DI BALIK megahnya karya sastra modern, ada sosok yang bekerja dalam senyap untuk memastikan naskah-naskah kuno kita tidak hilang ditelan zaman. Di adalah Dr. Edwar Djamaris. Lahir di Cingkariang, Agam. Dia adalah filolog (ahli naskah lama) terkemuka yang menjadi jembatan bagi kita untuk memahami kearifan lokal melalui tulisan-tulisan masa lalu.

Titik Awal: Ketekunan dari Ranah ke Leiden

Lahir sebagai anak desa di Cingkariang pada tahun 1941, semangat belajar Edwar sangatlah tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Teladan Bukittinggi dan Universitas Gadjah Mada, ia mendapatkan kesempatan langka untuk mendalami ilmu Filologi hingga ke Universitas Leiden, Belanda. Di sana, ia mengasah kemampuan membedah naskah-naskah kuno yang menjadi harta karun sejarah bangsa. Kedisiplinan dan ketekunan beliau membawanya menjadi orang pertama di Pusat Bahasa yang berhasil meraih gelar Doktor, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi korps peneliti Indonesia.

Titik Balik: Memimpin Pelestarian Sastra Asia Tenggara

Momen titik balik dalam kariernya terjadi ketika dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah di Pusat Bahasa pada tahun 1991. Ia tidak hanya meneliti, tetapi juga memimpin proyek besar pembinaan sastra di seluruh Indonesia. Perannya meluas hingga ke tingkat regional saat menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA). Melalui keahliannya, Edwar berhasil membukukan puluhan suntingan teks sastra rakyat Minangkabau dan naskah klasik lainnya, memastikan nilai-nilai budaya kita tetap bisa dibaca oleh generasi hari ini dan masa depan.

Kondisi Saat Ini (Warisan Ilmu)

Meskipun Edwar Djamaris telah berpulang pada Oktober 2012, warisan intelektualnya tetap abadi. Lebih dari 39 buku hasil penelitiannya kini menjadi rujukan utama bagi mahasiswa dan peneliti di berbagai universitas besar seperti UI, Unpad, dan UNJ tempat beliau pernah mengajar. Sosok Edwar Djamaris adalah teladan nyata bagi putra-putri Sumatera Barat bahwa pengabdian pada ilmu pengetahuan adalah jalan sunyi yang membuahkan kehormatan abadi bagi daerah dan bangsa.

Kisah Edwar Djamaris mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membaca dan menghargai naskah-naskah peninggalan leluhurnya.

#wkp/ede







 
Top