KETANGGUHAN seorang perwira tinggi militer sering kali dibentuk oleh gemblengan keras pasukan khusus dan lingkungan angkatan yang melahirkan para pemimpin besar bangsa. 

Mayor Jenderal (Purn) Tri Tamtomo merupakan representasi sosok tangguh sebagaimana terurai pada paragraf pembuka di atas. 

Pria kelahiran Bogor pada 15 Februari 1951 ini memulai langkah pengabdiannya dengan memasuki Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Magelang pada tahun 1970.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Magelang pada tahun 1974, berada dalam satu angkatan yang sama dengan tokoh besar seperti Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto dan Sjafrie Sjamsoeddin.

Langkah awal kariernya di lapangan dibentuk melalui pengalaman panjang dan mendalam di lingkungan Komando Pasukan Khusus baret merah.

Kecakapan kepemimpinannya di satuan tempur infanteri mulai terlihat jelas saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komandan Batalyon Infanteri 712/Wiratama dari tahun 1989 hingga tahun 1991.

Demi memperluas cakrawala strategi dan manajerial militernya, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada tahun 1992.

Titik balik karier teritorialnya di wilayah krusial terjadi ketika ia ditunjuk memimpin pasukan ibu kota sebagai Komandan Brigif 1/Jaya Sakti pada kurun waktu tahun 1996 hingga tahun 1998.


Keberhasilan menjaga stabilitas di wilayah Jakarta membuatnya kembali dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Komandan Korem 052/Wijayakrama menjelang pergantian milenium.

Puncak karier komando teritorialnya tercapai pada tahun 2004 ketika ia resmi dilantik untuk memegang tongkat komando tertinggi sebagai Panglima Kodam I/Bukit Barisan.

Selama memimpin Kodam I/Bukit Barisan hingga tahun 2005, ia berfokus pada penguatan pertahanan wilayah serta pembinaan teritorial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat bawah.

Setelah menyelesaikan masa jabatan komando lapangan, ia bertransisi ke dunia akademis militer dengan diangkat menjadi Tenaga Ahli Pengajar Bidang Politik dan Kewarganegaraan Lemhannas RI.

Dedikasinya dalam menyalurkan ilmu dan pengalaman strategis kepada calon-calon pemimpin bangsa di Lemhannas terus berlanjut hingga ia memasuki masa purna tugas pada tahun 2008.

Perjalanan panjang dari seorang taruna baret merah hingga menjadi Panglima Kodam membuktikan bahwa disiplin tinggi dan kesetiaan pada tugas adalah kunci utama kehormatan seorang prajurit sejati.

#wkp/bin





 
Top