DI TENGAH era di mana banyak pejabat memilih kenyamanan jabatan, muncul sosok seorang pamong yang rela "berusaha semampu mungkin" demi kemajuan kampung halamannya.
Rusdi Lubis, putra terbaik Pasaman Barat, adalah teladan dedikasi birokrat yang tak pernah melupakan akarnya. Dari desa terpencil di Lembah Melintang hingga puncak birokrasi Provinsi Sumatera Barat, perjalanan hidupnya penuh perjuangan, integritas, dan cinta tanah air yang menginspirasi generasi pemimpin daerah.
Rusdi Lubis lahir pada 13 Juli 1945 di Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Ia merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara (Wardiyah, Nirwan, Yusda, Deswati, Bahagia, dan Yulia Putri), lahir dari pasangan Ramli (Buya) dan Umi Kalsum.
Kedua orang tuanya adalah lulusan sekolah agama. Ayahnya menyelesaikan pendidikan hingga kelas tujuh di Normal Islam School Padang (daerah Jati), sementara ibunya tamat dari Sekolah Agama Jamiatun Nisa’ di Ujung Gading. Dibesarkan dalam keluarga yang kuat ilmu agamanya, Rusdi tumbuh dengan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan pengabdian.
Perjalanan kariernya dimulai dari bawah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Bagian Keuangan Pemkab Pasaman pada tahun 1966. Tak lama kemudian, ia dipercaya menjadi Ajudan Bupati Pasaman sekaligus Humas Pemkab pada periode 1967–1968.
Pendidikan formalnya ditempa di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bukittinggi, Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), dan kemudian meraih gelar magister di Universitas Bung Hatta.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjadi Pengajar dan Pembantu Direktur III APDN Bukittinggi (1970–1975), PNS Subdit Pemerintahan Desa Provinsi Sumatera Barat (1977), Sekretaris Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sekretaris Daerah Kabupaten Solok, Kepala Bappeda Kabupaten Solok, Asisten Ketataprajaan Setwilda Sumbar, hingga dipercaya sebagai Pejabat Wali Kota Bukittinggi pada periode 1999–2000.
Puncak pengabdiannya terjadi ketika dipercaya sebagai Asisten Pemerintahan Setdaprov Sumbar (2001–2002) dan kemudian menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat periode 2002–2005 di bawah kepemimpinan Gubernur Zainal Bakar.
Sebagai tokoh kunci dalam proses pemekaran daerah, Rusdi Lubis memiliki peran penting dalam lahirnya Kabupaten Pasaman Barat yang terpisah dari Kabupaten Pasaman induk melalui Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003. Dedikasinya memperjuangkan kepentingan tanah kelahirannya menjadi bukti nyata loyalitas seorang putra daerah yang visioner dan berorientasi pada kemajuan masyarakat.
Setelah memasuki masa pensiun, Rusdi tidak berhenti mengabdi. Ia tetap aktif sebagai Ketua Sekolah Tinggi Administrasi Negara Adabiah, Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Sumatera Barat, tenaga ahli DPRD Sumbar, anggota panitia seleksi jabatan pimpinan tinggi, serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
Di mata banyak orang, Rusdi dikenal sebagai sosok yang rendah hati, suka menolong, dan tidak pernah pelit membagikan pengalaman kepada generasi muda pamong serta calon pemimpin daerah.
Rusdi Lubis wafat pada 27 April 2021 di Padang dalam usia 75 tahun. Ia meninggalkan seorang istri, Hj. Risna Murti, empat orang anak, yakni Rizaldi, Reni Aprina, Rahmadi Putra, dan Rusnoviandi, serta cucu-cucu yang menjadi penerus keluarganya.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Sumatera Barat. Ia dimakamkan dengan penghormatan sebagai pamong senior dan salah satu putra terbaik daerah yang telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Sumatera Barat.
Kisah hidup Rusdi Lubis mengajarkan bahwa kemajuan daerah dimulai dari kesetiaan, kerja keras, dan pengabdian tanpa pamrih. Dari latar belakang sederhana di Ujung Gading hingga menjadi salah satu tokoh penting birokrasi Sumatera Barat, ia membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang tidak pernah melupakan akar dan selalu berjuang untuk kemajuan rakyatnya.
Apa pelajaran terbesar yang Anda ambil dari perjalanan hidup Rusdi Lubis sebagai pamong visioner? Bagaimana dedikasinya dalam memperjuangkan kemajuan Pasaman Barat menginspirasi Anda untuk berkontribusi bagi daerah masing-masing? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar.
#wkp/berbagai sumber


