Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd | Dosen Bidang PPKn Prodi S-2 Pendidikan Dasar-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang
DALAM senyap, belakangan ini, kita menyaksikan bencana karakter yang tak kalah genting dibanding krisis literasi dan numerasi. Di ruang-ruang kelas Sekolah Dasar (SD), anak-anak Indonesia tengah tumbuh tanpa kepedulian sosial yang memadai.
Mereka, anak-anak SD itu, makin piawai menggunakan gawai, namun makin gagap membaca penderitaan temannya sendiri. Siswa kian cerdas secara akademik, tapi malahan membeku ketika diminta berbagi atau peduli.
Ironisnya, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), yang sejatinya dirancang untuk menumbuhkan kesadaran sosial dan nilai kemanusiaan, justru kian kehilangan ruhnya. Ia cenderung diajarkan dengan gaya hapalan, dikemas seperti sejarah beku atau geografi kering, tanpa menyentuh kehidupan konkret siswa.
Pendidikan IPS yang idealnya menjadi arena penanaman empati dan kepedulian, kini menjelma jadi paket soal ujian yang cuma mencari jawaban benar, bukan perilaku baik. Persoalannya, apakah kita hanya sedang memproduksi generasi cerdas yang kehilangan rasa?
Tak Terbantahkan
Indikator krisis ini sudah terpampang jelas. Hasil kajian Indonesia Literacy Foundation menunjukkan hanya 31% siswa SD mempunyai tingkat literasi yang baik. Artinya, mayoritas siswa masih kesulitan memahami teks, apalagi menangkap makna sosial yang tersirat dalam realitas. Literasi yang lemah identik dengan rendahnya kemampuan merespons kondisi sosial, dan itu fondasi dari kepedulian.
Lebih jauh, riset di SMP menunjukkan cuma 38% siswa mempunyai kecerdasan sosial yang layak sebelum mereka mendapatkan pembelajaran IPS berbasis habit forming. Sesudah tiga siklus pembelajaran yang menekankan praktik sosial konkret, angka itu melonjak ke 89%. Fakta ini mengungkap rendahnya kepedulian bukan bawaan anak, namun cerminan dari pembelajaran yang kering nilai dan miskin pengalaman sosial.
Data Kemendikbudristek juga menguatkan: lebih 54% guru SD masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dalam pembelajaran. Ini adalah gaya pendidikan lama yang tak lagi relevan, apalagi untuk membentuk karakter generasi digital yang lebih responsif terhadap visual, pengalaman langsung, dan partisipasi aktif.
Krisis kepedulian sosial ini bukan cuma tanggung jawab anak, namun juga cermin kegagalan sistemik guru dalam mentransformasikan IPS menjadi pembelajaran yang hidup. Kita harus berani mengkritisi satu fakta pahit: mayoritas guru IPS masih menjadikan mata pelajaran ini sebagai ruang hapalan, bukan pembiasaan.
Saat siswa mempelajari ‘kerja sama dalam masyarakat’, mereka diminta menyebut definisinya, bukan melakukannya. Saat materi tentang musibah sosial diajarkan, siswa diminta menyebut jenisnya, bukan merancang aksi solidaritasnya. Maka tak heran, nilai moral tumbuh sebagai slogan, bukan kebiasaan.
Inilah paradoks pendidikan kita: terlalu fokus pada kognisi, namun lupa pada afeksi dan aksi. Dan guru IPS, jika tidak berbenah, akan terus menjadi bagian dari masalah itu.
Butuh Revolusi
Kalau pendidikan ingin menyelamatkan masa depan sosial Indonesia, guru IPS di SD harus menjadi agen perubahan. Bukan sebagai penyampai materi, namun sebagai fasilitator kepedulian. Caranya?
Pertama, ubah kurikulum menjadi kontekstual dan aplikatif. Pelajaran tentang ‘hidup rukun di masyarakat’ harus disertai proyek konkret: kerja bakti di sekolah, kunjungan ke panti, atau gerakan infak mingguan yang melibatkan refleksi siswa. Pengetahuan sosial harus diterjemahkan ke dalam tindakan sosial.
Kedua, tanamkan budaya reflektif. Setiap akhir pekan, minta siswa menulis jurnal: ‘Apa yang sudah saya lakukan minggu ini untuk menolong orang lain?’ Kegiatan sederhana ini akan menjadi cermin pembentuk empati yang berkesinambungan.
Ketiga, libatkan komunitas dan keluarga. Pendidikan kepedulian sosial tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Orang tua harus menjadi mitra aktif dalam membentuk karakter anak. Misalnya, saat ada proyek sosial kelas, libatkan keluarga sebagai penguat aksi.
