DI TENGAH pelemahan rupiah dan spekulasi reshuffle kabinet, nama Muhammad Chatib Basri kembali mencuat sebagai kandidat kuat pengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ekonom senior lulusan UI dan ANU ini dikenal sebagai “penjaga stabilitas” yang pernah membawa Indonesia melewati krisis. Dari dosen biasa hingga Menteri Keuangan era SBY, perjalanannya membuktikan bahwa kombinasi kecerdasan akademis dan pengalaman praktis sangat dibutuhkan di saat ekonomi Indonesia menghadapi tantangan global.
Muhammad Chatib Basri lahir di Jakarta pada 22 Agustus 1965 dari keluarga Minangkabau asal Rao, Pasaman, Sumatera Barat. Ayahnya, Chairul Basri, adalah kakak sastrawan Asrul Sani, sehingga ia tumbuh dengan latar belakang intelektual yang kuat. Semasa kecil ia sempat aktif di dunia seni dan teater sebelum mendalami ekonomi.
Ia lulus S1 Ekonomi UI pada tahun 1992, kemudian meraih Master of Economic Development pada tahun 1996 dan PhD Ekonomi pada tahun 2001 dari Australian National University (ANU). Kariernya terus menanjak sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Penasehat Menteri Keuangan, Kepala BKPM, Sherpa G20, hingga dipercaya menjabat Menteri Keuangan Republik Indonesia pada periode 2013–2014.
Saat ini, Chatib Basri menjabat Komisaris Utama Bank Mandiri, Presiden Komisaris XL Axiata, anggota Dewan Ekonomi Nasional, serta aktif dalam berbagai forum internasional seperti Pandemic Fund. Kiprahnya menjadikan dirinya salah satu ekonom Indonesia yang memiliki pengaruh kuat baik di tingkat nasional maupun global.
Chatib juga dikenal dekat dengan almarhum Faisal Basri. Keduanya merupakan sahabat dekat, sesama alumnus Universitas Indonesia, dan sering berkolaborasi dalam berbagai kajian ekonomi. Chatib bahkan pernah menyebut Faisal sebagai “Bang Faisal”, sosok yang menjadi lentera perubahan dan selalu berpihak pada demokrasi serta keadilan.
Sebagai ekonom senior Indonesia, Chatib Basri dikenal sebagai sosok pragmatis, bertangan dingin, dan berwawasan luas. Ia mampu menggabungkan pemikiran akademis yang mendalam dengan pendekatan pasar yang ramah (market-friendly) tanpa kehilangan kepekaan terhadap dinamika ekonomi politik.
Gaya kepemimpinannya tenang di tengah krisis, komunikatif, serta mampu menjembatani kepentingan pemerintah, investor, dan akademisi. Keahliannya di bidang makroekonomi, perdagangan internasional, serta reformasi birokrasi membuatnya sering dijadikan rujukan dalam penyusunan kebijakan nasional.
Berbeda dengan sejumlah ekonom yang dikenal frontal dan kritis, Chatib cenderung lebih diplomatis namun tetap solutif. Karakter tersebut membuatnya dihormati baik di lingkungan pemerintahan maupun dunia usaha karena mampu membangun dialog dan mencari titik temu di tengah berbagai kepentingan.
Meski Istana dan Purbaya telah membantah rumor reshuffle, nama Chatib Basri tetap menjadi sorotan karena rekam jejaknya yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi. Pengalaman, jejaring internasional, serta kemampuannya menjaga stabilitas ekonomi membuat namanya terus diperhitungkan dalam berbagai skenario kebijakan nasional.
Menurut Anda, apakah Indonesia saat ini membutuhkan figur seperti Chatib Basri untuk memimpin Kementerian Keuangan? Atau ada ekonom lain yang lebih tepat? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!
Sumber: Democrazy.id, Wikipedia, profil resmi Chatib Basri (Harvard, Bank Mandiri, ANU dan Bisnis.com)


