KISAH kepahlawanan sejati sering kali lahir dari rahim perjuangan keluarga yang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi tegaknya kemerdekaan ibu pertiwi.
Raden Himawan Soetanto yang lahir di Magetan pada 14 September 1929 ini merupakan putra kandung dari tokoh legendaris Peristiwa 10 November 1945, Mayjen TNI Mohamad Mangoendiprodjo.
Langkah awal pengabdiannya dimulai dalam usia yang sangat muda, yaitu 16 tahun, ketika ia langsung bergabung dengan pasukan Sawunggaling untuk bertempur bersama ayahnya di Wonokromo menghadapi tentara Inggris.
Jiwa militernya semakin teruji saat ia menempuh pendidikan sebagai taruna angkatan pertama Akademi Militer Yogyakarta pada tahun 1946 dan ikut serta dalam aksi long march legendaris bersama Divisi Siliwangi.
Karier militernya merangkak dari bawah mulai dari pangkat Letnan Muda, melewati berbagai operasi pembersihan mulai dari penumpasan aksi PKI Madiun hingga menghadapi gerakan DI/TII di Jawa Barat.
Reputasi internasionalnya terbangun kokoh ketika ia dipercaya menjadi Perwira Staf Pasukan Garuda II di Kongo di bawah bendera PBB, serta ditunjuk menjadi Komandan Brigade Selatan di Timur Tengah pada tahun 1963.
Keberanian puncaknya di medan laga teruji saat ia memimpin Batalyon 330/Kujang I menyergap sarang pemberontak Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan pada 6 April 1964.
Melalui inisiatif operasi tersebut, pasukan yang ia pimpin berhasil melumpuhkan kekuatan utama pemberontak hingga ia dianugerahi kenaikan pangkat khusus menjadi Letnan Kolonel langsung oleh Panglima Angkatan Darat, Letjen TNI Ahmad Yani.
Prestasi emasnya di lapangan membawa perwira tinggi Siliwangi ini menduduki posisi-posisi puncak militer strategis, termasuk sebagai Panglima Kostrad ke-8 dan Kepala Staf Umum ABRI.
Namun, titik balik dramatis dalam perjalanan hidupnya terjadi pasca-Pemilihan Umum 1977 ketika terjadi pergolakan mahasiswa yang menolak pencalonan kembali Presiden Soeharto.
Melihat pendudukan militer di kampus ITB, ia memilih untuk mempertahankan idealisme dan menolak menertibkan gerakan demonstrasi mahasiswa tersebut dengan cara kekerasan.
Akibat keengganannya tunduk pada tekanan politik untuk menekan mahasiswa, ia akhirnya dimutasikan dari jalur komando militer dan dikirim menjadi Duta Besar Indonesia untuk Malaysia pada tahun 1984.
Sekembalinya ke tanah air setelah menyelesaikan tugas diplomatik, ia tetap melanjutkan pengabdiannya kepada generasi muda dengan terpilih sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka periode 1993 hingga 1998.
Hingga mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto pada 20 Oktober 2010, perjalanan hidup sang anak pejuang ini menginspirasi kita bahwa pangkat tertinggi seorang prajurit sejati terletak pada kesetiaannya pada hati nurani.
#wkp/bin

