radio P2SC Jakarta.

Titik balik besar dalam garis sejarah hidupnya terjadi ketika ia memutuskan terjun sepenuhnya ke dunia tarik suara dan bergabung dengan Orkes Gumarang, sebuah kelompok musik legendaris pimpinan Asbon Madjid yang kala itu menjadi pelopor utama modernisasi musik tradisi.

Keandalan vokal dengan cengkok khas serta penghayatan liriknya yang mendalam segera menempatkan dirinya sebagai salah satu biduan utama yang paling menonjol di dalam kelompok orkes tersebut.

Di luar urusan rekaman piringan hitam, ia memainkan peran sosiologis yang sangat penting di atas panggung; perpaduan antara paras wajah yang menawan, keanggunan berbusana, dan suara merdu yang dimilikinya selalu sukses memukau ribuan penonton dalam setiap pertunjukan langsung Orkes Gumarang di berbagai daerah.


Melalui lagu-lagu yang dibawakannya, ia bersama Orkes Gumarang berhasil menembus sekat-sekat kedaerahan, sehingga musik berbahasa Minang tidak hanya dinikmati oleh perantau Sumatra Barat saja, melainkan tumbuh menjadi bagian dari identitas musik pop nasional yang digemari lintas suku bangsa.

Ketegasannya dalam mempertahankan profesionalisme di industri hiburan yang kompetitif membuatnya tetap menjadi figur panutan dan salah satu inspirasi terbesar bagi generasi penyanyi daerah selanjutnya di tanah air.

Di tengah popularitasnya yang meluas, ia tetap menunjukkan sisi humanis dengan terus bersahaja dan mendedikasikan suaranya untuk menghibur masyarakat melalui media radio yang telah membesarkan namanya sejak awal karier.

Setelah memberikan kontribusi emas bagi perkembangan sejarah musik Nusantara dan melewati perjalanan hidup yang penuh warna termasuk pernikahan keduanya, sang diva legendaris ini menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 14 Juli 1988 setelah berjuang melawan penyakit lever yang dideritanya.

#wkp/ede





 
Top