DEDIKASI tertinggi kepada negara sering kali melampaui sekat-sekat latar belakang demi satu tujuan mulia mempertahankan kedaulatan tanah air.

Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat pada 1 September 1939 ini merupakan seorang purnawirawan perwira tinggi keturunan Tionghoa yang mengukir sejarah besar di tubuh militer Indonesia.

Langkah awal pengabdian Letnan Jenderal (Purn) Kuntara dibentuk melalui gemblengan keras kawah candradimuka hingga berhasil lulus dari Akademi Militer Nasional pada tahun 1963.

Berada di dalam angkatan yang sama dengan tokoh-tokoh besar seperti Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar dan Letjen TNI Sintong Panjaitan, ia menapaki karier dari bawah di kesatuan infanteri.

Tugas-tugas komando awal mulai diembannya saat dipercaya menduduki posisi sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri 733/Masariku pada periode tahun 1974 hingga tahun 1976.

Titik balik yang menguji nyali dan kemampuan taktisnya terjadi pada tahun 1981 ketika ia diterjunkan langsung dalam Operasi Woyla untuk membebaskan para sandera pesawat Garuda Indonesia yang dibajak di Bangkok, Thailand.

Keberhasilan gemilang dalam operasi pembebasan sandera berskala internasional tersebut kian melambungkan reputasinya di lingkungan pasukan khusus baret merah.

Kepercayaan pimpinan militer kepadanya semakin menguat hingga ia dilantik menjadi Wakil Komandan Jenderal Kopassus sebelum akhirnya naik menjadi Komandan Jenderal Kopassus ke-11 pada tahun 1988.


Karier komando lapangannya mencapai puncak tertinggi sewaktu ia resmi ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ke-18 pada tahun 1992.

Selama memimpin Kostrad hingga tahun 1994, ia sukses menjaga kesiapan tempur dan profesionalisme prajurit di bawah naungan komandonya.

Kemampuan diplomasinya yang didukung oleh kefasihan dalam berbahasa Mandarin membawa babak baru dalam hidupnya setelah memutuskan pensiun dari dinas militer aktif pada tahun 1995.

Pemerintah kemudian memercayakan misi diplomatik penting kepadanya dengan menunjuk dirinya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Tiongkok dari tahun 1997 sampai tahun 2001.

Setelah menjalani masa purna bakti yang panjang dan penuh warna, tokoh pejuang ini mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta pada 21 Agustus 2021 dalam usia 81 tahun.

Jasadnya telah dikebumikan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, meninggalkan warisan tentang kesetiaan tanpa batas kepada bangsa dan negara.

#wkp/bin




 
Top