MOHAMMAD Sjafei merupakan Menteri Pengajaran Indonesia ke-3 sekaligus tokoh pergerakan dan maestro pendidikan legendaris yang lahir di Matan, Ketapang, Kalimantan Barat, pada 31 Oktober 1893.
Tokoh keturunan Minangkabau yang merupakan anak angkat dari pasangan pendidik Ibrahim Marah Sutan dan Andung Khalijah ini mengawali langkah awal kehidupannya dengan menempuh pendidikan di Sekolah Melayu Pidie dan Pontianak sebelum akhirnya dikirim untuk belajar di Sekolah Raja (Kweekschool) di Fort de Kock, Bukittinggi.
Pendidik muda yang haus akan ilmu ini merintis jalan kariernya dari bawah sebagai guru di Kartini School Batavia pada tahun 1914 sembari mengasah bakatnya melalui kursus menggambar, lulus ujian bahasa Belanda, serta aktif mendalami pemikiran politik para tokoh Indische Partij dari balik meja diskusinya.
Titik balik besar dalam garis sejarah hidupnya terjadi ketika ia memutuskan berangkat ke Belanda pada tahun 1922 untuk mendalami pendidikan kerajinan tangan, sebuah momentum berharga yang mempertemukannya dengan Mohammad Hatta dan memperkuat keyakinannya bahwa kemerdekaan sejati harus diraih melalui kemandirian pendidikan ekonomi.
Sekembalinya ke ranah Minang, ia mewujudkan gagasan besarnya dengan mendirikan Ruang Pendidik INS Kayutanam di Padang Pariaman pada 31 Oktober 1926, sebuah lembaga pendidikan swasta bercorak khusus yang menolak sistem kolonial penghasil pegawai rendahan.
Sumbangan terbesar dan monumental dari sekolah kerja ciptaannya ini adalah metode pendidikan aktif-kreatif yang memadukan teori dengan praktik keterampilan tangan, sebuah konsep yang digali murni dari filosofi kearifan alam Nusantara untuk membentuk mental manusia merdeka.
Di tengah situasi perjuangan pasca-Proklamasi, ia dipercaya memegang tanggung jawab besar sebagai Residen Sumatra Barat yang pertama, sebelum akhirnya diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Pengajaran dalam Kabinet Sjahrir II pada Maret 1946.
Pada masa-masa mempertahankan kemerdekaan, ia menunjukkan sisi humanis dengan mendirikan Ruang Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Padang Panjang sebagai panggung diplomasi kultural demi meyakinkan dunia internasional bahwa eksistensi kebudayaan Republik Indonesia masih tegak berdiri.
Ketegasannya dalam membela hak-hak daerah dan komitmennya pada dunia literasi juga tercermin saat ia turut membidani lahirnya Sekolah Tinggi Hukum Pancasila di Padang, yang kelak menjadi cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Setelah melewati badai pergolakan politik PRRI yang sempat membuat kampus tercintanya hancur, tokoh yang gigih mengabdi hingga akhir hayatnya demi masa depan anak didik ini wafat di Jakarta pada 5 Maret 1969 dan dimakamkan dengan khidmat di kompleks sekolah INS Kayutanam.
#wkp/bin


