BUKU-buku sejarah nasional selama ini dinilai terlalu berpusat di Pulau Jawa (Java-centric). Berangkat dari keresahan itulah, muncul sosok Prof. Dr. Mestika Zed, MA., seorang sejarawan besar Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk meluruskan jalannya sejarah bangsa.
Lahir di Batu Hampar, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada 19 September 1955, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP) ini dikenal berani menyuarakan peran penting Pulau Sumatra yang kerap terpinggirkan dalam catatan sejarah nasional. Hingga akhir hayatnya pada 1 September 2019, ia konsisten menjadi benteng pelestari ingatan bangsa.
Giat Meluruskan Sejarah Terabaikan
Mestika Zed merupakan sedikit dari sejarawan yang aktif meluruskan fakta seputar tiga peristiwa krusial yang berpusat di Sumatera Barat, yaitu:
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)
Giyugun Sumatra (Tentara Sukarela masa Jepang)
Bagi Mestika, peristiwa-peristiwa tersebut sering kali diabaikan atau mendapat porsi yang kurang adil dalam buku pelajaran sekolah. Padahal, tanpa adanya PDRI di Bukittinggi, Republik Indonesia mungkin sudah runtuh saat Agresi Militer Belanda.
Intelektual Lulusan Amsterdam
Ketajaman analisis Mestika Zed ditempa melalui perjalanan akademik yang luar biasa. Memulai pendidikan sejarah di IKIP Padang, ia lalu meraih gelar S1 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1980.
Pakar sejarah ini kemudian terbang ke Belanda dan berhasil meraih gelar Master (MA) serta gelar Doktor (Ph.D) bidang Sejarah dari Vrije Universiteit, Amsterdam. Di luar kampus, ia juga menjadi salah satu pendiri organisasi Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Barat dan Badan Warisan Sumatera Barat demi menyelamatkan bangunan-bangunan tua bersejarah di Kota Padang.
Kiprah internasionalnya pun tak main-main. Pada tahun 2018, Mestika Zed menjadi salah satu promotor utama yang menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada tokoh dunia, Anwar Ibrahim, di kampus UNP.
Meski kini sang profesor telah tiada, seluruh karya buku, artikel, dan semangatnya dalam meluruskan sejarah terus menjadi suluh bagi generasi muda agar tidak melupakan akar perjuangan daerah dalam membangun Indonesia. (Media Nasional)
#wkp/ede


