PADANG -- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang resmi memulai tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk Tahun Ajaran 2026/2027.

Namun, ada hal yang sangat berbeda dan menjadi sorotan utama dalam pelaksanaan seleksi masuk sekolah menengah pertama di Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat pada tahun ini.

Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova, mengungkapkan bahwa pihaknya kini menerapkan formula baru yang lebih ketat dan transparan, khususnya untuk jalur prestasi.

Perubahan signifikan tersebut adalah dimasukkannya komponen Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai salah satu instrumen utama penentu kelulusan calon siswa.

Langkah berani ini diambil untuk memastikan bahwa siswa yang diterima melalui jalur prestasi benar-benar memiliki kompetensi akademik yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Penilaian jalur prestasi tahun ini menggunakan komposisi 50 persen nilai rapor dan 50 persen nilai TKA," ujar Yopi Krislova saat ditemui langsung di Padang, Senin (22/6/2026).

Yopi menjelaskan lebih lanjut bahwa untuk mata pelajaran yang diujikan dalam TKA kali ini difokuskan pada dua instrumen dasar, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika.

Sementara itu, untuk sisa porsi 50 persen lainnya yang bersumber dari nilai rapor, tidak diambil secara sembarangan oleh tim seleksi Disdikbud.

Pihaknya menghitung rata-rata dari delapan mata pelajaran secara akumulatif, mulai dari kelas I semester I hingga kelas VI semester I.

Lebih lanjut, Yopi menegaskan bahwa sertifikat prestasi pendukung, baik di bidang akademik maupun non-akademik, juga akan dikurasi secara ketat.

Langkah kurasi menyeluruh ini sengaja diperketat demi menghindari adanya praktik manipulasi data atau pemalsuan sertifikat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Di samping itu, Yopi mengimbau kepada seluruh orang tua murid agar mulai mengikis dan membuang jauh-jauh stigma terkait adanya "sekolah favorit" di Kota Padang.

Menurutnya, berdasarkan data dan hasil evaluasi TKA yang ada, capaian serta kemampuan akademik siswa di berbagai sekolah saat ini sudah relatif merata di seluruh wilayah.

Di sisi lain, Yopi tidak menampik bahwa sempat terjadi kendala teknis pada situs web pendaftaran akibat sinkronisasi data yang kurang pas pada pagi hari.

"Web pagi ini sedang trouble, kita bekerja sama dengan UNP (Universitas Negeri Padang). Troublekarena data yang kurang mix, tapi sekarang sudah bisa diakses kembali," ungkapnya.

Guna mengakomodasi kendala tersebut, Disdikbud Kota Padang resmi mengambil kebijakan untuk memperpanjang masa pendaftaran hingga tanggal 25 Juni 2026 pukul 12.00 WIB.

Sebagai informasi, sebelum pendaftaran utama, Disdikbud juga menggelar tahapan pra-pendaftaran pada 19-23 Juni 2026 di Kantor Disdikbud bagi calon murid luar kota, lulusan Paket A, dan lulusan sebelum tahun 2026.

Dinas Pendidikan Ramai Pendaftar

Sebelumnya, suasana riuh dan padat langsung terasa saat menginjakkan kaki di Posko Pengaduan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang, Senin (22/6/2026) siang sekitar pukul 11.30 WIB.

Puluhan orang tua murid tampak berjubel memenuhi ruangan dan selasar gedung. Berkas map berisi rapor asli, fotokopi ijazah, hingga kartu keluarga tampak erat didekap di dada mereka masing-masing.

Mereka adalah para orang tua yang tengah berjuang mendaftarkan anak-anaknya dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMP untuk jalur pra-pendaftaran.

Berdasarkan papan pengumuman resmi jadwal pelaksanaan SPMB SMP yang terpajang di lokasi, proses pra-pendaftaran fisik ini memang dikhususkan bagi calon peserta didik dari luar Kota Padang, paket A, atau tamatan sebelum tahun 2026.

Pantauan di lapangan menunjukkan, sebagian besar masyarakat yang datang mengantre pada hari itu justru didominasi oleh warga yang berasal dari luar Kota Padang.

Antre demi Masa Depan Anak

Para orang tua ini rela menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman mereka masing-masing demi bisa menyekolahkan sang buah hati di ibu kota Provinsi Sumatera Barat.

Saking ramainya posko pengaduan, antrean panjang tidak dapat dihindarkan. Suasana di dalam posko dipenuhi oleh kesibukan orang tua yang mondar-mandir.

Ada yang sibuk bertanya kepada petugas posko terkait kelengkapan berkas, namun sebagian besar terlihat duduk atau membungkuk di lantai demi mengisi formulir pendaftaran.

Para orang tua ini rela menempuh perjalanan jauh dari kampung halaman mereka masing-masing demi bisa menyekolahkan sang buah hati di ibu kota Provinsi Sumatera Barat.

Saking ramainya posko pengaduan, antrean panjang tidak dapat dihindarkan. Suasana di dalam posko dipenuhi oleh kesibukan orang tua yang mondar-mandir.


Ada yang sibuk bertanya kepada petugas posko terkait kelengkapan berkas, namun sebagian besar terlihat duduk atau membungkuk di lantai demi mengisi formulir pendaftaran.

Sambil memegang pena dan lembaran kertas formulir, Ifes tampak sangat berhati-hati membaca setiap kolom petunjuk yang harus diisi.

Melihat banyaknya kolom dan detail dokumen yang harus dilengkapi, Ifes sempat melempar senyum seloroh kepada sesama orang tua di sebelahnya.

"Ada beberapa formulir yang harus diisi dan kita memang harus ekstra sabar mengisinya. Serasa seperti ikut sekolah lagi saya," ujar Ifes kepada TribunPadang sembari tertawa lepas, Senin (22/6/2026).

Meskipun harus menguras energi dan waktu untuk mengurus administrasi secara manual, Ifes mengaku tidak keberatan asalkan keinginan anaknya tercapai.

Ia pun menaruh harapan besar agar segala jerih payahnya mengurus berkas di tengah keramaian posko ini membuahkan hasil yang manis.

"Semoga anak saya bisa diterima dan nantinya bisa bersekolah dengan baik di Padang ini," tutur Ifes penuh harap.

Takut Salah Isi Formulir

Ketegangan dan kecemasan yang sama juga dirasakan oleh Vivin, salah seorang ibu yang juga mengantre di posko tersebut. Berbeda dengan Ifes, Vivin mengaku datang jauh-jauh dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Demi bisa memasukkan anaknya ke salah satu SMP favorit di Kota Padang, Vivin memilih untuk membaca lembar demi lembar formulir dengan sangat perlahan.

Ia mengaku tidak ingin terburu-buru merampungkan pengisian kertas tersebut karena khawatir ada data yang keliru atau tidak sinkron dengan dokumen aslinya.

"Saya mengisi formulirnya perlahan-lahan saja. Takutnya nanti kalau salah isi, anak saya malah enggak diterima sekolah di sini," ungkap Vivin cemas.

Bagi Vivin, ketelitian adalah kunci utama di tengah situasi posko yang bising dan penuh sesak oleh ratusan pendaftar lain.

Ia menyadari bahwa dirinya harus bisa mengontrol emosi dan tetap tenang agar konsentrasinya tidak buyar selama proses pra-pendaftaran berlangsung.

"Harus lebih teliti dan sabar, maklum sajalah karena banyak juga peserta lainnya yang ikut mengantre di sini," pungkasnya. 

#trb/bin




 
Top