MUSIK Indonesia pernah melahirkan salah satu talenta paling langka yang hanya muncul sekali dalam satu abad. Ia adalah Elimar, yang dunia kenal dengan nama panggung Elly Kasim. Penyanyi legendaris, budayawan, sekaligus perintis pelestari adat tradisi Minangkabau ini mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 25 Agustus 2021, pukul 03.54 WIB di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta pada usia 76 tahun.
Kepergian sang "Kutilang Minang" meninggalkan warisan tak ternilai: lebih dari 100 album rekaman, sebuah sanggar seni yang mendunia, serta jejak kultural mendalam yang berhasil menyatukan hati pendengar lintas etnis di Nusantara.
Masa Kecil yang Nomaden dan Mekarnya Bakat Sang Biduan
Lahir di Tiku, Tanjung Mutiara, Agam, Sumatra Barat pada 27 September 1944, Elly adalah putri dari pasangan Ali Umar dan Emma Effendy. Garis hidup membawanya tumbuh dalam dinamika keluarga yang berpindah-pindah. Setelah orang tuanya berpisah saat usianya masih tiga bulan, Elly sempat diasuh oleh neneknya, Siti Baheran, seorang guru di Jakarta. Elly kemudian menghabiskan masa sekolah dasarnya di Bukittinggi bersama ibu dan ayah sambungnya, Mohammad Kasim—nama belakang yang kelak abadi menjadi identitas panggungnya.
Bakat seni Elly telah diasah sejak kecil oleh pamannya, Yanuar, yang mahir bermain harmonium. Di usia 15 tahun, Elly memenangkan kompetisi menyanyi di RRI Pekanbaru. Tak hanya bersuara emas, ia juga mahir berdeklamasi, aktif di kelompok sandiwara sekolah, hingga menyabet gelar juara tari tingkat pelajar pada tahun 1958.
Orkes Kumbang Tjari, Bung Karno, dan Era Keemasan Musik Daerah
Karier profesional Elly Kasim memuncak seiring angin buritan politik kebudayaan era Presiden Soekarno di awal tahun 1960-an. Ketika Bung Karno melarang musik Barat "ngak-ngik-ngok", ruang bagi lagu daerah terbuka lebar. Elly yang kala itu diajak pamannya ke Jakarta, berkenalan dengan Nuskan Sjarif, pemimpin Orkes Ganto Rio yang kemudian berganti nama menjadi Kumbang Tjari—sebuah nama yang diusulkan oleh Elly sendiri.
Di bawah bendera Kumbang Tjari, nama Elimar resmi berganti menjadi Elly Kasim. Pada tahun 1961, ia merilis album debutnya dalam bentuk piringan hitam tunggal (single). Musiknya unik: memadukan cengkok serta dialek Minang yang kental dengan permainan gitar elektrik Nuskan Sjarif yang dipengaruhi gaya surf rock ala The Shadows dan ketukan Latin-Karibia.
Puncaknya terjadi pada tahun 1964 melalui lagu legendaris "Bareh Solok" (Beras Solok) dan "Ayam Den Lapeh". Lewat siaran RRI, lagu berbahasa Minang ini diperlakukan sejajar dengan lagu pop nasional. Elly Kasim berhasil mendobrak sekat bahasa; masyarakat di Pulau Jawa hingga Malaysia fasih mendendangkan kelezatan beras Solok dan kisah kehilangan ayam tersebut.
Penyembuh Trauma Kultural Pasca-PRRI
Di luar urusan industri, eksistensi Elly Kasim memiliki dimensi sosiologis yang sangat kuat bagi masyarakat Sumatra Barat. Pengamat musik Agusli Taher dalam bukunya, Perjalanan Panjang Musik Minang Modern (2016), menjuluki Elly sebagai representasi "Bundo Kanduang" (Ibu Adat) dalam dunia seni.
Pasca-peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada akhir 1950-an, masyarakat Minangkabau mengalami krisis identitas dan trauma kultural yang hebat. Banyak orang Minang di perantauan merasa malu dan takut mengakui identitas mereka.
Kehadiran Elly Kasim pada era 1960-an hingga 1980-an dengan lagu-lagunya yang merajai tangga musik nasional berhasil mengembalikan harga diri, gairah, dan kepercayaan diri orang Minangkabau. "Beliau dianugerahi suara yang istimewa. Elly Kasim adalah orang yang dilahirkan hanya satu dalam satu abad. Susah mencari tandingannya," puji budayawan senior Hasril Chaniago.
Diplomasi Budaya Melalui Sangrina Bunda dan Elly Kasim Collection
Elly Kasim adalah seniman yang visioner. Pada tahun 1978, bersama sang suami, Nazif Basir, ia mendirikan Sanggar Tari Nasional (Sangrina Bunda). Melalui sanggar ini, mereka melakukan misi diplomasi budaya dengan membawa kesenian tradisional Indonesia keliling dunia, mengunjungi 118 kota di 35 negara. Pada tahun 2009, sanggar ini berkolaborasi dengan Titiek Puspa mementaskan opera kemanusiaan "Malin Kundang" sebagai bagian dari gerakan Save Our Culture.
Di samping menari, Elly sukses mengibarkan bendera Elly Kasim Collection, sebuah penyedia jasa perencanaan pernikahan (wedding organizer) khusus adat Minang yang ia modernisasi tanpa menghilangkan pakem aslinya.
Sentuhan tangan dingin Elly Kasim menjadi langganan para pejabat negara dan selebritas papan atas Indonesia. Sebut saja pernikahan mutakhir Atta Halilintar & Aurel Hermansyah, Nikita Willy, Panji Trihatmodjo, putri mantan Wapres Jusuf Kalla, hingga upacara malam bainai pasangan Lesti Kejora & Rizky Billar.
Dedikasi Tanpa Batas hingga Akhir Hayat
Keistimewaan lain dari seorang Elly Kasim adalah insting bermusiknya yang magis. Meski tidak mahir menulis notasi lagu, ia kerap merevisi melodi secara spontan di depan mikrofon. Lagu-lagu yang awalnya sempat ditolak oleh musisi lain sering kali berubah menjadi tembang hit setelah sentuhan aransemen vokalnya.
Eksistensinya kokoh melintasi zaman. Pada tahun 2017, di usia 73 tahun, ia sukses menggelar konser tunggal megah bertajuk "Menjulang Bintang, 57 Tahun Elly Kasim Berdendang" di Taman Ismail Marzuki. Bahkan pada tahun 2020, ia berkolaborasi dengan grup musik indie modern Matter Halo dalam lagu "In The Room", sebuah proyek pop lo-fi yang menjembatani generasinya dengan generasi milenial. Penampilan terakhirnya di dunia hiburan tercatat sebagai cameo bundo kanduang yang menyanyikan lagu "Kasiah Tak Sampai" dalam Serial Musikal Nurbaya (2021) di YouTube.
Kini, sang "Penyanyi Seribu Lagu" telah beristirahat dengan damai di Al Azhar Memorial Garden, Karawang. Tubuhnya boleh menghadap Sang Khalik, namun cengkok emas, senyuman hangat, dan semangat bundo kanduang yang dibawanya akan selalu hidup, abadi mengiringi perjalanan kebudayaan Indonesia.
#wkp/ede


