BAGI generasi yang tumbuh di era 1970-an hingga 1990-an, istilah "Mafia Berkeley" tentu sudah tidak asing lagi. Julukan ini disematkan bukan untuk kelompok kriminal, melainkan bagi sekumpulan teknokrat dan ekonom jenius lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Mereka adalah orang-orang pilihan yang diberi mandat penuh oleh Presiden Soeharto untuk membidani lahirnya modernisasi ekonomi Indonesia.
Di antara deretan nama besar seperti Widjojo Nitisastro atau Ali Wardhana, ada satu sosok yang perannya sangat vital namun kerap bekerja dengan tenang di balik layar. Beliau adalah Prof. Dr. Saleh Afiff.
Saleh Afiff adalah sang maestro perencana pembangunan nasional. Selama tiga dekade, kalkulasi matang dan pemikiran dinginnya menjadi kompas yang mengarahkan ke mana jalannya pembangunan infrastruktur dan ekonomi Indonesia di masa Orde Baru.
Fondasi Akademis Sang Profesor UI
Lahir pada 31 Oktober 1930, Saleh Afiff memulai perjalanan intelektualnya dari dalam negeri. Ia berhasil meraih gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) pada tahun 1959.
Karena kecerdasannya yang menonjol, Saleh termasuk dalam gelombang dosen muda UI yang dikirim ke Amerika Serikat melalui program kerja sama dengan Ford Foundation. Di University of California, Berkeley, ia menimba ilmu ekonomi makro hingga sukses merampungkan gelar Doktoral (Ph.D) pada tahun 1967.
Gelar mentereng dari luar negeri tidak membuat Saleh lupa daratan. Begitu pulang ke Indonesia, ia langsung kembali ke kampus almamaternya untuk mengabdi sebagai dosen di FEB UI, mencetak cetak biru pemikiran bagi calon-calon ekonom masa depan bangsa.
Tiga Dekade Mengomandoi Ekonomi dan Perencanaan Negara
Melihat rekam jejak akademisnya yang luar biasa, Presiden Soeharto tanpa ragu menarik Saleh Afiff ke dalam lingkar utama pemerintahan. Kehadirannya di kabinet langsung memberikan dampak besar melalui tiga jabatan super-strategis di tiga kabinet berbeda:
- Menteri PAN merangkap Wakil Ketua Bappenas (1983–1988): Pada Kabinet Pembangunan IV, Saleh ditugaskan membenahi efisiensi birokrasi aparatur negara. Ia memastikan mesin pemerintahan bekerja dengan ramping dan cepat demi mendukung program pembangunan.
- Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (1988–1993): Naik kelas di Kabinet Pembangunan V, Saleh menjadi nakhoda utama Bappenas. Di sinilah ia meracik Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang legendaris, yang berhasil membawa Indonesia mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
- Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1993–1998): Puncak karier birokrasinya terjadi di Kabinet Pembangunan VI. Sebagai Menko Ekuin, Saleh Afiff bertindak sebagai "panglima tertinggi" yang menjaga stabilitas moneter, fiskal, dan pasar domestik Indonesia menghadapi era globalisasi 90-an.
"Saleh Afiff dikenal sebagai teknokrat sejati. Karakternya tenang, tidak banyak berpolemik di media, namun setiap kebijakan ekonomi yang ia keluarkan selalu didasarkan pada kekuatan data empiris dan prinsip kehati-hatian (prudent) yang ketat."
Warisan Berharga untuk Indonesia Modern
Setelah badai reformasi bergulir pada tahun 1998, Saleh Afiff memilih kembali ke dunia yang paling dicintainya: dunia pendidikan dan literasi ekonomi. Sang begawan perencana pembangunan ini akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada Juni 2005 di usia 74 tahun.
Meskipun era Orde Baru telah lama berlalu, sistem dan cetak biru perencanaan pembangunan nasional yang dirumuskan oleh Saleh Afiff di Bappenas tetap menjadi fondasi berharga. Gaya kepemimpinannya yang bersih, profesional, dan berbasis data menjadi teladan abadi bagi para perancang kebijakan ekonomi Indonesia hingga hari ini.
#wkp/bin


