AMBIAR Tamala lahir pada 1 Desember 1930 di Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Kini berusia 95 tahun, dia merupakan salah satu diplomat senior Indonesia yang telah menorehkan jejak panjang di dunia internasional.

Dibesarkan di kaki Gunung Talamau yang indah, Ambiar tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan adat Minangkabau dan semangat merantau yang menjadi ciri khas putra daerah. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di sekolah-sekolah lokal di Sumatera Barat pada masa pasca-kemerdekaan, di tengah berbagai keterbatasan namun dengan semangat belajar yang tinggi.

Nilai-nilai disiplin, kecerdasan, kerendahan hati, dan kecintaan terhadap tanah air yang tertanam sejak kecil menjadi fondasi kuat perjalanan hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Ambiar melanjutkan studi ke Pulau Jawa, mengikuti tradisi perantau Minang yang haus ilmu. Ia berhasil melewati seleksi ketat masuk Akademi Dinas Luar Negeri (cikal bakal Sekolah Dinas Luar Negeri/Sekdilu) di bawah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Pendidikan tersebut membekalinya dengan pengetahuan mendalam tentang hubungan internasional, protokol diplomatik, bahasa asing, serta keterampilan negosiasi. Dengan bekal ilmu dan semangat juang yang tak kenal lelah, ia memulai karier sebagai pegawai Kementerian Luar Negeri.

Perjalanan diplomatiknya dimulai dari jabatan awal sebagai staf dan atase, kemudian mencapai penugasan penting pertamanya sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Osaka, Jepang, pada periode 1971–1973. Pengalaman ini menjadi batu loncatan berharga dalam mengasah kemampuan diplomasi ekonomi dan budaya.

Melalui dedikasi, prestasi dan pengalaman bertahun-tahun, ia terus naik jenjang hingga dipercaya menduduki jabatan puncak sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia.

Puncak kariernya ditandai dengan sejumlah penugasan strategis di berbagai negara.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia (1987–1991), menjabat sebagai Dubes ke-9 pada era akhir Perang Dingin.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia (1994–1997), dengan penugasan merangkap untuk Palestina.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko, yang semakin memperkuat rekam jejak diplomatiknya di kawasan Afrika Utara.

Selama lebih dari 25 tahun bertugas di berbagai belahan dunia, meliputi Asia, Eropa dan Afrika Utara, Ambiar Tamala turut menjaga marwah dan kepentingan nasional Indonesia di pentas internasional.

Meski disibukkan dengan tugas negara, beliau tetap menjaga ikatan yang erat dengan kampung halaman. Ambiar Tamala aktif sebagai tokoh sesepuh Ikatan Keluarga Talu (IKT) Jaya di Jakarta.


Pada acara Halal Bihalal IKT tahun 2008, ia berdiri di podium mengenakan pakaian adat Minangkabau sambil menyampaikan sambutan dengan suara terbata-bata penuh haru ketika mengenang “puncak Gunung Talamau”.

Momen tersebut menjadi kenangan mendalam bagi para hadirin. Peristiwa itu menunjukkan bahwa meskipun telah mencapai posisi tinggi di dunia diplomasi, kecintaannya terhadap tanah leluhur tetap terjaga.

Perjalanan hidup Ambiar Tamala menjadi teladan bahwa latar belakang dari sebuah nagari kecil bukanlah penghalang untuk meraih prestasi di tingkat global. Dari bangku sekolah di Pasaman Barat hingga mewakili bangsa di hadapan kepala negara asing, ia membuktikan bahwa kombinasi ilmu pengetahuan, kerja keras, dedikasi, dan kebanggaan terhadap akar budaya dapat membawa seseorang mencapai puncak karier.

Kisah dan dedikasinya terus dikenang sebagai inspirasi bagi generasi muda Talu, Pasaman Barat, dan seluruh putra Minangkabau di mana pun berada.

Ia mengajarkan bahwa sukses merantau bukan hanya tentang jabatan atau pangkat, melainkan juga tentang seberapa besar seseorang tetap berkontribusi dan menjaga nilai-nilai luhur daerah asalnya.

Semangat hidupnya mengajak kita semua: merantau untuk mencari ilmu dan pengalaman, lalu kembali memberi manfaat bagi kampung halaman dan bangsa.

#wkp/berbagai sumber




 
Top