MENJAGA keutuhan wilayah laut sebuah negara kepulauan terbesar di dunia membutuhkan kecerdasan hukum tingkat tinggi serta ketekunan diplomasi yang dirintis dari bawah
Ketangguhan intelektual itulah yang membekas nyata dalam seluruh perjalanan hidup Prof. Dr. Hasjim Djalal, seorang diplomat senior sekaligus begawan hukum laut internasional kelahiran Ampek Angkek, Agam, pada tanggal 25 Februari 1934.
Ia tumbuh besar sebagai putra asli Sumatera Barat yang membawa misi besar untuk mengharumkan nama Indonesia di panggung hukum dunia.
Langkah awalnya di dunia diplomasi dibentuk secara disiplin melalui pendidikan di Akademi Dinas Luar Negeri sebelum akhirnya ia merantau ke Amerika Serikat.
Di negeri Paman Sam tersebut, ia berhasil mengukir prestasi membanggakan dengan meraih gelar Master of Law dari University of Virginia sekaligus mencatatkan sejarah sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang belajar di universitas bergengsi tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia memulai karier birokrasinya dari tingkat bawah di lingkungan Kementerian Luar Negeri untuk mendalami urusan maritim dan hukum internasional.
Kecerdasannya yang menonjol dalam merumuskan konsep hukum laut membuat karier diplomasinya melesat dengan sangat cemerlang di berbagai posisi strategis.
Ia dipercaya oleh pemerintah untuk memikul tanggung jawab besar sebagai Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada periode tahun 1981 hingga 1983.
Setelah menyelesaikan tugas di PBB, ia langsung bergeser untuk mengemban amanah baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kanada yang ke-10 dari tahun 1983 hingga 1985.
Puncak karier diplomatik strukturalnya tercatat sangat monumental ketika ia dilantik menjadi Duta Besar Indonesia pertama untuk Jerman pada periode tahun 1990 hingga 1993 setelah bersatunya kembali negara tersebut.
Berkat keahliannya yang sangat langka di bidang maritim, ia juga dipercaya memegang peran sebagai duta besar keliling pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan Presiden BJ Habibie.
Di tingkat global, kapasitas kepemimpinannya diakui secara luas oleh negara-negara dunia saat ia terpilih untuk menjabat sebagai Ketua dan Presiden Otoritas Dasar Laut Internasional.
Meskipun secara resmi telah memasuki masa pensiun dari kedinasan pada tahun 1994, dedikasinya terhadap kedaulatan laut Indonesia sama sekali tidak pernah surut.
Ia terus aktif menyumbangkan pemikirannya dengan menulis berbagai buku monumental seperti Indonesian Struggle for the Law of the Sea dan Preventive Diplomacy in Southeast Asia.
Pemerintah pun terus memanfaatkan keahliannya dengan menempatkan dirinya sebagai Anggota Dewan Maritim Indonesia, Penasihat Senior Menteri Kelautan dan Perikanan, hingga Penasihat Kepala Staf TNI Angkatan Laut.
Ilmu dan semangat perjuangannya di dunia diplomasi kini diteruskan dengan sangat baik oleh anak keduanya, Dino Patti Djalal, yang mengikuti jejak langkahnya menjadi diplomat top kebanggaan negara.
Setelah mendedikasikan waktu selama sembilan dekade untuk menjaga kedaulatan wilayah perairan ibu pertiwi, profesor pembela laut Indonesia ini mengembuskan nafas terakhirnya pada hari Minggu, 12 Januari 2025 di Jakarta dalam usia 90 tahun.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa besar jasanya, ia dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Utama Kalibata dengan dihadiri oleh jajaran menteri kabinet serta para duta besar negara sahabat.
Perjalanan hidup dari seorang pemuda Agam yang merintis ilmu dari bawah hingga menjadi penentu batas laut negara ini memberikan pelajaran berharga bahwa keahlian yang ditekuni dengan totalitas akan menjadi benteng pertahanan yang kokoh bagi bangsa.
#wkp/ede