Keempat, jadikan guru sebagai teladan nyata. Ketika guru ramah pada petugas kebersihan, menengok siswa yang sakit, atau secara aktif mengajak kolaborasi antar kelas, siswa akan meniru. Anak belajar bukan dari kata-kata guru, tapi dari laku guru.
Indonesia Emas
Kita terlalu sering bicara tentang Indonesia Emas 2045 dalam angka dan teknologi. Tapi siapa yang akan menjalankan mesin-mesin canggih itu? Manusia. Dan karakter manusialah yang akan menentukan arah dari kemajuan.
Negara ini tak butuh jutaan orang yang jago coding tapi acuh pada ketidakadilan. Kita tak butuh lulusan terbaik kalau mereka tidak tahu cara berbagi atau menolong. Maka, pendidikan kepedulian sosial bukan pelengkap kurikulum, namun fondasi masa depan bangsa. Dan itu dimulai dari ruang-ruang kelas SD. Hari ini.
Kalau sistem pendidikan dasar tidak berani berubah hari ini, maka 20 tahun lagi kita akan memanen generasi yang tidak salah, namun kehilangan arah. Generasi yang menguasai teknologi, tapi tidak punya hati. Generasi yang cakap akademik, namun abai sosial.
Jangan salahkan anak jika mereka tumbuh cuek. Salahkanlah kita yang mengajar IPS tanpa jiwa sosial. Sudah waktunya guru IPS bangkit. Jadikan pelajaran ini sebagai ruang latihan empati, bukan sekadar hapalan. Karena masa depan Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai kalau kita mulai menumbuhkan generasi yang tidak cuma berpikir kritis, tapi juga berjiwa peduli. Dan itu tugas kita semua.
Padang, 6 Juni 2026
Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah Dosen pascasarjana bidang PPKn Prodi S2 Pendidikan Dasar-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang. S1 PGSD, S1 PPKn FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatra Barat, dengan jabatan fungsional pangkat Lektor-300/Penata Tk. I/III-D.
Mengajar matakuliah ‘Pendidikan Kewarganegaraan’, ‘Pendidikan Pancasila’, ‘Konsep Dasar PKn’, ‘Pembelajaran PKn’, ‘Perspektif Global dan HAM’, ‘Dasar-dasar Ilmu Pendidikan’, ‘Psikologi Pendidikan’ ‘Pendidikan IPS’, ‘Kebunghattaan’, dan ‘Microteaching’ di Prodi PGSD UBH; matakuliah ‘Pemikiran Bung Hatta’ di Prodi S2 Pendidikan Dasar (Pendas) UBH; matakuliah ‘Perspektif Sosio-Kultural dalam Pendidikan Indonesia’, ‘Perancangan dan Pengembangan Kurikulum’, dan ‘Seminar Pendidikan Profesi Guru’ di Prodi PPG UBH; matakuliah ‘Sosiologi’, ‘Pengantar Filsafat’, ‘Pluralisme Budaya & Agama’, ‘Pengantar Antropologi’, ‘Pengembangan Pendidikan Moral’, ‘Ilmu Politik’, ‘Sistem Politik’, ‘Ilmu Negara’, dan ‘Keterampilan Dasar Jurnalistik’ di Prodi PPKn UBH; matakuliah ‘Pendidikan Pancasila’ di Prodi PJKR UBH; matakuliah ‘Konsep Dasar IPS’, ‘Literasi Karakter dan Kepramukaan’ di Prodi PGSD Universitas Terbuka (UT); serta matakuliah ‘Pendidikan Pancasila’ di Prodi Nautika Akademi Maritim Sapta Samudra (AMSS) Padang.
Pernah belajar di beberapa pondok pesantren. Lulusan S1 Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta; lulusan S2 Program Pascasarjana Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas PGRI Yogyakarta (UPY); lulusan Program Studi S3/Doktor Ilmu Pendidikan orientasi IPS Universitas Negeri Padang (UNP).
Penerima penghargaan sebagai penulis artikel yang produktif tentang pendidikan dari Menteri Pendidikan Nasional pada 15 Desember 2009. Juga, penerima piagam penghargaan sebagai dosen yang produktif menulis artikel dari Rektor Universitas Bung Hatta (UBH) Padang pada 24 April 2010. Awardee Doctoral Program atau penerima Beasiswa BPP-DN Kemenristekdikti untuk Studi Doktor/S3 Tahun 2015-2019.
Sudah menulis dan menerbitkan 11 buku teks, 29 artikel ilmiah di berbagai jurnal nasional ber-ISSN (Index Standard Serial Number), 1 makalah di buku prosiding seminar nasional pendidikan ber-ISBN, dan 2 makalah di buku prosiding seminar internasional pendidikan bereputasi/terindeks. Menjadi editor 30 buku teks.


